Belajar dari Bayi (1)

Jumat Kliwon, 9 Maret 2007 @ 5:54 am

Sejak lahir sampai kembali menjadi tidak ada, manusia adalah mahluk pembelajar. Belajar melihat, belajar mendengar, belajar berbicara, belajar makan, belajar duduk, belajar berjalan, berlajar lari, belajar berkomunikasi, belajar di sekolah, belajar menjadi karyawan, belajar berumah tangga, belajar menjadi orang tua, belajar caranya belajar, belajar memaknai hidup, belajar menyiapkan kematian, dan masih banyak lagi yang perlu dipelajari… belajar tanpa batas, hehehe…

Saat lahir, dan selama tidak ada cacat produksi atau proses distribusi, bayi sudah dilengkapi dengan sekian organ tubuh seperti yang kita miliki. Semua organ tubuh tersebut dikendalikan oleh otak yang secara abstrak disebut dengan akal dan pikiran serta dibantu oleh memori.
Ibaratnya komputer yang baru dirakit, memori masih dalam keadaan kosong. Namun, menurut saya, sudah disediakan sebuah sistem operasi cerdas (akal pikiran) yang dikerjakan secara hardware oleh prosesor (otak), meskipun akal pikiran ini, saat bayi masih kecil, masih banyak yang berupa class-class Abstract (berpikir, problem solving, decission making, deelel), dan harus diupgrade melalui proses belajar.
Setiap proses tentu memerlukan data, baik data pendukung (pengalaman) maupun data baru (parameter yang dihadapi). Dari hasil proses tersebut munculah informasi baru yang dikoleksi kedalam memori (yang tadinya kosong). Memori inilah tempat membentuk karakter seorang manusia, baik untuk menyimpan informasi, atau mengupgrade stored procedure sebagai koleksi pendukung kecerdasannya, atau mengembangkan abstract class.

Menurut riset ilmiah, setiap bayi mewarisi gen/DNA, yang merupakan template unik, bawaan dari orang tua atau orang tua dari orang tua. Namun bagaimanapun juga, anak Einstein tidak semua orang tahu. Anak Bill Gates, tidak pernah masuk cek-n-ricek. Dan anak seorang bangsawan Inggris, ternyata hanya menjadi seorang Tarzan ;)

kembali ke laptop…

Melihat, Mendengar, Berbicara
Beberapa bulan setelah bayi lahir, proses belajar (pertama kali) yang gampang diamati dan ditunggu-tunggu orang tua adalah: melihat, mendengar, dan berbicara.
Saat mengamati bayi saya sendiri, ternyata untuk memasukkan atau menempatkan dengan tepat mulut bayi ke tempat keluarnya air susu ;) perlu proses belajar juga, hanya sekali. Tapi, apakah bernafas perlu belajar juga? ternyata tidak. Hal ini telah dijelaskan secara ilmiah (oleh istri saya, setelah baca-baca yang dari mana sumbernya saya lupa :().

Belajar melihat
Saat lahir, bayi tidak dapat melihat dengan jelas. Perlu proses (belajar) melatih fokus matanya untuk melihat sesuatu.

Belajar melalui media visual, sampai usia dewasa-pun, bagi sebagian orang menjadi media belajar yang efektif. Jadi jangan heran kalau menemukan buku bacaan yang banyak gambarnya. Seperti komik, atau koran, hehehe… sekedar contoh. Tapi bagi penulis buku yang menganut teori kuantum (reading, writing), menggunakan gambar dapat menambah tingkat pemahaman materi yang disampaikan.

Pernah saya kenal dengan bocah kecil, sebut saja Junior, berusia 2 tahunan. Pertama kali mengenal komputer karena sering melihat ayahnya bekerja (di rumah) menggunakan komputer. Sampai suatu saat, Junior penasaran (alias ingin menganggu ayahnya ;)), ingin meniru. Pertama kali, yang bisa dilakukan hanya menggerak-gerakkan mouse dan sesekali menekan tombol keyboard secara acak.

Satu minggu kemudian, Junior sudah bisa memainkan game Feeding Freenzy. Untuk memainkan game ini cukup sederhana, hanya dengan menggerakkan mouse (tanpa perlu klik). Dan kurang lebih satu bulan setelah itu, Junior sudah dapat membuka sendiri game ini melalui shortcut windows (dengan gambar ikan), start game, dan bermain… meskipun ketika kalah main (ikan yang harus dimainkannya, dimakan oleh ikan yang lebih besar), Junior tertawa senang. Tinggal click continue, dan permainan dilanjutkan kembali…

User Interface (UI) yang menarik
Kenapa Junior senang saat ikannya mati dimakan? karena setelah ikan dimakan, akan muncul tulisan “SORRY!” dengan animasi yang menarik. Selain itu, navigasi (button) dengan feature HOVER sangat membantu Junior untuk mengenali ‘tombol-tombol’ yang dapat diklik. Bagi Junior tidak pernah ada tulisan, semuanya bentuk visual, semuanya adalah gambar, gambar ikan, gambar silang, gambar ’sorry’, gambar ‘continue’, dan sebagainya.

Pesan buat developer, jangan lupa programnya diberi hover yang menarik, biar… anak kecil aja tahu…

kembali ke laaaaptop…

to be bersambung…

Post yang berhubungan:

  • No Related Post

2 Komentars »

  1. Gak sabar menunggu sambungannya…

    –budiw

    Komentar oleh budiw — Maret 9, 2007 @ 9:02 pm

  2. sori… habis terkena serangan diare berhari-hari. Bentar lagi dilanjutkan ;)

    btw, sudah brapa bulan bud?

    Komentar oleh MBro — Maret 12, 2007 @ 4:50 pm

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URL Lacak Balik

Tinggalkan komentar

33 queries. 0,246 seconds. Didukung oleh WordPress