
When Q Meet Key
Keyboard adalah mainan paling menarik yang pernah dijumpai Kiyu. Kalau mainan/benda lainnya bisa diambil seenaknya, dimasukkan ke mulut, kemudian dilempar… tidak demikian dengan keyboard. Walhasil, jadi tertantang!
Bukannya karena bapaknya seorang tukang komputer, lalu si anak dipaksakan untuk main komputer, namun, demikianlah adanya.
Dipikir, tombol-tombol keyboard yang cukup banyak, bisa dibuat mainan. Setiap melirik ke keyboard, susah untuk dialihkan perhatiannya. Harus bisa megang, dan kalau bisa, diambil tombol-tombolnya
hmm… bisa-bisa nanti kalau belajar mengenal huruf tidak dimulai dari A-B-C-D-E… dst, tapi: Q-W-E-R-T-Y!
Menangis adalah cara berkomunikasi bayi. Pada umumnya, bayi akan menangis sesaat setelah lahir. Bahkan jika seorang bayi tidak menangis saat lahir, alias tidur, ada yang menepuk-nepuk sampai bangun dan menangis. Saya gak tahu apa maksudnya.
Jika bayi Anda menangis, ada beberapa kemungkinan penyebab atau sesuatu yang ingin disampaikan.
Pertama, bayi menangis karena lapar. Kalau sudah tahu bahwa bayi kita menangis karena lapar, segera bangunkan mamanya. Karena gak mungkin wanita akan menuntut persamaan kewajiban dalam hal menyusui, apalagi ASI Ekslusif. Ya, ASI Ekslusif sebaiknya diberikan kepada bayi selama 6 bulan pertama. Hanya Air Susu Ibu saja yang dikonsumsi bayi. Bukan air susu sapi, apalagi air susu bapak 
baca selengkapnya…
setelah beberapa hari bertarung dengan diare, akhirnya…
kembali ke laaaptop!
Belajar mendengar dan berbicara
“Di Inggris, anak-anak kecil sudah pintar berbicara menggunakan bahasa Inggris…”, anekdot garing yang biasi kita dengar.
Syadan, sepupu saya yang sekarang berusia 4 tahun, pernah mengalami masalah di sekolahnya. Suatu hari, ibu guru TK, menemui Mama yang kebetulan hari itu menjemput Syadan. “Maaf bu, ini putranya?”, tanya bu guru, “mmm… bukan, saya tantenya…”, jawab Mama. “Begini, titip pesan ya… Tolong kami dibantu mengajar anak ini berhitung, karena di sini Syadan susah sekali belajar berhitung”.
Dhuerrr!!! Mama, yang selama ini lebih aktif ‘mendidik’ Syadan daripada ibunya sendiri, seolah tidak percaya kalau Syadan tidak bisa berhitung. Tapi setelah berpikir sejenak, Mama tidak perlu berdebat panjang dengan bu guru, “iya bu… nanti saya ajari…”.
Sebelum disekolahkan ke Taman Kanak-Kanak, Syadan termasuk anak yang aktif dan memiliki perkembangan yang menarik dibanding anak seusianya. Pun, Syadan pernah dibelikan sebuah mainan mirip notebook yang memiliki tombol-tombol yang dapat ‘bersuara’. “One…”, “Two…”, “Three…”, demikianlah beberapa suara yang dikeluarkan mesin kecil itu.
Dan, mainan inilah yang ternyata menjadi masalah (paling tidak bagi bu guru tadi…) baca selengkapnya…