Aku gak familier Linux

Kamis Legi, 24 Januari 2008 @ 11:40 pm Label:

Linux“yowis… garapen ae. Aku gak familier Linux :(” demikian satu kalimat yang saya tuliskan untuk teman rumpi saya malu aku…

Sebenarnya, pekerjaan yang dimaksud dalam percakapan tersebut adalah pekerjaan sederhana. Melakukan kompresi direktori di salah satu peladen web hosting, trus ditransfer di hosting lainnya. Tools yang disediakan cuman SSH (padahal, jarang-jarang hosting di Indonesia support SSH :( ).

yaH… gimana lagi. Belajar tanpa batasnya mbelgedes… cuman sistem operasi Linux sederhana aja ngga bisa.

Hmm, belajar… belajar… belajar… (niru gayanya Hetty Koes Endang di mamamia super seleb).

Mungkinkah Linux menggantikan Windows?

Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, Linux berkembang dengan kurang pesat hingga saat ini. Apakah Linux dapat mengikuti sejarah Firefox yang mulai menandingi Internet Explorer di statistik log kunjungan paling tidak di blog ini?

Kok mbandinginnya dengan cerita Firefox vs IE? yaH… mungkin kurang relevan, tapi paling tidak menunjukkan salah satu success story tentang tergusurnya produk Mikocok.

Jangan bandingan dengan cerita sukses di luar negeri, karena ceritanya pasti beda. Yang saya bahas disini adalah bagaimana Linux dapat menggantikan Windows di Indonesia.

Selama budaya bajak membajak yang juga saya lakukan masih dipelihara, Windows menjadi lirikan yang menarik untuk digunakan. Saya pernah mencoba Ubuntu, bahkan order langsung dari ubuntu.com, dua kali pula… yang terakhir tidak saya ambil di kantor pos.
Ubuntu yang terkenal paling plug-and-play, masih belum dapat saya gunakan dengan lancar gara-gara screen sizenya yang gak bisa di gede-in. Setelah saya cari sono-sini on-the-net, ternyata memang chipset VGA saya yang murahan tidak ada drivernya :((

Cara mempopulerkan Linux di Indonesia

p2.jpgMasa-masa sekarang ini adalah fase kritis pertumbuhan pengguna komputer (bukan internet) di Indonesia. Hampir setiap sekolah sudah dipasang komputer, paling tidak di ruang guru.
Apalagi dengan adanya dana BOS, banyak yang memilih membelanjakan perangkat keras daripada perangkat lunak. Karena dapat dilihat langsung barang belanjaannya klasik, tipikal.

Nah… kata kuncinya adalah: pengenalan, penyuluhan, atau sosialiasi sejak dini.

Seperti halnya upaya Telkom mengenalkan internet kepada masyarakat, begitulah seharusnya Linux juga dikenalkan. Mumpung para pemula komputer belum terbiasa dimanjakan oleh Windows, langsung aja dikenalkan dengan Linux.

Toh, saya rasa, tenaga yang dikeluarkan untuk mempelajari hal baru tentang komputer nilainya sama. Artinya, di posisi pemula, belajar Windows ataupun Ubuntu, sama-sama susahnya. Kalau sama-sama susah, kenapa gak dikenalkan yang bebas lisensi sekalian?

Masalahnya, siapa yang mau melakukan ini? yang mau susah payah peras keringat tanpa bayaran? Kalau internetkan sudah dibiayai Telom, karena ada unsur bisnisnya.

Saya kurang tahu banyak dengan perkembangan Linux. Mungkin sudah ada gerakan-gerakan seperti yang saya maksud. Gerakan bawah tanah. Karena saya juga basbang, jarang apdet informasi.
Kalau kita lihat ciri khas Linux, komunitas! ya… komunitas adalah ujung tombaknya.

Seperti yang pernah saya tulis dimana saya lupa alamat posting-nya, salah satu cara bagi komunitas terutama di lingkungan kampus untuk turun ke bawah adalah:

Kuliah Kerja Nyata
Mahasiswa (khususnya jurusan Teknologi Informasi) jangan hanya mikirin bisnis doang, jangan KKN atau Kerja Praktek-nya di perusahaan melulu. Sekali-kali KKN dalam bentuk “sosial”, datang ke desa-desa untuk educate masyarakat gaptek agar melek komputer. Paling tidak bisa memberi penyuluhan, bahwa keyboard itu tidak nyetrum, hehehe…

Dan yang jelas, promosi tentang dunia open-source, baik secara implisit maupun eksplisit.

Akhirnya, suatu hari nanti, dan semoga saya masih punya umur untuk menyaksikannya, bangsa Indonesia memiliki budaya menghargai Hak atas Kekayaan Intelektual, salah satunya dengan mau membeli produk Mikocok, atau kalau nggak mau, ya pake yang versi gratisan (Windows 20ribu perak :D)

Nah lo… bingung kan?
Mungkin jawabannya: mulai dari diri sendiri.kalau tidak berhasil? ya sudah :D

Post yang berhubungan:

6 Komentars »

  1. memang harus mulai dari diri sendiri.
    Btw, aku aja udah setahun lebih gak pake windows lagi untuk laptop ini.

    Komentar oleh silent — Januari 25, 2008 @ 8:06 am

  2. saya dulu kan sudah pernah nyoba. Tapi setelah laptop yang compaq itu di servis, jadi gak bisa running well displaynya :(
    saya mau coba lagi nanti kalau sudah punya Desktop (PC) baru, yang pake chipset Intel, biar aman.

    Kalo dipikir-pikir, kerjaan sehari-hari di rumah cuman pake Firefox, Eclipse, dan Notepad++. Jadi pake Linux harusnya gak masalah…

    Komentar oleh mbro — Januari 25, 2008 @ 11:32 am

  3. linux bisa boleh kita ibaratkan sama dengan rokok, sekali nyobain, dua kali nyobain masih belum kerasa ‘candu’nya, tapi kalo udah ‘kecanduan’, maka akan susah untuk melepaskannya.

    sedangkan windows, bisa kita ibaratkan makan roti, sekali nyobain langsung kerasa enaknya. :D
    artikel tentang ‘propaganda’ linux-addicted, udah aku buat diblogku, silahkan mampir2 ya ..
    ini alamatnya : http://yudhiapr.blogdetik.com/2008/02/08/why-linux-is-better-than-windows/

    Komentar oleh yudhiapr — Februari 20, 2008 @ 4:07 pm

  4. wah… pak Yudhi nge-blog, juga ya… :)

    Komentar oleh mbro — Februari 20, 2008 @ 9:11 pm

  5. 2 tahun pake ubuntu akhirnya back to basic lagi nih. pake XP SP2 gocengan wakakaka…

    Komentar oleh internet gratis — April 18, 2008 @ 9:04 pm

  6. Untuk pertama kali emang susah banget pake linux, kalo dah terbiasa baru ngeh apa itu LINUX…

    Komentar oleh windra — Juli 5, 2008 @ 11:57 am

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URL Lacak Balik

Tinggalkan komentar

31 queries. 0,294 seconds. Didukung oleh WordPress