Bahasa Visual dan Multimedia

Kamis Pon, 5 Juli 2007 @ 2:38 am Label:

“Susah diungkapkan dengan kata-kata…”, sering kita dengar. Kalau tidak bisa diungkapkan dengan gaya “verbal”, emosi dapat dilampiaskan dengan gaya gerak (berantem, memukul, lari, lonjak-lonjak), musik (bernyanyi, mencipta lagu), atau visual (menggambar).

Merah Putih

Membaca Visual

Menyerap informasi dan menambah pengetahuan, tidak harus melulu melalui buku-buku (khususnya buku-buku ‘gaya lama’).

Saat ini dapat dengan mudah kita temukan buku-buku -bukan hanya buku cerita- yang banyak menampilkan gambar hampir disetiap halaman. Dari sekedar tulisan panjang lebar yang sering membuat kita bosan, kehadiran gambar dalam sebuah buku memberikan kenyamanan yang lebih, dan bahkan, kemampuan untuk memahami isi buku.

Salah satu buku computer science yang membuat saya kagum dengan gaya penyajiannya adalah seri “Head First”. Bukan sekedar menampilkan gambar, boleh dibilang, gambar memiliki peranan penting dalam buku tersebut. 68% informasi dapat kita serap melalui gambar.

Bagi seorang yang cenderung ber”gaya” linguistik, mungkin akan lebih senang dengan paparan mendalam. Namun, menurut saya, tidak sedikit orang yang lebih suka menerima informasi visual sebelum melihat lebih dalam.

Anak-anak lebih suka komik daripada buku cerita. Bos lebih suka diberi “chart” daripada buku laporan tebal. GIS menjadi populer karena cara “membaca”nya yang mudah. Saat membaca koran, kita lihat judul dan gambarnya, baru isinya. Situs “gambar-gambar seru” lebih banyak daripada situs cerita-cerita seru.

Daripada saya menjelaskan tentang:
“Saya melihat seorang gadis putih bersih, yang dari gaya dan pakainnya, kemungkinan besar anak gedongan. Nampak asyik bercakap-cakap dengan seorang pengemis tua -gak karu-karuan-, di sebuah jembatan penyeberangan. Sempat terlihat seorang wanita yang lewat, nampak sinis melihat pemandangan itu.”

Dengan sebuah jepretan poto, setiap orang dapat membuat sendiri “paragrap” dari kejadian tersebut. Lebih mudah dimengerti, lebih cepat dibaca.

Masalahnya… saya gak punya kamera!!!

Belajar melalui Multimedia

Kecanggihan teknologi saat ini, memungkinkan kita untuk berekspresi maupun menyajikan informasi tidak hanya dalam bentuk gambar melainkan audio-visual. Gambar yang bergerak, sekaligus disertai musik dan suara.

Tidak lagi sekedar blog, media berekspresi dengan gambar juga ramai memenuhi arus internet (Flickr). Dan, YouTube! media yang lebih keren lagi (audio-video). Dapat digunakan untuk curhat (vlog), video-diary, mempublikasikan musik karyanya sendiri, tutorial berbasis video, etc.

Penyajian melalui multimedia (multi=banyak, media=sarana) terbukti lebih mudah diterima. Buktinya, anak-anak jaman sekarang, kalau disurvey-pun, banyak yang lebih memilih untuk menonton film kartun daripada membaca komik. Dan lebih memilih plaistesyen daripada bermain Halma.

Seorang anak yang belum bisa membaca, dapat bercerita panjang lebar tentang kisah pertarungan Power Rangers, meskipun tanpa dubbing! Bahkan jika ditayangkan ulang, si-anak dapat menebak “scene” berikutnya (kemampuan mengingat).
Alangkah canggihnya teknologi saat ini sehingga dapat mengemas informasi yang mudah dicerna. Jika diungkapkan dengan kata-kata yang lebih sederhana:

“Alangkah hebatnya pengaruh TV!”

Sudah saatnya perpustakaan multimedia dikembangkan. Koleksi-koleksi semacam National Geographics, Discovery Channel, Biography, Harun Yahya (CD), dsb, menjadi bahan belajar yang tak kalah pentingnya dengan buku yang bertumpuk-tumpuk itu. Sekaligus, mengalihkan perhatian dari penjajahan Power Rangers.

Hmmm… dimana ya, ada perpustakaan multimedia?

Post yang berhubungan:

3 Komentars »

  1. ooo, pantes, bulan kemaren aku diminta ngebut download bahan multimedia gini. Tapi om, hasil downloadku kemaren keformat, kayaknya tak simpen di C:\ :D

    Komentar oleh nikenike — Agustus 15, 2007 @ 1:31 pm

  2. wah! ga semua perpustakaan ada perpustakaan yang kayak gini. masalahnya dana. ga banyak yang bisa dikoleksi, kalau adapun yah paling discovery channel, dll dan mentok lagi ke masalah dana. sebenernya sih dah ada situs dengan format perpustakaan multimedia. YouTube udah bisa dibilang perpustakaan multimedia, tinggal dibikinin katalognya ajah kalo ngga ‘tags’-nya dibikin lebih murni atau mendetil.

    Komentar oleh Partogi E B S — Maret 9, 2008 @ 3:35 am

  3. bagaimanapun juga sebagai dasar dan basic untuk sistem belajar untuk semua kalangan dan umur adalah buku. setiap insan manusia di indonesia harus terbiasa dengan aktivitas membaca dan menulis, karena dari dua hal inilah dataran hakikat dari belajar apapun akan lebih dirasakan.. metode multimedia hanya sarana mendukyung untuk simulasi apa yang tersurat dan tersirat dalam sebuah buku dan tulisan. misalnya ada pertanyaan apakah nanti tidak akan memunculkan manusia yang gaptek dengan metode seperti itu? tentu jawabannya adalah mudah, karena gaptek hanya muncul pada insan yang tidak punya niatan untuk menguasai, tetapi jika dia kemudian lebih intens untuk membaca dan menulis, maka persolan gaptek hanya masalah kecil yang tidak perlu dipermasalahkan. jadi pertanyaan yang muncul berikutnya adalah dimana ya saya dapat menemukan koleksi buku yang lengkap lintas ilmu dengan suasana yang baik untuk kegiatan membaca dan menulis?

    Komentar oleh tejo — April 22, 2008 @ 11:26 am

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URL Lacak Balik

Tinggalkan komentar

37 queries. 0,272 seconds. Didukung oleh WordPress