Bahasa Visual dan Multimedia

Kamis Pon, 5 Juli 2007 @ 2:38 am Label:

“Susah diungkapkan dengan kata-kata…”, sering kita dengar. Kalau tidak bisa diungkapkan dengan gaya “verbal”, emosi dapat dilampiaskan dengan gaya gerak (berantem, memukul, lari, lonjak-lonjak), musik (bernyanyi, mencipta lagu), atau visual (menggambar).

Merah Putih

Membaca Visual

Menyerap informasi dan menambah pengetahuan, tidak harus melulu melalui buku-buku (khususnya buku-buku ‘gaya lama’).

Saat ini dapat dengan mudah kita temukan buku-buku -bukan hanya buku cerita- yang banyak menampilkan gambar hampir disetiap halaman. Dari sekedar tulisan panjang lebar yang sering membuat kita bosan, kehadiran gambar dalam sebuah buku memberikan kenyamanan yang lebih, dan bahkan, kemampuan untuk memahami isi buku.
lanjut…

Tendangan Pinalti dan UAN

Minggu Kliwon, 2 Juli 2006 @ 11:20 pm Label:

“… and England, as usual, loose pinalty kick”

Demikian kata komentator TV beberapa saat setelah Christian Ronaldo berhasil memasukkan bola pada tendangan pinalti ke-5. Portugal menang dari Inggis dengan skor pinalti 3-1, dan lolos ke Semifinal.

Lalu, apa hubungannya pinalty kick dengan UAN? Keduanya adalah sama-sama sebagai penentu terakhir untuk menentukan kelolosan/kelulusan.

Dalam sistem gugur, hanya ada dua kemungkinan, menang atau kalah. Bila dalam waktu 2×45 menit skor masih berimbang, maka dilanjutkan dengan extra-time selama 2×15 menit. Dan bila dalam waktu tersebut skor masing imbang, penentuan terakhirnya adalah dengan tendangan pinalti.

Demikian juga, setelah 3 tahun mengikuti kegiatan belajar mengajar, siswa harus mengikuti “tendangan pinalti” yang berupa Ujian Akhir Nasional (UAN), untuk menentukan kelulusan.
baca selengkapnya…

Gara-gara Tut Wuri Handayani

Selasa Wage, 2 Mei 2006 @ 12:26 pm Label:

Gunung berapi unjuk gigi. Mayangsari ingin pindah rumah. Wajah Lisa masih “belum jelas”. Wonosobo: markas teroris diserbu, dua orang meninggal dunia. Tuban: Markas bupati diserbu ;), bangunans dibakar. Ulang tahun extravaganza, semua orang menontonya. Ulang tahun buruh sedunia, demo buruh senusantara. Ulang tahun Ki Hajar Dewantoro, ada yang memperingatinya gak ya?

Mungkin sebagian orang beranggapan: buat apa merayakan hari pendidikan? Gak perlu deh, wong hasilnya aja gak jelas! Semboyan pendidikan yang semua orang tahu kata-katanya, tapi belum tahu maknanya, “Tut Wuri Handayani”, adalah penyebab ketidakmajuan pendidikan di republik BBM ini.
Bagaimana tidak, mereka melupakan rangkaian lengkap semboyan tersebut, dan hanya mengaplikasikan “Dibelakang, memberi dukungan”.
Semua orang berlomba-lomba memberi dukungan. Memberi dukungan dengan ngoceh saja ngoceh sini. Tidak ada yang memberi contoh melalui sebuah karya (ing madyo mangun karso sung tulodho). Jadinya, semua cuman bisa omong kosong doang. Buktinya, lebih banyak yang bisa ngomong kosong daripada yang berprestasi. Lebih banyak demo, daripada kejuaraan. Lebih banyak majalah porno, daripada majalah pendidikan!!!
Pandangan yang tidak objektif, ya? biyarin…

Kesibukannya apa mas?

Senin Wage, 28 Nopember 2005 @ 12:18 pm Label:

Besok sabtu, 3 Desember 2005, kampusku menyelenggarakan wisuda. Karena harus menyelesaikan urusan-urusan adminstratif menjelang wisuda, jadi lebih sering mendengar kabar teman-teman lama yang pada akhirnya bisa juga menyelesaikan kuliahnya (kecuali saya ( ).

Ada banyak cerita, terutama masalah pernikahan dan pekerjaan. Ada yang sudah bekerja, meski beberapa orang, pekerjaannya tidak sesuai dengan pendidikan yang telah ditempuhnya. Tapi ada juga yang sedikit menyentuh. Ketika ditanya “kesibukannya apa mas, sekarang?”, jawabnya “aku sekarang sibuk cari kerja!!!”.
Lucu, tapi juga mengharukan.

Sekolah itu bukan untuk mencari pekerjaan
Sekolah, atau mengenyam pendidikan, tujuan utamanya bukan untuk mencari pekerjaan, melainkan mencari ilmu. Akan rugi orang yang mencapai pendidikan tinggi, tetapi tidak mendapatkan ilmunya. Dan jangan salahkan orang yang sudah menyelesaikan sekolahnya, namun bekerja tidak sesuai dengan pendidikannya.

Kalau orang tua “model kuno”, selalu menyarankan “sekolah yang tinggi ya nak… biar dapat pekerjaan enak…”. Akhirnya si anak pun menuruti kemauan orang tua, sekolah sampai jenjang yang paling tinggi. Apapun caranya, yang penting aku mendapatkan gelar agar bisa diterima kerja di perusahaan besar dengan gaji yang tinggi.

Padahal, sebenarnya (atau seharusnya), bekerja itu tidak memerlukan gelar, tetapi ilmu. Ketika kita bekerja di bengkel motor, misalnya, meskipun tidak memiliki gelar Sarjana Perbengkelan, selama mengetahui seluk beluk mesin motor dan belajar untuk bongkar pasang dan perbaikan, tentu kita bisa bekerja. Disini, tanpa gelar pun ternyata bisa, yang penting punya ilmunya.

Mengkombinasikan ilmu
Bagaimana dengan orang yang bekerja tidak sesuai dengan pendidikannya? dalam pelajaran bahasa Indonesia di sekolah dulu, orang semacam ini disebut dengan pengangguran semu.
Tapi tidak ada salahnya kita menjadi pengangguran semu, kalau pendapatan kita bisa lebih gede dari yang bekerja sesuai bidangnya.
Bagusnya pengangguran semu, dan kalau orangnya mau belajar, yang terjadi adalah penggabungan ilmu. Ilmu tentang teknologi informasi, yang dia dapat dari pendidikan formal, misalnya, digabung dengan ilmu perdagangan yang menjadi pekerjaannya sekarang ini (warisan orang tua, misalnya), tentu akan lebih hebat jadinya. Daripada yang menjalankan bisnis perdagangan tapi kurang mengetahui teknologi.

Gelar sebagai titel
Namun, bagaimanapun juga, sedikit banyak gelar masih diperlukan. Demikian kata orang-orang yang pernah menasehati saya. Memang dalam bekerja, ilmu itu yang utama. Tapi, perusahaan atau rekan bisnis, karena tidak tahu banyak siapa kita, tentu cara paling mudahnya melihat diri kita adalah melalui gelar.

Ya… semoga aja mereka tidak melihat dari satu sisi saja. Artinya, ketika mereka cukup mempercayai orang yang bergelar, semoga jangan sampai tertipu dan dirugikan.
Di Jakarta, saya mendengar beberapa kasus dari teman-teman sekolah saya dulu, seseorang lulusan Perguruan Tinggi Negeri yang bonafit, ketika bekerja di perusahaan besar, ternyata kinerja sungguh amat tidak memuaskan. Entah, bagaimana orang seperti ini bisa masuk perusahaan besar. Apakah karena alasan gelar dan almamaternya, atau nepotisme yang tidak tepat.

Susahnya cari kerja
Sibuk cari kerja… ada beberapa alasan kita belum juga mendapatkan pekerjaan. 1; terlalu memilih gaji, 2; gak mau bekerja yang susah-susah, 3; tidak mau bekerja di luar kota, 4; gak ada jenis pekerjaan yang sesuai.

mencari gaji tinggi
Kebanyakan alasan susahnya cari kerja, sebenarnya karena idealisme kita sendiri. Bagaimana bisa mendapat gaji yang besar, kalau kita belum berpengalaman bekerja? Kalau memang benar-benar “fresh-graduate” (semahal apapun biaya kuliah kita), lulusan yang segar, masih murni, belum pernah berpengalaman kerja sama sekali, untuk sementara gaji kecil tidak masalah. Kalau memang Anda orang yang terampil, pasti karir akan cepat naik, bila perusahaan tidak memperhatikan jenjang karir Anda, maka tinggal meloncat sedikit lebih tinggi diperusahaan lain. Kuncinya, kemampuan Anda sendiri dalam bekerja, kemampuan untuk terus belajar dan terus mencari pengalaman (kerja).

ingin bekerja santai?
Mana ada sih pekerjaan yang santai? tukang parkirpun, kelihatannya cukup santai. Tapi kalau seorang tukang parkir yang professional (di vallet parking, misalnya), harus benar-benar terampil dan tangkas. Bekerja sebagai penombok togel pun, tidak bisa dibilang santai. Mereka pasti sering pusing memilih-milih nomor togel yang harus dipasang, dan lebih pusing lagi kalau nomornya gak tembus.
Seberat apapun pekerjaannya, kalau dilandasi dengan niat yang ikhlas dan untuk mencari ridho, pasti akan dijalani dengan tenang dan santai (dalam konteks pikiran).

takut bekerja jauh dari rumah?
alasan ini biasanya karena orang tua yang melarang kita jauh-jauh meninggalkan rumah. Wah… kalau sudah kaya’ gini, ya minta gaji aja sama orang tua.
Tapi kalau ternyata kita sendiri yang berpikiran seperti ini, ya tunggu aja dapat perkerjaan yang enak dengan gaji gede, entah berapa tahun lagi…

gak ada pekerjaan yang sesuai
Seandainya memang benar-benar susah cari lowongan pekerjaan yang sesuai dengan bidang pendidikan kita, bukan alasan untuk tidak bekerja. Kalau memang benar-benar niat mencari pekerjaan, pasti aja ada peluang kerja untuk kita (kalau cerdik mencermati). Paling tidak sebagai batu loncatan ke jenjang berikutnya.
Saya pernah melihat lowongan di koran, ternyata gaji seorang sopir taksi, bisa lebih tinggi dari gaji programmer pemula. Bayangkan!!! sopir taksi yang cuman perlu skill nyetir mobil (dan tentunya dengan etiket kerja yang bagus)… gak perlu susah-susah dan pusing-pusing… hayo…

Buat sendiri lowongan pekerjaan
Jangan pernah melamar, melamar itu cukup satu kali seumur hidup. Yaitu melamar anak orang, hehe… itulah kata salah seorang “guru” saya. Kalau kita bisa membaca peluang, mungkin di’luar sana’ banyak peluang-peluang bisnis yang bisa kita kerjakan dan ditangani sendiri. Syukur-syukur, kalau memang bisa membuat lapangan pekerjaan sendiri, tentunya akan bisa membantu teman-teman kita yang lagi susah cari kerjaan, seperti permasalahan-permasalahan diatas.

Kesalahan bukan pada layar TV Anda

Rabu Pon, 28 September 2005 @ 1:51 pm Label:

Barusan jalan-jalan di perpus, baca-baca buku tentang elementary education. Ternyata, buku-buku tulisan orang Indonesia jaman doeloe (tahun 80-90an), sudah memaparkan konsep pendidikan yang luman bagus dan ideal (lupa judul-judulnya, tapi kalau mau dicari lagi diperpus ada, kok).
Tidak jauh dari konsep KBK (kurikulum ‘04) yang katanya sebagai perubahan (bukan perbaikan, loh… D ) kurikulum, ternyata orang-orang jaman dulu sudah memikirkan hal yang tidak jauh berbeda.

Berulang-ulang kita melakukan perubahan kurikulum (saja), saya yakin, tidak akan pernah bisa memperoleh hasil pembelajaran yang baik, tanpa diimbangi peran serta guru dan sekolah sebagai ujung tombak penyelenggara pendidikan.

Simalakama… sekolah gratis? pendidikan murah? kompensasi BBM? gaji guru?

Mau pintar kok mahal… Tanya Kenapa???

guru adalah PNS, banyak guru bantu yang ingin diangkat jadi PNS, tapi susah. Karena kalah sama calon guru PNS baru yang punya lebih banyak modal. Menjadi PNS adalah investasi yang menggiurkan… dengan modal puluhan juta, nilai investasi tersebut akan dikembalikan dalam bentuk gaji bulanan seumur hidup (pensiun). Tanpa perlu bekerja keras dan berpikir pusing, setiap bulan PNS pasti dapat ‘kucuran dana’. So, kenapa harus pusing-pusing mikirin pendidikan yang bagus, mengevaluasi hasil belajar siswa, menyusun tujuan instruksional, monitoring perkembangan siswa per individu, mencatat nilai kognitif, afektif, dan psikomotorik secara detil, jujur dan benar… KENAPA HARUS REPOT-REPOT MELAKUKAN ITU SEMUA???

maka… pendidikan di Indonesia tidak akan pernah menjadi lebih baik dari sekarang ini.

20 queries. 0,307 seconds. Didukung oleh WordPress