Jangan berpikir positif

Rabu Wage, 6 Juli 2005 @ 8:31 am Label:

Siapa bilang kita harus berpikir positif? Saya sering mengikuti kata orang dengan ‘rayuan-rayuan mautnya’, melalui sebuah cerita, ceramah, filem, buku, artikel, atau apapun namanya.
Sering memakan mentah-mentah apa kata orang-orang itu, hanya dengan cerita-cerita kesuksesan, keberhasilan, dan janji-janji manis yang disampaikan. Kenapa saya tidak pernah bertanya, kenapa kita harus berpikir positif?

Jawabannya, Jangan terus berpikir positif. Kesuksesan tidak dapat dicapai dengan berpikir positif (saja) ;)
Bayangkan saja kalau membuat program tanpa pernah memikirkan ELSE-nya. Bisa kacau tuh program D . Bagaimanapun juga kita harus mengandalkan cara berpikir negatif.

Berpikir negatif yang positif
berpikir negatif mungkin sama artinya dengan berprasangka buruk, tetapi tidak berprasangka buruk untuk menjelek-jelekkan orang, melainkan sebagai antisipasi dan (terutama) bagian dari analisa. Berpikir negatif diperlukan untuk menyeimbangkan pola pikir kita yang suka dan sering (bahkan terlalu) optimis.

Contoh sederhananya saja; Saya ingin mendirikan warung makan. Kalau tanpa berpikir negatif, yang muncul hanyalah pertanyaan-pertanyaan: berapa modal yang saya perlukan? dimana lokasi yang tepat? berapa biaya sewanya? jam berapa saya harus buka? apakah saya harus mempekerjakan orang, de el el…

bukankah enak bila diawali dengan pertanyaan-pertanyaan;
apakah saya mampu berjualan? bagaimana kalau menu saya tidak enak? apakah saya bisa mendapatkan keuntungan, sedangkan biaya sewanya cukup mahal? ditempat itu kan sudah ada warung makannya juga? apakah jualan nasi itu tidak bikin capek?

hmmm… sekilas berpikir negatif seperti itu membuat kita patah semangat, jadi putus asa. Tapi, coba jawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan berpikir positif. Saya yakin persiapan untuk membuka usaha warung makan akan lebih mantap! Tidak membuat warung karena berpikir positif yang sifatnya coba-coba iseng-iseng adu nasib siapa tahu laris.

Jadi… kenapa tidak berpikir negatif???

Buku itu tidak menambah ilmu

Kamis Legi, 23 Juni 2005 @ 1:15 pm Label:

“Kenapa kita sering gagal? karena kita jarang membaca”

Banyak buku yang kita baca, ternyata tidak banyak menambah ilmu. Tapi, buku-buku tersebut ‘hanya’ menguak potensi-potensi yang ada dalam diri kita, menyatukan dan mengolah ilmu-ilmu yang telah kita ketahui, membangkitkan semangat dan membuka kesadaran kita bahwa sebenarnya kita bisa.
Tidak jarang apa yang dituliskan dalam sebuah buku, pernah kita alami/lakukan, atau seolah-olah, buku itu menceritakan tentang pengalaman kita. Betul, nggak?

Buku membuka mata hati
Demikianlah buku, kalau kita merasa suntuk, kalau kita merasa tidak kreatif, kalau kita tidak bisa semangat dalam belajar, kalau kita tidak bisa bekerja atau berpikir dengan nyaman, banyak-banyaklah membaca buku.
Bukan untuk mempelajari ilmu-ilmu baru, tetapi, sekali lagi, menguak potensi dan kemampuan yang -sebenarnya- ada dalam diri kita.
Jangan terlalu banyak berharap Anda akan mendapat ilmu baru dari membaca buku. Tetapi berharaplah Anda menjadi diri Anda sendiri yang sejati, dengan potensi-potensi ‘baru’ yang bermunculan setelah membaca buku. Jadi, banyak-banyaklah membaca buku.

Membaca dengan bijak
Dari sebuah buku, terkadang kita akan memetik sebuah pelajaran, bahwa ternyata apa yang saya lakukan selama ini benar, atau malah, salah gak karu-karuan sehingga kita sering kacau.

Dan perlu diingat bahwa, tidak semua yang tertulis dalam sebuah buku pasti benar. Buku itu ditulis oleh manusia, dan idealnya, berasal dari pemikiran pribadi si penulis. Yang namanya manusia, pasti ada khilafnya. Jadi kita harus pandai-pandai memilah dan mencerna isi sebuah buku agar, sekali lagi, dapat menguak dan melejitkan potensi kita, tetapi tidak membuat kita tersesat.

Apakah sama sekali tidak ada ilmu baru?
Kalau istilah “ilmu baru”, menurut saya, tidak pernah ada ilmu baru. Semua ilmu telah diciptakan oleh Tuhan sejak dulu. Tinggal bagaimana umatnya dapat menguak dan menggali ilmu-ilmu tersebut.
Yang ada hanya pengetahuan kita tentang sebuah ilmu, yang baru saja kita pelajari di sekolah, baru saja kita diskusikan di warung kopi, atau baru saja kita baca di internet, dan lain sebagainya.

Sampai disini mungkin ada yang mempertanyakan: “bagaimana dengan buku pengetahuan tentang ilmu pasti?”, jawabannya tetap: “buku itu tidak menambah ilmu”.

Mari kita menggali dan melejitkan potensi diri melalui -salah satunya- buku.

Sarjana Komputer jadi Dokter

Selasa Pahing, 14 Juni 2005 @ 12:25 pm Label:

Kalau mahasiswa yang kuliah kedokteran, hukum, ekonomi, fisika, kimia, atau yang lainnya, jadi programmer pun bisa. Itu tidak mustahil dan memang ada.
Tapi apakah mahasiswa jurusan komputer bisa jadi dokter atau pengacara? Bisa-bisa aja…
Kalau masalah gelar itu-kan cuman formalitas, kalau takut nggak bisa ngobatin, wong yang dapat gelar dokter aja masih banyak yang malpraktik. Masalahnya bukan di-gelar, tapi kembali ke personnya.
Lihat saja, sekarang ini tidak sedikit orang yang lebih memilih pengobatan alternatif daripada pergi ke dokter. Menurut saya… mereka-mereka itu juga dokter, dalam pengertian sebagai “orang yang membantu menyembuhkan penyakit”.

Dan sebaliknya, jangan berpuas diri kalau sudah kuliah di jurusan komputer…
ntar dulu… males ngelanjutin tulisannya… ada tamu
wah… sudah lama, sampai lupa mau menuliskan apa.

Tapi intinya, JANGAN MEMBATASI DIRI SENDIRI. Meskipun kita sekolah di jurusan komputer, bukan berarti kita hanya mempelajari komputer saja.

Ibaratnya, jangan menjadi seorang kiai, yang hanya tahu ilmu agama. Lebih baik menjadi seorang ahli komputer tetapi tahu agama (karena beribadah itu kewajiban, bukan tugas kiai semata). Tapi jangan merasa puas kalau sudah menjadi ahli komputer, yang ‘disegani’ banyak orang, apalagi kalau pulang kampung.

Kalau cuman komputer, orang yang gak sekolah komputer pun juga bisa. Mending belajar pemasaran, agar kita dapat menjual skill dan produk dibidang komputer. “Lho… kan gak kuliah di ekonomi/manajemen?” siapa bilang ilmu itu hanya diperoleh di kampus?
Setelah belajar jadi makelar…. apa lagi, ya??? ada aja….

Jangan pernah merasa puas dengan apa (ilmu) yang kamu miliki sekarang. Takutnya, kalau sudah puas, kita merasa berkecukupan dan tidak mau lagi berkembang. Tetapi bersyukur terhadap apa yang telah kita capai saat ini, itu suatu keharusan.

23 queries. 0,239 seconds. Didukung oleh WordPress