Pejuang Angkatan 2005

Minggu Pahing, 28 Agustus 2005 @ 7:00 pm Label:

Masih hangat dalam pikiran kita peringatan HUT RI ke 60. Merayakan hari kemerdekaan dengan upacara dan berbagai macam lomba yang meriah dan berhadiah. Berapa banyak orang yang meramaikan? Berapa banyak uang yang telah dikeluarkan? Dan berapa banyak orang yang mencoba merenungi dan memikirkan hikmah perjuangan kakek buyut kita?

Berjuang bukan sekedar memperoleh kemerdekaan, tetapi “… untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa…”, seperti yang terdapat dalam pembukaan UUD 1945.

Salah satu kunci untuk mencerdaskan bangsa adalah PENDIDIKAN. Namun, sudah menjadi rahasia umum bahwa pendidikan di negara kita masih ‘bermasalah’. Dan parahnya, kita hanya bisa mengeluh dan menyalahkan sekolah (sebagai penyelenggara pendidikan) dan pemerintah (yang mengatur kurikulum).

Pejuang Teknologi
Apakah bisa kita berjuang dengan teknologi? kenapa tidak?! Anggap saja pemerintah tidak mempedulikan pendidikan di negeri kita tercinta ini, maka akhirnya, kitalah yang harus memperhatikan dan mengembangkan dunia pendidikan.
Tidak perlu hal yang wah dan mewah. Yang namanya pejuang jaman dulu, berjuang apa adanya. Artinya, semua kemampuan dan harta yang ada dikorbankan demi sebuah ‘perjuangan’.

Saya akan menuliskan pengalaman seorang teman (sebut saja Fulan) yang ‘berjuang’ untuk sekolahnya. Fulan dan kawan-kawan menyumbangkan sebuah komputer Pentium II seharga kurang dari satu juta rupiah untuk diberikan ke perpustakaan sekolah. Program perpustakaannya dibuat sendiri. Meski tidak banyak pengalaman dalam mendevelop sistem, bukan menjadi halangan untuk sekedar ‘berpartisipasi’. Program yang dibuat dalam waktu sekitar 2 minggu, diimplementasikan pada komputer yang berbasis Windows 98 (maaf, kalau yang ini masih bajakan;)). Pihak sekolah menerima dengan senang hati, karena sekolah SD yang kecil dan minim fasilitas itu, pada akhirnya dapat ikut merasakan kemajuan teknologi.

Hmmm… kalau kita mau coba merenungi, bayangkan betapa besar efeknya. Sebuah SD kecil, yang boleh dibilang berada di pelosok, telah menggunakan komputer. Biaya yang dikeluarkan juga tidak terlalu besar, apalagi terdapat aplikasi yang didevelop sendiri dan berikan secara percuma.
Secara ‘tidak sengaja’ juga terjadi proses ‘pendidikan’ atau pengenalan teknologi. Anak-anak SD, langsung maupun tidak langsung, dikenalkan dengan komputer dan manfaatnya. Bisa juga, karena sekedar ketertarikan akan adanya komputer di perpustakaan, dapat meningkatkan jumlah kunjungan ke perpustakaan, dan manfaatnya, minat baca (diharapkan) semakin meningkat.
Bila sebuah SD kecil saja telah memikirkan dan menerapkan teknologi seperti ini, bagaimana dengan SD-SD yang lain, yang lebih ‘maju’ atau yang favorit.

seandainya, Fulan ada disetiap sekolah…
Fulan yang satu menyumbangkan skillnya untuk membangun aplikasi perpustakaan, aplikasi untuk manajemen sekolah, dan aplikasi sederhana lainnya. Fulan yang lainnya, mengumpulkan dana untuk membantu pengadaan komputer ’seadanya’. Fulan yang lain lagi menyumbangkan buku-buku bekas yang menumpuk di rak bukunya. Fulan yang berikutnya, paling tidak, memberikan semangat dan support pada Fulan-Fulan sebelumnya ;)

Jangan menjadi pejuang sesuap nasi, jadilah pejuang lintas generasi. Serbu…!!!

Jangan salahkan sekolah

Kamis Kliwon, 7 Juli 2005 @ 5:00 pm Label:

beberapa hari ini media-media (dan juga masyarakat) banyak membahas masalah Pendidikan terutama terkait dengan banyaknya siswa yang tidak lulus Ujian Nasional.

Hmm… kenapa banyak yang menyalahkan MUTU PENDIDIKANnya??? kalau mutu pendidikan, memang sudah sejak dulu tidak bermutu. Kenapa baru sekarang dipermasalahkan?
Ada juga yang mengkritik, depdiknas sedang bermain (uji coba) kurikulum yang tidak jelas arahnya. Kalau menurut saya, secara konsep, maksud dan tujuan depdiknas itu bagus, tapi sayangnya tidak didukung oleh SDM dari diknas sendiri, dan juga tidak kalah penting, masyarakat. Budaya bangsa Indonesia-kan, selalu mencari kelemahan, kekurangan, mengkritik, menjelek-jelekan pemerintah, tanpa berpikir untuk memberikan solusi.

Memang sih, sebagian sudah ada yang berusaha ber-’solusi’, tapi ya mungkin itu… hanya sekedar melalui omongan, atau tulisan (seperti saya ini). Coba deh, cari solusi murah untuk memperbaiki mutu pendidikan kita, kalau perlu yang tanpa biaya, dan tanpa melibatkan pemerintah khususnya diknas (karena mungkin sebentar lagi akan dilikuidasi D ).

Mendidik anak bukan tanggung jawab sekolah saja. Orang tua, khususnya; dan secara umum adalah masyarakat, media, perusahaan, dan pemerintah, juga berperan penting.

Bagaimana siswa bisa belajar dengan tenang, kalau setiap hari diganggu oleh Bawang Merah Bawang Putih, Senandung Masa Puber, Tersandung =)), atau NFS Underground, Friendster, Ragnarok Online, GTA San Andreas, dan hobi-hobi lainnya yang tidak pernah dikontrol dan mendapatkan perhatian orang tua.
Malahan, banyak orang tua yang mengantar, menyarankan, bahkan memaksa anak-aniknya untuk ikutan jadi Bintang Instan.

Begitulah kita, suka cari yang instan-instan, pengen dapat duit banyak tanpa mau kerja keras, berorientasi materi, dan banyak membayangkan hasil tanpa berusaha memikirkan dan menjalani proses.
***murah kok njaluk slamet!!!!***

Kalau menyalahkan mutu atau sistem pendidikan, menyalahkan pemerintah atau depdiknas, menyalahkan proses penyelenggaraan di sekolah, itu kan sudah biasa, kita sudah bosen mendengarnya.
Sekarang kita coba untuk menyalahkan perusahaan, media, masyarakat, keluarga, orang tua, atau bahkan saya sendiri. Bisa gak ya? kira-kira apakah mereka juga bersalah? ini bukan untuk berprasangka buruk, tapi sebagai bahan ‘analisa’. Kalau memang tidak ada kesalahan, berarti memang sistem pendidikan kitalah yang parah.

Hmmm… gemes aku!!!!!

22 queries. 0,588 seconds. Didukung oleh WordPress

Loading