Sampah Informasi

Selasa Pahing, 19 Januari 2010 @ 7:02 am Label:

Sekarang sampah, dulu pernah menjadi barang baru Baru saja menjawab komentar di facebook melalui email. Kemarin juga coba balas message di basecamphq, cukup melalui email. Dan ternyata, ada client yang minta fitur untuk merekam korespondensi melalui email dan diolah untuk keperluan tertentu.

Jaman dahulu kala (a.k.a. web 1.0), email menjadi sarana komunikasi di internet yang paling ampuh. Karena halaman web hanya berisi konten statis. Atau, Forum, untuk berkomunikasi/interaksi melalui halaman web.

Tidak lama kemudian, muncul blog, dan kawan-kawan seangkatannya (web 2.0). Pola interaksi menjadi berubah. Di blog, ‘korespondensi’ dilakukan melalui form komentar, yang karakternya, biasanya, hanya satu arah. Dari pembaca untuk penulis.
Baru saja blog mulai populer, muncullah Twitter, yang dulu sering disebut sebagai micro blogging. Dan diwaktu yang hampir bersamaan, ada Facebook. Kedua ’situs’ ini, menurut saya, yang paling populer diantara situs lain (pada kategorinya masing-masing).

Nah, pola interaksi-pun berubah. Semakin interaktif. Tidak hanya dari pembaca untuk penulis (dan sebaliknya), tetapi juga untuk orang-lain atau teman-temannya.
Seorang teman bisa mengetahui sebuah bacaan/berita secara ostosmastis tanpa perlu diberitahu secara langsung dari teman lainnya.

Aplikasi web memang semakin canggih. Cukup melalui satu halaman web - ‘beranda’-, kita bisa mendapatkan arus berita dari mana saja. Tentunya dengan membangun jaringan terlebih dahulu.

Dengan menulis sebuah komentar, atau melakukan reTweet, secara tidak sengaja kita telah berbagi informasi dengan teman.

Arus berita menjadi tak terbendung… keyword: stream

Di mana ujungnya?

Kalau kita misalkan arus informasi yang ada diinternet seperti banjir bandang (lihat saja berapa banyak update status per-detik/menit, plus tanggapan atas ’status’ tersebut), kira-kira kemana luberan informasi tersebut akan menuju?

Seperti air yang berujung ke laut… informasi akan menjadi ’sampah’, tak berguna (kalau tidak dimanfaatkan).

Email?
Menurut saya, tebak-tebakan saja: ‘manusia modern’ yang ‘lahir’ di abad web 2.0, lebih sering nge-cek tweet atau fb-nya daripada email.

Namun, di tengah derasnya arus informasi ala web 2.0, ternyata masih ada juga ‘manusia purba’ yang tidak ikut ber-evolusi. Email tetap menjadi satu-satunya media untuk berkorespondensi.

Jadi, aliran informasi akan tetap mengalir ke ‘laut’, namun sebagian akan mampir ke email, SMS, atau di ‘beranda’ itu sendiri.

Dan akan tetap menjadi SAMPAH jika email nggak kebaca, sms ngga nyampe, terakhir nge-cek status seminggu yang lalu, dsb….

Memanfaatkan SAMPAH

Di sungai dekat rumah saya, banyak tanaman enceng gondok memenuhi, bahkan membuat air sungai menjadi tidak terlihat sama sekali, sampai beberapa ratus meter panjangnya. Ada yang bilang ‘menganggu’, ‘bikin kotor’, ‘bikin macet’ :D, dsb.

Di tempat lain, ada orang berkarya membuat kerajinan dari enceng gondok yang laku dijual puluhan -bahkan ratusan ribu rupiah.

Nah, jika arus informasi di internet adalah enceng gondok, apa yang akan Anda lakukan?

Post yang berhubungan:

  • No Related Post

2 Komentars »

  1. I am looking for ‘mbro’. He put forward a project for ’surfer girl’ on scriptlance. I am looking to contact him. glen@glencarlson.org
    thx

    Komentar oleh Glen — Februari 2, 2010 @ 1:41 pm

  2. manteb mas tulisan2nya…

    salam kenal,

    Komentar oleh blognya pns — Maret 3, 2010 @ 9:37 am

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URL Lacak Balik

Tinggalkan komentar

27 queries. 0,616 seconds. Didukung oleh WordPress

Loading