Data Mining: Analisa dan Manajemen Berkas

Rabu Kliwon, 14 Maret 2007 @ 1:21 am Label:

Latar Belakang
Kapasitas harddisk saat ini sudah dalam satuan Giga, bahkan Tera untuk beberapa komputer ‘besar’. Jika cara penyimpanan dokumen diatur dengan baik sejak awal, maka tidak akan muncul masalah dikemudian hari. Tapi bagaimana dengan kita, yang seenaknya create new folder (kadang-kadang nama foldernya: New Folder, New Folder (2), dst), bikin new file, untitled1.txt, untitled2.txt dan seterusnya.

Atau, ketika mendapat data dari hasil download di internet, atau mengopi file dari teman, biasanya ditampung dulu difolder backup, kemudian lupa untuk dipindahkan ke tempat semestinya.

Dan, penggunaan flashdisk, yang katanya untuk transfer sementara, malah jadi harddisk mobile, sehingga tidak mustahil banyak data kembar. Masalahnya, kita tidak mau tahu adanya data-data yang berulang/duplikat, tapi tidak juga mau menghapus. (Paling tidak, itu masalah yang saya alami).
Sehingga seberapa besar-pun kapasitas harddisk, tidak pernah cukup. Yang ternyata, data-data yang disimpan tidak pernah (jarang) dibuka lagi.

OK… setiap harddisk mempunyai usianya masing-masing. Dan ada yang berpendapat, sebaik apapun kita mengelola file tetap saja harddisknya rusak. Lalu bagaimana jika tiba-tiba tanpa kita sadari harddisk rusak… dan kita belum sempat backup data?! Data kuliah, Tugas Akhir, pekerjaan, dan data-data penting lainnya!!!!! itulah yang terjadi…

Permasalahannya…
Masalah sebenarnya, saya punya banyak file-file ’sampah’. Apakah file-file ini bisa dikelola? dengan harapan dapat menemukan berbagai ‘ide-ide sampah’ yang dulu pernah saya tuliskan.
Atau, mengoptimasikan harddisk, agar beberapa data yang kembar sama sekali dapat dideteksi dan hapus karena tidak diperlukan (karena kebiasaan save-as/duplikasi source saat develop).

Selain harddisk dapat dioptimasi, data/file dapat dimanage dengan baik, kalau perlu buat indexnya. Suatu saat saya memerlukan data, tinggal cari melalui index-index tersebut, tidak perlu pake langsung fasilitas ’search’-nya windows. Siapa tau… bisa nemukan ide, dokumen, source program, aplikasi atau file-file sampah lainnya.

Tujuan
Berdasarkan kepusingan diatas, bagaimana jika ada program yang dapat menganalisa file-file agar dapat:

  1. Menunjukkan file yang benar-benar sampah (tidak mungkin lagi diperlukan) untuk dihapus atau dipindahkan ke direktori/partisi/harddisk SAMPAH.
  2. Membuat index file, dengan mengelompokkan file-file berdasarkan kategori serta deskripsinya
  3. Menyarankan backup data, beserta daftar file yang harus dikelompokkan dalam satu ‘kelompok CD’ backup
  4. Membuat sistem most-recently-used (MRU) untuk mengawasi aktifitas file

Metode Penelitian
Untuk memecahkan kasus diatas, beberapa langkah yang akan dicoba adalah:

  1. Mencari produk-produk open source (agar bisa dimodifikasi) yang sesuai
    • dan… saya sudah menemukan beberapa, tapi masih terlalu ‘abstrak’ :(
  2. Mengembangkan produk open source tersebut (bila ada), atau membuat -sama sekali- baru.
    • mengumpulkan data file-file dalam setiap partisi dan direktori
    • membuat index untuk mempermudah proses pencarian file (pake punya’nya windows, lama buanget!)
    • menyusun kelompok/kategori dokumen (dokumen pribadi, multimedia, installer, referensi/download, dsb)
    • analisa index file terhadap kategori
    • perlukah dibackup? pake harddisk yang mana lagi????
    • migrasi struktur direktori/file yang lama berdasarkan hasil analisa
    • backup ke CD hasil migrasi tadi, trus… format harddisk!

Daftar Pustaka

  • Katalog Onlen, http://www.google.com/
  • Produk-produk Open Source, http://sourceforge.net/
  • Tools untuk Develop, http://java.sun.com/

Belajar dari Bayi (2)

Senin Pon, 12 Maret 2007 @ 10:52 pm Label:

setelah beberapa hari bertarung dengan diare, akhirnya…
kembali ke laaaptop!

Belajar mendengar dan berbicara

“Di Inggris, anak-anak kecil sudah pintar berbicara menggunakan bahasa Inggris…”, anekdot garing yang biasi kita dengar.

Syadan, sepupu saya yang sekarang berusia 4 tahun, pernah mengalami masalah di sekolahnya. Suatu hari, ibu guru TK, menemui Mama yang kebetulan hari itu menjemput Syadan. “Maaf bu, ini putranya?”, tanya bu guru, “mmm… bukan, saya tantenya…”, jawab Mama. “Begini, titip pesan ya… Tolong kami dibantu mengajar anak ini berhitung, karena di sini Syadan susah sekali belajar berhitung”.
Dhuerrr!!! Mama, yang selama ini lebih aktif ‘mendidik’ Syadan daripada ibunya sendiri, seolah tidak percaya kalau Syadan tidak bisa berhitung. Tapi setelah berpikir sejenak, Mama tidak perlu berdebat panjang dengan bu guru, “iya bu… nanti saya ajari…”.

Sebelum disekolahkan ke Taman Kanak-Kanak, Syadan termasuk anak yang aktif dan memiliki perkembangan yang menarik dibanding anak seusianya. Pun, Syadan pernah dibelikan sebuah mainan mirip notebook yang memiliki tombol-tombol yang dapat ‘bersuara’. “One…”, “Two…”, “Three…”, demikianlah beberapa suara yang dikeluarkan mesin kecil itu.
Dan, mainan inilah yang ternyata menjadi masalah (paling tidak bagi bu guru tadi…) baca selengkapnya…

Belajar dari Bayi (1)

Jumat Kliwon, 9 Maret 2007 @ 5:54 am

Sejak lahir sampai kembali menjadi tidak ada, manusia adalah mahluk pembelajar. Belajar melihat, belajar mendengar, belajar berbicara, belajar makan, belajar duduk, belajar berjalan, berlajar lari, belajar berkomunikasi, belajar di sekolah, belajar menjadi karyawan, belajar berumah tangga, belajar menjadi orang tua, belajar caranya belajar, belajar memaknai hidup, belajar menyiapkan kematian, dan masih banyak lagi yang perlu dipelajari… belajar tanpa batas, hehehe…

Saat lahir, dan selama tidak ada cacat produksi atau proses distribusi, bayi sudah dilengkapi dengan sekian organ tubuh seperti yang kita miliki. Semua organ tubuh tersebut dikendalikan oleh otak yang secara abstrak disebut dengan akal dan pikiran serta dibantu oleh memori.
Ibaratnya komputer yang baru dirakit, memori masih dalam keadaan kosong. Namun, menurut saya, sudah disediakan sebuah sistem operasi cerdas (akal pikiran) yang dikerjakan secara hardware oleh prosesor (otak), meskipun akal pikiran ini, saat bayi masih kecil, masih banyak yang berupa class-class Abstract (berpikir, problem solving, decission making, deelel), dan harus diupgrade melalui proses belajar.
Setiap proses tentu memerlukan data, baik data pendukung (pengalaman) maupun data baru (parameter yang dihadapi). Dari hasil proses tersebut munculah informasi baru yang dikoleksi kedalam memori (yang tadinya kosong). Memori inilah tempat membentuk karakter seorang manusia, baik untuk menyimpan informasi, atau mengupgrade stored procedure sebagai koleksi pendukung kecerdasannya, atau mengembangkan abstract class.

Menurut riset ilmiah, setiap bayi mewarisi gen/DNA, yang merupakan template unik, bawaan dari orang tua atau orang tua dari orang tua. Namun bagaimanapun juga, anak Einstein tidak semua orang tahu. Anak Bill Gates, tidak pernah masuk cek-n-ricek. Dan anak seorang bangsawan Inggris, ternyata hanya menjadi seorang Tarzan ;)

kembali ke laptop…
baca selengkapnya…

Menulis: hobby, terapi, belajar, atau pekerjaan

Senin Legi, 5 Maret 2007 @ 1:42 am Label:

Blog tak lain adalah sebuah tulisan, yang di’publikasi’kan melalui internet tanpa ‘tedeng aling-aling’. Banyak alasan kenapa orang harus menulis. Menulis karena hobby, menulis untuk terapi, menulis sebagai sarana belajar, atau menulis karena deadline (pekerjaan ;)).

Menulis sebagai hobby
Kalau sudah menjadi hobi, apapun akan dilakukan dengan senang hati. Seorang yang hobinya nge-game, dibela-belain sampai subuh gak tidur demi menyelesaikan misi-nya. Demikian juga dengan seorang yang hobinya menulis.

Setiap ada kejadian, pasti berusaha untuk dituliskan. Buku catatan harian (diary), desktop, blog, bahkan di mobile-devicepun semua berisi tulisan-tulisan pribadinya.
Yang jelas, penulis kategori ini, every-time every-where nulis terus. Dan tentunya, tulisan-tulisan tersebut didasari oleh suatu kejadian yang memicunya untuk menulis. Bukannya mekso!

Menulis untuk terapi
Saya pernah membaca sebuah artikel (lupa kapan dan dimana), menulis dapat digunakan sebagai terapi yang efektif bagi penderita penyakit kanker, khususnya bagi orang yang susah berkomunikasi dan cenderung mengasingkan diri.
Apa yang ditulis adalah salah satu usaha untuk mengobati dirinya sendiri. Misalnya:

“kanker termasuk satu penyakit dari sekian banyak penyakit mematikan lainnya. Apakah hidup saya akan selesai karena penyakit ini? Jodoh, rejeki, hidup, dan mati sudah digariskan oleh Tuhan. Sebagai hamba-Nya saya hanya berusaha menjalankan setiap apa yang diperintahkan, dan…”

“Mungkin besok saya sudah tiada, atau mungkin juga masih diberi kesempatan dalam beberapa hari, bulan, atau mendapat diskon beberapa tahun lagi. Apakah saya harus menyerah menghadapi kondisi sekarang ini? Penyakit yang saya derita, selama tidak menganggu kondisi fisik saya, maka saya menjadi orang normal seperti teman-teman yang lain. So… lets go! nge-blog lagi…”

ups… ini cuman contoh aja loH, saya sehat-sehat aja kok! gak kena kanker, meskipun sudah lama gak nge-blog. Kalau kanker = kantong kering, iya… :D

Menulis sebagai cara untuk belajar
Setiap orang punya cara sendiri untuk belajar. Salah satunya belajar dengan media menulis. Belajar dengan membuat sebuah tulisan. Misalnya dalam semester ini saya mendapat materi kuliah Java, maka saya coba menuliskan kembali apa-apa yang telah dijelaskan oleh dosen dan menambahkan beberapa informasi lain yang saya dapatkan dari buku. Mencoba membuat rangkuman sederhana.

Dalam proses menulis, mungkin saya menemukan beberapa pertanyaan/permasalahan yang tidak saya pahami. So… minggu depan, saya siapkan pertanyaan ini untuk ditanyakan ke pak/bu dosen.
Diupload ke blog? kenapa tidak… siapa tahu rangkuman kecil itu bermanfaat bagi orang lain. Atau, mungkin saja ada yang berkomentar dengan permasalahan2 yang saya temukan dan ungkapkan melalui tulisan itu.
Hmmm… gak ada salahnya to, belajar dengan menulis?!

Menulis karena Profesi (bukan hobby)
Menulis karena profesi tidak sama dengan menulis karena hobi. Meskipun sama-sama mempunyai tulisan yang banyak, atau dengan kata lain, menulis sebanyak mungkin, tetapi keduanya memiliki motivasi yang berbeda.
Menulis karena hobi adalah kegiatan menulis yang dilakukan dengan senang hati. Tidak ada tuntutan, tidak ada paksaan. Setiap selesai menulis, si-penulis langsung mendapatkan penghargaan dari dirinya sendiri, “Alhamdulillah… akhirnya selesai”. Kondisi mental/psikologisnya pun bertambah satu poin.
Berbeda dengan penulis profesi (belum tentu profesional) seperti yang dialami oleh para jurnalis, penulis buku, dan atau sejenisnya. Demi mencapai target atau deadline, akhirnya, apapun ditulis. Yang penting dapat honor, yang penting mencapai target, yang penting…

Bukan bermaksud memukul rata, tapi tidak sedikit penulis terpaksa semacam ini. Mau bukti? banyak tulisan-tulisan di koran (mungkin juga tabloid/majalah) yang notabene dibaca oleh banyak orang, ternyata banyak yang salah tulis (atau kesalahan tulis ulang, edited by editor).

Contoh: “Karena kecerdasan yg di miliki, manuisa dpt memahami kalimat ini”. Kesalahan tersebut mungkin bisa dimaklumi, karena penulis menggunakan kemampuan mengetik sepuluh jari, yang kadang-kadang terselip. Atau baru saja kirim SMS ke rekannya.
Contoh lain: “Mikail Sumaker berencana melakukan uji coba di sirkuit Sentul, Bogor, Jawa Tengah”. (mungkin) secara tata tulis tidak salah, tetapi informasi yang disampaikan salah kaprah. Apakah di Jawa Tengah ada Bogor?

Kebetulan saya termasuk jarang baca koran, tapi kok ndilalah kebetulan, hampir setiap saya membaca koran (yang katanya) nasional itu, hampir selalu ada kesalahan, dan kadang kala ada pembaca yang jengkel sehingga koran tersebut (setelah dengan) terpaksa memberikan informasi ralat: “Nama penulis blog pada berita blogger gak jelas yang terbit pada tanggal 29/02/2007 adalah MBro, bukan Heru Sutimbul seperti yang pernah diberitakan. Dengan demikian informasi ini sudah kami perbaiki”.

YaH… penulis juga manusia, penuh khilaf dan dosa ;)

Makanya, sebelum saya menjadi seorang jurnalis dan pembuat buku (sok pede) saya nulis dulu di blog ini…

Lalu, dimana posisi Anda? Sebagai penulis hobi, penulis terapi, penulis profesi, penulis pelajar, atau sekedar pembaca??? hehehe…
kalau saya termasuk penulis angin-anginan ;)

19 queries. 0,297 seconds. Didukung oleh WordPress