Belajar dari Bayi (2)

Senin Pon, 12 Maret 2007 @ 10:52 pm Label:

setelah beberapa hari bertarung dengan diare, akhirnya…
kembali ke laaaptop!

Belajar mendengar dan berbicara

“Di Inggris, anak-anak kecil sudah pintar berbicara menggunakan bahasa Inggris…”, anekdot garing yang biasi kita dengar.

Syadan, sepupu saya yang sekarang berusia 4 tahun, pernah mengalami masalah di sekolahnya. Suatu hari, ibu guru TK, menemui Mama yang kebetulan hari itu menjemput Syadan. “Maaf bu, ini putranya?”, tanya bu guru, “mmm… bukan, saya tantenya…”, jawab Mama. “Begini, titip pesan ya… Tolong kami dibantu mengajar anak ini berhitung, karena di sini Syadan susah sekali belajar berhitung”.
Dhuerrr!!! Mama, yang selama ini lebih aktif ‘mendidik’ Syadan daripada ibunya sendiri, seolah tidak percaya kalau Syadan tidak bisa berhitung. Tapi setelah berpikir sejenak, Mama tidak perlu berdebat panjang dengan bu guru, “iya bu… nanti saya ajari…”.

Sebelum disekolahkan ke Taman Kanak-Kanak, Syadan termasuk anak yang aktif dan memiliki perkembangan yang menarik dibanding anak seusianya. Pun, Syadan pernah dibelikan sebuah mainan mirip notebook yang memiliki tombol-tombol yang dapat ‘bersuara’. “One…”, “Two…”, “Three…”, demikianlah beberapa suara yang dikeluarkan mesin kecil itu.
Dan, mainan inilah yang ternyata menjadi masalah (paling tidak bagi bu guru tadi…) Secara otodidak, Syadan memencet-mencet tombol yang berisi angka dan huruf, sejenak mendengarkan suaranya, dan setelah berulang-ulang, mencoba meniru suara tersebut (beberapa harus dibantu Mama). Jadi Syadan telah belajar mengucapkan angka 0 - 9 (dan beberapa huruf) dalam bahasa Inggris.

Karena memori yang pertama kali disimpannya mengenai angka dalam ucapan bahasa Inggris, maka agak susah baginya untuk menyebut angka-angka itu dalam bahasa Indonesia. Namun, dengan ketelatenan sang Mama, masalah bisa terpecahkan. Yang saya ingat, angka 8 (eight) paling susah dilafalkan dalam bahasa Indonesia. Selalu saja… lima, enam, tuju, eight, sembilan,… hehehe :D

Teletubbies, atau Dora, adalah beberapa dari sekian banyak film anak-anak yang cukup digemari. Pertama kali melihat film ini, sebagai orang dewasa, tentu saja BT! Tapi, seperti itulah cara anak belajar: mendengar, berpikir sejenak, mengucapkan… mendengar lagi yang sama, berpikir sejenak, dan mengucapkannya lagi.

Mana yang lebih dulu: melihat, mendengar, berbicara?
Menurut saya, tidak ada jawaban pasti. Yang pasti adalah harapan orang tua bahwa anak kita bisa melakukan itu semua. Dan tentunya, semuanya itu perlu proses (belajar). Pertama kali, bayi melihat dengan samar, mendengarkan gelombang bunyi, serta bersuara (belum berbicara) dengan mengeluarkan getaran suara, seperti tangisan dan sejenisnya.
Wajah orang tua mungkin dikenali sebagai gambar telur dadar. Suara orang-orang yang ramai mengunjunginya, dianggap sama dengan suara kentut, hanya sedikit berintonasi. Dan bayipun tetap dengan tangisnya, dan setelah sekian lama, mencoba berbicara dengan cara mengaum-aum…

Dan… karena proses belajar yang hampir terjadi setiap saat… bayi pun akhirnya bisa melihat ayahnya yang cakep :D, matanya fokus dan mengikuti gerak kemana saya ayah berpindah, meniru senyum/tertawanya, dan tahu bahwa ‘kudang’an (kudang=bahasa Indonesianya apa????) ayahnya bukan kentut. Itulah anakku yang hampir 2 bulan bikin penasaran ;)
 

Pertumbuhan Otak dan Memori
Manusia adalah mahluk yang paling tinggi derajatnya, hingga semua mahluk-Nya diharuskan bersujud kepada manusia. Apa yang membuat manusia begitu hebat dibanding yang lain? Manusia diberi akal, pikiran, dan nafsu!
Manusia dan binatang sama-sama memiliki otak dan memori. Bahkan beberapa binatang (primata dan lumba-lumba) memiliki tingkat kecerdasan mendekati manusia. Tapi, tetap saja manusia “IS THE RULE!”
Sebenarnya membandingkan dengan binatang masih terlalu mudah untuk dipahami, bagaimana dengan: Jin, Malaikat, Langit, Bumi, atau mahlukNya yang lain? out-of-topics.

kembali ke laaappptop…
Yang jelas, manusia lebih hebat dari mahluk lainnya (<== nah… dasar manusia). Manusia memiliki prosesor paling canggih (jauh melebihi DeepBlue, atau kemampuan komputasi mesinnya Google), manusia memiliki kapasitas memori besar sekali (tidak cukup dengan satuan giga/tera), dan manusia mempunyai algoritma neural-network dan human (not machine) learning yang tidak dapat dirumuskan oleh para ahli.

Lalu, mengapa jika seandainya benar seperti itu, manusia tidak dapat menghitung secepat kalkulator? atau yang sederhana saja, mengapa manusia malas dan berpikir seperti primata (kata halus untuk monyet)? ;)

Pertumbuhan Otak
Pada bagian salah satu jenis buku Kartu Menuju Sehat (KMS), terdapat tulisan yang menarik perhatian saya:

Masa emas pertumbuhan otak atau “Brain Growth Spurt” adalah masa dimana terjadi pertumbuhan otak yang paling cepat. Periode ini hanya terjadi sekali seumur hidup dan tidak dapat berulang.
Masa emas pertumbuhan otak terjadi sejak konsepsi sampai bayi berusia 2 tahun.

Kemudian secara tidak langsung ditampilkan tulisan AA dan DHA masing-masing dalam gambar dua buah gelembung yang terpisah. Apakah AA dan DHA berperan banyak dalam masa pertumbuhan ini? kira-kira begitulah pesan yang disampaikan sponsor yang bekerjasama menerbitkan buku KMS tersebut.

Menurut saya, tulisan tersebut masih belum jelas. Jika periode (masa emas) pertumbuhan otak terjadi sekali seumur hidup dan dibatasi sampai bayi berusia dua tahun, apakah ada kemungkinan bayi tidak mendapatkan jatah “Brain Growth Spurt” tersebut? Lalu kenapa jika pertumbuhannya cepat, bukankah tetap saja otak akan terus tumbuh/berkembang selama beberapa tahun ke depan? apa manfaatnya jika sebelum usia 2 tahun otaknya telah tumbuh dengan cepat? kan bayi belum belajar banyak…

Notes: wah… masih harus belajar lagi nih tentang Pertumbuhan Otak!!!

bersambung… (tarik napas)

Next:

  • Pertumbuhan Memori. bio-memori.
  • Rancangan Sempurna. Class sama, beda instance-nya.
  • Out-of-the-box. Berhitung secepat kalkulator.
  • Tergantung ‘Program’nya. Sama dengan primata.

Post yang berhubungan:

6 Komentars »

  1. wuih… jadi banyak tahu tentang anak nih..

    lanjut…

    Komentar oleh budiw — Maret 14, 2007 @ 5:08 pm

  2. Thx ya… uku maminya Zasqia, jadi banyak tahu deh dan tambah lengkap aja informasinya yang menunjang perkembangan baby ku yang baru berumur5 bulan.

    Komentar oleh TUTI — Juli 25, 2007 @ 11:27 am

  3. wwwwwooooooooooooooooowwwwww walau diriku masih muda tp jd pgen cpt nikah biar punya anak ney!!!

    Komentar oleh keneZs — Oktober 2, 2007 @ 6:57 pm

  4. hi…. aku mamanya ghazy, babyku sekarang usianya 2 bulan lo…nambah pengetahuan tentang anak nih

    Komentar oleh Ella — Nopember 2, 2007 @ 1:26 pm

  5. masalah apa saja yang akan dilalui seorang anak untuk menumbuh kembangkan sesuatu yang belum diketahui nya?

    Komentar oleh tazul — Januari 18, 2008 @ 11:29 pm

  6. waduh mas/mbak, saya bukan pakar bayi :D, hanya belajar dengan mengamati perkembangan anak saya ;)

    imo, bayi mempunyai kemampuan alamiah untuk belajar. Sebagai orang tua, kita hanya perlu memberi kesempatan untuk belajar dan memberi ruang gerak yang cukup (hindari penggunaan kata “JANGAN”).
    Selain itu, yang diperlukan adalah rangsangan. Rangsangan untuk belajar. Banyak hal yang bisa dilakukan, seperti: membelikan mainan yang bermanfaat, gambar-gambar (hewan, buah2an), mengajak ke luar rumah (bertemu banyak orang), dsb.

    Komentar oleh mbro — Januari 19, 2008 @ 12:45 pm

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URL Lacak Balik

Tinggalkan komentar

40 queries. 0,337 seconds. Didukung oleh WordPress