Indonesia: Bangsa Konsumtif, bukan Investor
Beberapa bulan yang lalu saya diminta seorang teman, untuk menulis sebuah artikel tentang masa depan IT di Indonesia. Tetapi, saya tidak jadi menulis artikel tersebut karena pikiran negatif saya banyak mempengaruhi.
Susah untuk berpikir positif tentang masa depan IT di Indonesia. Bagaimana tidak, melihat mental bangsa kita seperti sekarang ini, apakah bisa masa depan IT kita secerah impian?
IT bukanlah satu-satunya dan bukan yang utama. Teknologi Informasi hanyalah sarana. Tetapi, tidak bisa disangkal bahwa IT dapat mempunyai peranan besar dalam perkembangan bangsa. Masalahnya, tidak bisa semudah itu bangsa Indonesia menerima kemajuan teknologi informasi. Mengapa?
Bangsa Konsumtif
Muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk sorga. Mau enaknya saja!!! Bisa kita cermati dengan mudah, bahwa produk-produk teknologi yang laris manis di pasar Indonesia adalah produk kategori hiburan atau sarana pendukung hiburan. Seperti handphone multimedia yang kebanyakan dimanfaatkan untuk fitur-fitur offlinenya. Atau, untuk fitur onlinenya, hanya digunakan untuk download ringtone dan variannya, serta untuk download game-game handphone. Sedangkan komputer digunakan untuk permainan, lagu-lagu MP3, atau sekedar nonton filem. Dan internet yang hanya dimanfaatkan untuk chatting dan browsing ke dunia fantasi.
Hal yang sangat menggembirakan bila kita tidak gagap teknologi. Tetapi akan jadi menyedihkan bila hanya berhenti sampai disini, sebagai konsumen produk hiburan.
Padahal, dengan alat-alat canggih tersebut, banyak fasilitas lain yang bisa kita manfaatkan, serta lebih banyak lagi informasi yang bisa kita peroleh. Seandainya Anda memanfaatkan handphone, komputer, atau internet tidak untuk poin-poin diatas, berarti sudah selangkah lebih maju.
Menjadi Investor
Untuk menjadikan bangsa kita maju dalam sektor IT, sudah saatnya memikirkan dari sekedar konsumen, menjadi produsen. Atau paling tidak, berinonvasi mengolah alat-alat yang sudah ada.
Diperlukan keberanian untuk berinvestasi dalam sektor IT. Sayangnya, bangsa kita tidak mengenal istilah investasi. Satu-satunya kata investasi yang mudah dimengerti adalah investasi untuk MLM, atau sejenisnya, yang memberikan janji keuntungan besar dengan sedikit usaha. Cukup menjanjikan dan menggiurkan, meski sebenarnya belum tentu terkabulkan.
Banyak orang mempunyai gagasan, tapi tidak ada dana. Banyak yang mempunyai dana, tapi tidak ada gagasan. Dan seandainya orang yang mempunyai gagasan tersebut datang ke orang yang mempunyai dana, woW… !!! Pasti akan menghasil produk-produk hebat. Tentunya, untuk gagasan cemerlang, pemikiran matang, dan sedikit pertimbangan untuk mengeluarkan modal.
Tapi masalahnya, para pemilik modal biasanya orang sepuh-sepuh yang gagap teknologi, belum begitu paham betul arah perkembangan teknologi. Apalagi, teknologi informasi atau sistem informasi susah dihitung Return of Investment (ROI)-nya. Banyak faktor intangible yang susah dijelaskan kepada mereka.
Saya yakin, secara kualitas, sumber daya manusia Indonesia tidak kalah dengan bangsa lain. Dan saya yakin pula, kita dapat membuat ’sesuatu’ yang bisa dikonsumsi oleh bangsa lain. Klorofil 2.0, adalah salah satu contoh karya anak negeri yang go-internasional. Dan mungkin masih banyak lagi. Tapi, akan seberapa lama bertahan? jika tidak ada pemodal.
Contoh lain, game Kurusetra. Masih ingat? Game ini sempat populer sekitar tahun 2000-an, sebelum Ragnarok! Game yang Indonesia banget itu, sekarang sudah tidak ‘bersuara’ lagi. Mengapa? au aH gelap!


Gimana kalo sampeyan jadi konsultan untuk orang yang mau investasi di bidang TI aja. Atau bikin agenci buat orang2 yang punya gagasan tapi gak ada dana
Komentar oleh dcky — April 12, 2007 @ 9:51 pm
walaH… yo podo ae lak’an. Aku perlu investor.
Kalau jadi konsultan sih gak masalah. Tapi sopo sing arep konsultasi?
Komentar oleh mbro — April 12, 2007 @ 11:29 pm
Salam kenal Mas Mbro,
Mampir ke sini dari linknya Cosa.
Blognya sampeyan desainnya cantik, trus tulisane juga bagus.
prasojo
Komentar oleh prasojo — April 14, 2007 @ 5:13 pm
walah mas Prosojo, aku jadi malu
Makasih… soale desainnya bikin sendiri loH, padahal sempat di komentari bikin sakit mata 
Komentar oleh mbro — April 14, 2007 @ 6:36 pm
nyari tulisan UML kok sampe sini, walah.. Blog and Tulisane apik, intinya bisnis tuh butuh keberanian dan “Nekad”
Komentar oleh Imam Ferianto — Februari 21, 2008 @ 7:14 am
Wuezzz kata-katane kok apik yoh? puitis banget rek
“menolong yang tersesat…” sip..sip..
lha tapi koq ana tuwit-tuwit e? heheheh
Yo nek aku sih, Indonesia tu mampu koq punya banyak investor, yo mung nyangkut karo :
1. Duit and Duit
2. SDM (nek kreatif sithik kali yoo…iso)
3. Dukungan Pemerintah, koyo bantuan renovasi gedung, trus piye carane ben buruh e gak demo terus (yo to?hehehe)
4. Mental sik gede, tahan banting, nek perlu modal nuekat
Yooo ini sih pendapatku:)
Komentar oleh beriTania19 — Juli 1, 2008 @ 9:21 pm
akurrrr…setuju dengan statement nya….
Komentar oleh windra — Juli 5, 2008 @ 12:09 pm
Dari pejabat sampai rakyat,
mayoritas mental konsumtif,
terus menerus sampai sekarang
Itulah Indonesia…
Komentar oleh abdal malik — Nopember 16, 2008 @ 10:03 pm
kita mesti bangkit jangan terfokus pada kesalahan, mari kita satukan visi, mendidik masyarakat agar tidak konsumtif melalui menulis di blog dengan artikel yang menggugah semangat dan berkreasi.
salam kenal dari:Rahasia Search Engine
Komentar oleh gdsetia — Januari 13, 2009 @ 5:47 pm
Setuju sekali mas …
mari bersatu membuat perubahan …
ayo para sesepuh IT indonesia berkumpul
bisa lewat sosial website atau buat forum developer
ayo serius
orang indonesia itu cerdas
dengan sedikit ketekunan pasti kita bisa
Komentar oleh Yoga — Januari 24, 2010 @ 7:32 pm