nol kilometer
Kejadian itu membuat Bai jengkel, marah, putus asa, malu, dan tak ingin lagi berada di situ. Di rumah, di kampus, di warung-warung, bahkan di dunia maya.
Bai sudah tak ingin mengingat lagi kejadian itu, dan semua orang!!! Bai merasa putus asa, ingin mati… tapi tidak ada keberanian untuk mengakhiri hidupnya. Kalaupun ada alat atau obatnya, Bai ingin menghapus memorinya.
Jiwa yang labil membawanya pergi dari rumah. Berbekal tas ransel dengan beberapa potong baju, PDA, MP3 player, dan uang 75.000 yang masih tersisa di dompetnya. Hmmm… mau piknik apa minggat, ya…
Vespa butut kesayangannya yang tak pernah mau digantikan bahkan oleh sepeda motor sekelas Tiger atau Ninja, mendampingi perjalannya.
Tanpa berpamitan, tanpa meninggalkan pesan, perlahan-lahan Bai meninggalkan kota tempat kelahirannya dimana dia pernah tinggal selama 21 tahun. “Selamat Jalan, Anda meninggalkan wilayah bajingan butut bangsat tercinta”, Bai membaca tulisan di gapura batas kota, dengan sedikit modifikasi, tentunya ;).
Malam hari, jalanan sepi, setelah batas kota itu jalanan terlihat lebih gelap. Lampu penerang jalan muncul jarang-jarang dan sesekali sorotan lampu bis malam yang melaju kencang, atau truk-truk pengangkut muatan yang berjalan dengan kecepatan lambat.
Menakutkan juga bersepeda motor malam hari di jalan raya. Bai lebih memilih untuk berada di belakang truk bermuatan. Selain untuk menyembunyikan diri dari ancaman bis malam, terpaan angin malam sedikit berkurang. Biar lambat asal selamat… dan memang lebih baik melambat, karena Bai tidak tahu kemana arah tujuannya.
Udara dingin menjadi tidak terasa, selain terkena efek asap truk, api kemarahan dalam dirinya dapat menetralisir dingin malam. Perjalanan yang santai, lambat, pelan, sedikit hangat, dan nyaman…
membuat Bai kembali teringat tentang kejadian itu.
“Aku ingin pergi ke suatu tempat dimana tidak ada orang yang mengenal aku. Tak seorang pun. Bahkan teman lama.
Aku mungkin bukan lagi Aku. Aku ingin menjadi Aku yang lain agar orang-orang tidak akan mengenali Aku.
Aku adalah Aku yang baru… Ya… Aku harus menjadi Aku yang baru!!!”
Cukup lama Bai mengikuti truk bermuatan itu. Tapi pada akhirnya truk itu menyalakan sign-kiri, dan semakin melambat tanda mau berhenti. Ternyata, di depan adalah kawasan parkir truk-truk bermuatan. Bai masih bicara dengan hatinya. Sepeda motor berjalan begitu saja, sendiri…
“Akan berjalan kemana Aku? darimana Aku bisa makan? dimana Aku akan tinggal? siapa yang akan mempekerjakan Aku?”
Hari beranjak pagi. Daun-daun terlihat menguning terkena sorotan matahari. Bai berada di kawasan hutan. Sudah dua kota dia lewati dan dua ribu pikiran melayang.
Tiba-tiba, vespa butut itu mogok. Kendaraan itu perlu istirahat. Demikian juga Bai. Setelah seharian kemarin seluruh energinya terkuras dalam sebuah kejadian puncak, rasa lelah mulai nampak begitu tahu vespa kesayangannya tidak lagi mau bergerak.
Bai sudah tidak sanggup lagi untuk membongkar kendaraannya. Vespa dia bawa masuk ke dalam hutan. Mencari tempat yang teduh dan Bai berbaring beralas daun jati kering.
Matanya terpejam, tapi pikirannya masih bekerja. Tiba-tiba dia bangun dan membuka tas ranselnya. Diambilnya PDA yang banyak berisi catatan hariannya. Dihapusnya semua kontak, semua catatan, semua schedule, semua dokumen, dan kartu telepon yang ada didalamnya, diambil dan dibuang.
Bai menulis:
Aku kembali dilahirkan. Dari sebuah hutan jati aku mulai perjalananku, dari titik nol kilometer.
matanya mulai terpejam, aura tubuhnya tampak meredup, pikirannya kembali tenang, dan alam tidak sadar mengambil alih.
b e r s a m b u n g


