Jika Sholat seperti Bekerja

Sabtu Legi, 10 Desember 2005 @ 5:22 pm Label:

Saat jalan-jalan di toko buku, saya menemukan buku yang berjudul “Jika Bekerja Seperti Sholat”. Buku tersebut membahas bagaimana seseorang (idealnya) mengerjakan tugas/pekerjaannya seperti aturan-aturan yang terdapat dalam sholat.
Bahasan yang menarik, tapi menurut hemat saya, tulisan tersebut mungkin lebih ditujukan kepada orang-orang yang bekerja dengan tidak benar, tetapi mempunyai sholat (paling tidak ilmunya) yang bagus.
Bagaimana dengan seorang pekerja giat? Saya balik dengan “Jika Sholat seperti Bekerja”. Mungkin saya bukan termasuk “workaholic”, tetapi lebih bersemangat kerja daripada sholatnya. Hahaha… ketahuan…

Seorang pekerja keras itu selalu disiplin, tepat waktu, profesional, dan mempunyai rencana dan tujuan yang matang. Pekerja, terutama yang untuk mencari nafkah dan demi memenuhi kebutuhan perut, pasti mendahulukan pekerjaannya daripada hal yang lainnya. Karena kita akan berpikir, “kalau tidak bekerja, saya tidak bisa makan”. Bahkan, sampai lupa makan, lupa anak-istri, lupa kewajiban-kewajiban lainnya. Ah… apa iya sih, seorang pekerja bisa sampai seperti itu?! hehe… itu kemungkinan besar terjadi buat orang wiraswasta yang pendapatannya ditentukan berdasarkan keras tidaknya dia bekerja. Kalau pekerja kantoran sih, bekerja ato tidak, tetep aja dapet gaji D
Tapi, ada juga seorang karyawan yang profesional. Bekerja sesuai dengan tugas dan tanggungjawabnya secara profesional. Mempunyai rencana kerja yang matang. Dedikasi dan loyalitas tinggi kepada perusahaan. Tidak pernah terlambat masuk kantor. Tidak menyalahgunakan jam kerja.

Ah, seandainya sholat saya seperti bekerja… mmm… atau bekerja saya yang harusnya seperti sholat (yang benar)?

Terapi Menulis

Minggu Kliwon, 4 Desember 2005 @ 10:38 pm Label:

Sekitar bulan april yang lalu, saya membeli sebuah buku yang berjudul “Membuat Buku itu Mudah”, karangan om Hernowo, Mizan, 2004. Hampir setiap hari buku ini menemani saya dalam perjalanan muter-muter Jawa hampir satu bulan lamanya.
Masa’ sih, baca buku sampe satu bulan?! gak tau juga… tapi saya merasa enjoy membaca buku ini, meski tidak langsung tuntas.

Setelah selesai (atao belum, ya? saya lupa tuh… tapi yang jelas, ini adalah buku yang paling lusuh yang saya miliki diantara sedikit koleksi buku saya yang kebanyakan rapi-rapi, alias jarang dibaca D ), buku itupun masuk kandang.
Sampai pada hari Minggu kemarin, ketika memasukkan stok buku baru, tanpa sengaja ‘menemukan’ buku ini lagi. Dari sekilas membaca isi bukunya, saya baru sadar, ternyata salah satu motivasi kuat untuk ngeblog seperti ini berasal dari tulisan-tulisan yang ada di buku itu.

Entah kenapa, selama enam bulan lebih saya tidak menyadari bahwa saya sedang dalam masa TERAPI MENULIS. Hernowo menulis, “untuk bisa membuat tulisan yang mengalir, adalah dengan kebiasaan menulis. Lepaskan masalah-masalah kualitas, hilangkan keraguan menulis, segera mulai menulis… setiap hari! apa saja! biarkan mengalir… seandainya suntuk dengan ide, buatlah tulisan macet-macet-macet berkali-kali…”, dan seterusnya.

Tapi kenapa saya bisa tidak menyadari sama sekali. Mungkin, –selain sifat saya yang mudah lupa dengan domain-domain sederhana, seperti nama orang, judul buku, definisi teoritis, syntax pemrograman, dan hal-hal sejenisnya, melainkan cukup dengan memahami makna yang terkandung didalamnya dan kemudian melebur ke dalam otak dan pemahaman saya– ketidaksadaran ini adalah hal yang wajar dimiliki setiap orang. Kita mudah terlena dan lupa tujuan semula, bila apa yang kita kerjakan sekarang terlanjur mengasyikkan.

Sebuah filem thriller terbaik sepanjang masa
baca selengkapnya…

Islam Liberal, kenapa tidak?

Kamis Pahing, 18 Agustus 2005 @ 6:09 am Label:

Pas lagi duduk nyantai-nyantai, ada koran Kompas bekas. Tertarik judulnya aku coba baca, dan… jadi pengen berkomentar soal ini dah. Tulisan ini juga ada di situsnya kompas.


Ahmadiyah, yang baru-baru ini lagi jadi sorotan publik, dan Muhammad Yusman Roy dengan sholat dwi-bahasanya, yang baru saja pudar dari media massa, adalah contoh kecil dari hasil pemikiran liberal.
Untuk menyampaikan ‘ajaran’nya, dibuatlah pembenaran yang sedemikian rupa, sehingga dapat menarik sejumlah massa.

Mungkin, dari kalangan ortodoks, fanatik, dan … yang kontra terhadap pemikiran liberal, sudah menghukum final bahwa ajaran-ajaran tersebut adalah sesat, seperti fatwa yang dikeluarkan MUI.
Tapi bagaimana dengan yang pro-Islam Liberal?

Ajaran yang dhoif
Sumber hukum Islam ada 3, yaitu: Al-Qur’an, Hadits, dan Ijtihad (ijma’ dan qiyash). Al-Qur’an sendiri telah terjaga dan dijamin kebenaran dan keasliannya sampai hari akhir. Sedangkan hadits, sejauh yang saya tahu, belum ada ‘jaminan’nya. Jaminan kebenaran hadits ditentukan melalui sebuah prosedur penilaian, sehingga muncul istilah mulai hadits shahih (sah/benar) sampai hadits dhoif (lemah).
Sedangkan Ijma’ dan qiyash ini yang lebih tidak jelas lagi jaminannya. Sehingga orang awampun berprinsip, “saya mengikuti saja hasil pemikiran para orang-orang yang berilmu (ulama). Toh mereka sebagai pemimpin kan, harus bertanggung jawab terhadap orang-orang yang dipimpinnya?”.

Lalu, bagaimana kita bisa menerima ‘pemikiran liberal?’
Menurut saya, kenapa tidak kita tiru saja sistem untuk menilai hadits (Mustholah hadits). Ajaran yang mungkin terlihat nyleneh bagi kita, bisa jadi ada benarnya. Kita lihat saja siapa perawinya (minjem istilah hadits).
Apakah orang yang menyampaikan ajaran tersebut baik akhlaknya, halus budi pekertinya, dilindungi/terjaga sejak masih kecil, wara’, tekun beribadah, istiqomah, de es te.

Seandainya saya menjadi penyampai ajaran, mungkin saya termasuk yang dhoif D D D

Jangan (hanya bisa) menyalahkan pemikiran liberal
Pemikiran liberal yang terlalu ekstrim, memang bisa menyesatkan. Tapi, kita tidak bisa menyalahkan begitu saja. Kita sendiri, sadar atau tidak, telah mengikuti arus/aliran/ajaran dari orang-orang yang berpikir (dan mungkin, bisa jadi liberal juga ;) )
Ormas Islam yang ada di Indonesia, yang katanya hanya sekedar organisasi masyarakat, juga mempunyai perbedaan (terutama dalam hal) syariat. Belum lagi adanya bermacam-macam ajaran Thoriqoh. Apa ‘ajaran-ajaran’ tersebut tidak liberal?
Apakah semua itu harus dilarang? apakah hanya ajaran saya saja yang paling ‘valid’? apakah saya benar-benar mengikuti ajaran dari satu golongan yang selamat diantara 71 golongan lainnya?
Orang kalau sudah merasa dirinya paling benar… wah…

Ajaran Syeh Siti Jenar
Setahu saya, ada banyak ajaran (yang pada dasarnya) mirip-mirip dengan apa yang (seharusnya) disampaikan oleh Syeh Siti Jenar. Lalu kenapa ajarans itu tidak di’eliminasi’? Kuncinya terletak pada cara penyampaian. Cara penyampaian yang kurang tepat, mengakibatkan ajarannya sesat. Dan orang yang sedang ‘mengaji’ ajaran tersebut pun, seharusnya benar-benar mempunyai landasan yang kuat. Jangan orang yang baru bisa mengucapkan syahadat, lalu menerima ajaran-ajaran tauhid yang aneh-aneh. Bisa sesat juga tuh orang… karena apa yang ingin disampaikan oleh penyampai ajaran (ada yang menyebut, Mursyid) diterima/dipahami dengan tidak benar.


Jangan terlalu fanatik, jangan mudah mengikuti trend, berpikir dengan akal sehat, berserah diri kepada-Nya. Audzubillahiminasy syaithoonirrajiem

Legalkan Togel dan Las Vegas Indonesia!!!

Sabtu Kliwon, 6 Agustus 2005 @ 10:00 pm Label:

Cukup lama, togel alternatif berada di peringkat pertama dari daftar “halaman yang sering dikunjungi”. Itu berarti, masih banyak orang yang care dengan togel, masih banyak orang yang suka bermimpi, masih banyak orang yang nggak berpikir, masih banyak orang yang nggak ‘belajar’.

Sebenarnya, kalau dipikir-pikir, memang sebaiknya togel itu dilegalkan saja!!! yaa… TOGEL TIDAK DILARANG!!! JUDI BOLEH SAJA!!! AKAN DIBUKA KASINO RESMI!!!

Meski pak Sutanto lagi gencar-gencarnya mengumandangkan gerakan ‘berantas perjudian’… ya, saya pribadi turut optimis saja, tapi tidak dengan pemikiran saya. Kenapa???

saya tidak memihak para tukang judi, polisi/pemerintah, atau ‘meng-atasnama-kan agama’. Saya coba berpikir rasional saja. Yang jelas, SEBAIKNYA DIBUAT LAS VEGAS INDONESIA! alasan-alasan harus segera dibuat Las Vegas di Indonesia adalah:

Yang pertama, sifat berjudi sudah mendarah daging dalam setiap diri manusia. Basically, karena banyak yang menganggap bahwa hidup itu juga berjudi. Misalnya, saat kita akan berpergian, disitu kita telah berjudi. “Selamat atau tidak dalam perjalanan nanti… yang penting saya harus berani berangkat! apapun resikonya.”, “Sekolah adalah judi. Lulus atau tidak, yang penting terus masuk sekolah.”, “Berdagang juga harus berani rugi, dan lebih banyak untung-untungannya, tergantung nasib.”
Itulah sebagian kata-kata orang yang mempunyai iman ‘judi’.

Kedua, jaringan mafia pemilik bisnis perjudian cukup kuat. Setiap ‘kasino’, baik yang tradisional (kelas tukang becak) sampai yang eksklusif, pasti ada ‘beking’nya. Kalaupun belum ada, pasti akan didatangi ‘orang-orang’ tertentu, untuk menawarkan diri menjadi beking, atau kalau tidak mau… pasti digerebek dan masuk TV =))
nah… daripada tuh duit diberikan kepada para ‘beking’, yang notabene cuman demi kekenyangan perutnya sendiri… kenapa gak masuk ke kantong pemerintah saja (sebagai PAJAK PERJUDIAN… kan asyik).

Ketimpangan legalitas judi. seperti yang sudah saya tuliskan dalam Togel Alternatif, sebenarnya pemerintah telah melegalkan beberapa bentuk perjudian. Bukankah sebagian besar dari ‘permainan’ SMS premium itu juga boleh dibilang judi? bayangkan… cukup tombok Rp 2.000,- dan menulis DOSA_spasi_A lalu, hatinya deg-degan menanti undian yang berhadiah jutaan rupiah.

Demo anti judi yang di dompleng,
Sebenarnya orang demo itu berarti iri. Tahu sama tahulah… siapa orang yang dibalik pendemo-pendemo itu?! Kalau misalkan pemerintah berani melegalkan judi, PASTI (!!!) akan ada demo. Dan yang paling mudah ditebak, alasan demonya adalah JUDI ITU HARAM, tidak ada alasan lain lagi. “Pemerintah yang melegalkan kasino, berarti memelihara dosa.”.
Ada juga yang bilang… “biar saja mereka yang pendosa, terjerumus dalam lembah setan… mari kita selamatkan diri masing-masing”, <– bukankah ini ungkapan yang egois? selain tidak mau mengingatkan orang-orang yang terjerumus, juga apakah kamu (orang yang ngomong) itu bukan pendosa, bisa saja kamu bukan penjudi, tapi korup! fitnah!! tidak menjalankan amanah!!! dan sebagainya.

Bisa saja loh, provokator demo-demo seperti itu adalah para ‘beking’ yang merasa ‘mata-pencaharian’nya bisa hilang kalau memang judi dilegalkan, tentunya dengan cara yang mudah, menggerakkan massa dengan memanfaatkan dalih agama.

Politik/bisnis yang memanfaatkan agama,
FPI yang terkenal garang-pun, menurut saya, tidak ada prestasi yang membanggakan dalam memberantas perjudian. Organisasi masyarakat bidang demonstrasi dengan kekerasan ini bisa jadi hanya sebagai alat dari ‘pemain-pemain’ tingkat atas.
Kalau memang apa yang saya tuliskan diatas tidak benar, kenapa sampai sekarang masih banyak tempat judi yang selamat? Kelompok mana yang berani berantas perjudian?

Masih mending pak Sutanto D dari gebrakkannya begitu diangkat menjadi KAPOLRI, banyak berita di media massa tentang kinerja Polri yang cukup bagus dalam memberantas perjudian. Hehehe… coba hitung aja, mulai kapan program ini berjalan… dan tunggu sampai kapan pemberitaan media massa tentang hal ini akan berhenti. Tapi, hitung jumlah tempat perjudian yang masih berjalan mulus… berapa prosentasenya?

Saya yakin, banyak anggota Polri yang melakukan pemberantasan judi dengan SETENGAH HATI. Mereka membakar sawah ladangnya sendiri. hahaha…

Jadi… daripada cuman berpura-pura membuat sandiwara untuk masyarakat bodoh seperti saya ini yang tidak tahu apa-apa… kenapa tidak dilegalkan saja bentuk-bentuk perjudian. Tentunya dengan aturan yang ketat. Misalkan lokasi yang ditempatkan secara khusus, aturan main, batasan usia, syarat-syaratnya, dan sebagainya.

Pemerintah makan buah SIMALAKAMA
Yang menurut saya perlu di kasihani adalah pemerintah (dengan catatan, bahwa pemerintah disini adalah lembaga pemerintahan yang ideal, yang mengelola pemerintahan dengan benar). Sebenarnya ingin melegalkan judi karena tahu bahwa disitu terdapat pos pajak yang cukup potensial, tetapi takut didemo oleh sebagian kecil masyarakat yang sebenarnya bukan masyarakat.

Sekali lagi, daripada masyarakat melakukan demo setelah (misalnya) judi itu dilegalkan, kenapa tidak didemo sekarang saja. Dalam bentuk memberantas segala bentuk perjudian, kalau perlu, menggunakan kekerasan. Tapi kalau sekarang tidak mau… ya udah… jangan salahkan pemerintah bila melegalkan perjudian.

Jangan Salahkan Setan

Rabu Pahing, 3 Agustus 2005 @ 7:28 am Label:

Kasihan Syaitan… sering kali setan terkena fitnah dari manusia. Setiap manusia melakukan khilaf, selalu menyalahkan setan. “Saya digoda setan”, atau “saya dibujuk setan”, kenapa kok tidak ngomong “Saya memang setan!!!”
Pernahkah Anda mendengar bisikan syaitan? kalau boleh tahu, bagaimana bisikannya?

Setiap manusia mempunyai ’setan’ sesuai dengan levelnya masing-masing. Orang miskin, orang kaya, orang yang ‘berpikir’, orang yang diam, orang yang berilmu, bahkan sampai orang yang (katanya) telah mencapai level ma’rifat.

Setannya orang miskin
“Saya sudah berusaha beribadah dengan benar, meskipun sesekali khilaf, wajarkan… namanya saja manusia.
saya telah bekerja keras. Tetapi kenapa rejeki yang saya peroleh hanya segini-gini saja? Kenapa Tuhan tidak mendengarkan doa-doa saya? katanya Tuhan Maha Adil, kenapa mereka yang tidak pernah beribadah bisa menjadi orang yang sukses???!!!”

Setannya orang kaya
“Kekayaan yang saya peroleh ini adalah hasil kerja keras saya. Saya membangun usaha dan bekerja mulai dari nol sampai bisa sukses seperti ini. Tidak ada orang lain yang membantu saya.
Maka wajar kan, kalau saya menikmati hasil kerja keras ini. Kalau kamu pengen bisa hidup enak seperti saya sekarang ini, ya kerja keras dong… jangan lupa juga berdoa!!!”

Setannya orang berilmu
“Saya belajar bertahun-tahun tentang agama. Saya lebih mengerti agama daripada orang-orang itu. Kenapa saya harus mendengarkan kata mereka? bukankah saya lebih tahu? bukankah saya lebih sering beribadah di masjid dan menjadi imam mereka?
Seharusnya mereka mengikuti apa kata saya, karena saya pasti lebih benar daripada mereka. Saya tidak perlu menghormati orang-orang itu karena saya mempunyai dalil-dalilnya… bla… bla…”

Sebenarnya, apa sih tujuan hidup manusia itu?

Setan lebih baik dari manusia
Orang yang selalu menyalahkan syaitan, berarti orang yang sombong. Dia tidak mau introspeksi diri, tidak pernah berpikir (dan untuk menjawab) “kenapa kok saya bisa khilaf?”.
Mungkinkah ini karma? Karena sebenarnya, Iblis (sebagai mbah-mbahane syaitan), adalah salah satu mahkluk Allah yang patuh dan taat beribadah, sampai pada akhirnya ‘dikutuk’ untuk kekal di dalam api neraka, hanya karena satu sifat, SOMBONG. Iblis tidak mau bersujud kepada manusia karena merasa dirinya lebih mulia dibanding manusia.

Saya belum tahu, apakah ada surat atau hadits yang menceritakan bahwa syaitan itu memiliki sifat serakah, kikir, korupsi, madon, madat, main, maling, mendem, dan penyakit-penyakit manusia lainnya.

ah… just an idea…

21 queries. 0,278 seconds. Didukung oleh WordPress