Pas lagi buka-buka arsip foto, nemu gambar yang cukup menarik, COLORFUL. Foto liburan di telaga sarangan waktu tahun baru kemaren.
Foto ini diambil pake kamera HP-607 dengan resolusi aslinya 3MP. Tapi demi menghemat benwit, dikecilin aja. Semoga masih bisa menikmati keindahan warna hasil jepretanku

Hari ini pulang ke Surabaya. Horee… pulang kampung!!! lho… kampungku dimana ya?
Jadwalnya, pesawat berangkat jam 14.10, tapi demi mengantisipasi ketinggalan kereta, eh, pesawat… aku harus berangkat ke bandara lebih awal. Sekitar jam 11.30, setelah mengikuti upacara di Istana Merdeka, aku berangkat dari terminal Kampung Rambutan, naek airport bus. Jam 12.30 nyampe, ngurus check-in, jam 12.50 dah selesai. Mampir ke Musholla sebentar sampe jam 13.15, ah… masih satu jam nih…
Tidak ada hal yang mudah dikerjakan untuk mengisi waktu luang, selain: MEROKOK. Masuk ke smoking area, beli rokok, dan… ngopi. “Rokok Dji Sam Soe sebungkus sama kopi, mbak”, “kopi apa, mas?”, aku sempat ditawari dua pilihan kopi, yang satunya lupa apa namanya, dan aku pilih Cappucino.
“Berapa mbak?”, “38rebu”, wah… untuk kopi secangkir kecil gini mahal amat… biasanya, kalau aku beli kopi dibandara ‘cuman’ 10rebu-an.
Terus terang, baru kali ini aku liat kopi yang ada ‘kayu’nya. Semula tak pikir itu adalah coklat/wafer. Mau tak gigit, tapi setelah tak coba pencet pake tangan, keras banget… wah, daripada malu, dibiarin aja. Kelihatannya, kayu itu sebagai aroma. Dan memang aroma ‘cappucino’nya terasa banget.
Udah ah… gak usah mikirin kopi dan taripnya, dinikmati aja. Sambil… nulis-nulis…
my-real-notebook, cengkareng170805
Siapa bilang Jakarta penuh kemacetan? pagi ini, ‘karena terpaksa’ oleh suatu urusan, aku harus menempuh perjalanan dari Pondok Gede ke Cilandak, naik sepeda motor (yah… inilah pertama kali aku naik sepeda motor di Jakarta.
Sekitar jam 7-an pagi, aku naik sepeda motor dengan kecepatan kura-kura lari, sambil menikmati Jakarta dipagi hari. Ternyata asyik juga. Jalanan lancar dan tidak banyak asap kendaraan. Dari Pondok Gede, lewat Taman Mini, Kampung Rambutan, dan sepanjang pinggiran jalan tol (aku gak tahu nama jalan/tempatnya), semuanya lancar. Ya… lancar… pagi 17 Agustus memang banyak orang yang lebih memilih berada dirumah (kecuali yang terpaksa harus ikut upacara) dan merayakan hari kemerdekaan di lingkungannya masing-masing. Ato pada masih tidur, ya? karena semaleman abis ‘pesta’ kemerdekaan.
Ngomong-ngomong masalah upacara, hari ini, untuk yang pertama kalinya, aku tidak ikut upacara 17-an. Jadi bingung, apa aku harus senang ato sedih. Dari status yang dulu karyawan dan sekarang tangyawan (baca: tangi awan), jadi bebas tuntutans seperti itu.
Tapi sebenarnya, bagiku ada rasa keharuan tersendiri bila berdiri dibarisan upacara 17-an. Ya gimana lagi, gak ada yang maksa untuk ikut upacara… Tapi bukan berarti aku sama sekali tidak ikut upacara, aku mengikuti upacara kemerdekaan di Istana negara lo… lewat TV =))
my-real-notebook, cengkareng170805

Meski bukan cahaya, tapi bersinar
Meski di semak belukar, tapi tampak indah
Meski dengan satu batang, tapi tegak menjulang
Bungaku… merah dan putih…
ada kuningnya dikit, tuh 