JkDefrag
Kita sudah sering kali mendengar kata defragment, tapi seberapa jauh kita mengerti gunanya? Anggap saja kita mau membaca sebuah buku di perpustakaan, halaman pertama dari buku tersebut ada di lantai 1, sedangkan halaman kedua ada di lantai 2. Sekalipun dari daftar isi disebutkan letak setiap halaman, akan sangat melelahkan untuk membaca sebuah buku. Dalam contoh ini buku tersebut ter-fragmentasi. Dalam komputer kita keadaannya juga seperti perpustakaan tersebut, bisa jadi sebuah file terpecah-pecah di dalam harddisk sehingga membutuhkan sumber daya(waktu, cpu, dll) lebih besar. Untuk mengatasinya dibutuhkan aplikasi defragmenter, dengan tujuan utama mengembalikan file-file tersebut menjadi satu kesatuan utuh.
Selain defragment, dalam aplikasi defrag pada umumnya ada istilah optimasi. Sekalipun setiap buku tidak terpecah-pecah, kita akan kesulitan membaca serangkaian buku bilamana buku-buku tersebut tidak diletakkan pada raknya masing-masing. Pengurutan berdasarkan alphabet meupakan salah satu bentuk optimasi. Bentuk optimasi lainnya: meletakkan buku yang sering dibaca dekat dengan pintu, seperti letak surat kabar di perpustakaan pada umumnya. Optimasi bisa jadi bermacam-macam bentuk, dengan tujuan yang sama: mempermudah pengunjung perpustakaan.
Kita tidak bisa mengetahui bagaimana algoritma sebuah aplikasi defrag yang closed source, seperti pada aplikasi defragment bawaan Jendela, produksi Mikocok(meminjam istilah dari mbro). Akan tetapi kita bisa mengetahui bagaimana aplikasi open source mencapai tujuan yang sama(atau lebih). Ilustrasi perpustakaan diatas adalah ilustrasi yang dimodifikasi dari halaman dokumentasi JkDefrag.
Installasi JkDefrag cukup mudah, tinggal extract ke %windir% direktori (misal: C:\WINDOWS). Jangan lupa gunakan versi 64 untuk yang menggunakan 64 bit. Akan tetapi seperti kebanyakan software open source lainnya, JkDefrag membutuhkan pengertian dari pengguna sebelum menggunakannya. Secara default aplikasi ini hanya akan mendefragmentasi file, kemudian optimasi dengan solusi tercepat. Akan tetapi JkDefrag mempunyai beberapa mode untuk hasil maksimal, diantaranya adalah:
- sorting berdasarkan nama file (dan direktori)
- sorting berdasarkan waktu
- sorting berdasarkan last access
- memadatkan di bagian depan/belakang partisi
Semua sorting itu justru akan membuat file menjadi terpecah, akan tetapi perlu dalam beberapa kasus. Pada umumnya sang programmer menyarankan sorting berdasarkan nama sekali pada pertama kali penggunaan, kemudian selanjutnya menggunakan mode optimasi default. Memadatkan partisi ke depan/belakang digunakan apabila kita akan mengubah ukuran partisi. Coba saja dulu mode standar dengan menjalankan JkDefrag.exe dan bandingkan kecepatannya dengan aplikasi bawaan Mikocok.
Tips dari saya pribadi, untuk hasil maksimal pertama kali gunakan sorting berdasar nama pada windows safe mode, kemudian dilanjutkan dengan operasi default. Karena waktunya cukup lama untuk mengurutkan file pertama kali, sebaiknya membuat batch file seperti ini:
rem sorting berdasar nama
JkDefragCmd.exe -a 7
rem operasi standar
JkDefragCmd.exe
rem matikan komputer jika selesai
shutdown.exe /s /t 10
pada saat windows booting, tekan [F8] untuk berpindah ke safe mode. Kemudian jalankan batch file diatas, dan bisa ditinggal tidur. Perlunya safe mode adalah kita bisa meminimalisir file yang di-lock oleh aplikasi lain. Dalam batch file diatas menggunakan JkDefragCmd.exe, bukannya JkDefrag.exe untuk mempercepat proses karena tanpa grafis.
Karena JkDefrag dirancang untuk bisa beroperasi di background, maka menggunakannya dalam scheduler setiap windows startup cukup aman. Jangan lupa menggunakan parameter -s (slowdown, misal -s 25) apabila berniat menggunakannya sebagai background process. Alternatifnya, kita bisa menggunakan versi screen saver sehingga hanya akan berjalan saat komputer idle.
Merasa kurang ini-itu? Warna tidak menarik? Atau ingin menu segala macam? Download source, utak-atik sesuai keinginan
Dan pesan terakhir… Jangan lupa membaca dokumentasi.
Referensi:




ini kampanye?
JK defrag for Win?
Komentar oleh mbro — Juni 12, 2009 @ 1:46 pm
iya, kalau ada open source bagus kenapa gak dipakai?
Komentar oleh HiNA — Juni 16, 2009 @ 1:04 am