Menjual Solusi
Hari ini saya keluar rumah, untuk menghilangkan kejenuhan ngoding. Setelah melakukan transaksi penarikan di bank Lippo, setor ke BCA, bayar tagihan melalui ATM BCA, dan transfer ke BRI, saya dapat musibah. Ban sepeda motor saya bocor!!!
Untungnya, tidak jauh dari situ terdapat tukang tambal ban. Setelah diperiksa oleh tukang tambal ban, ternyata kondisi ban dalamnya parah. Terdapat satu lubang besar (yang kelihatannya bukan karena paku) dan ditambah lagi, lubang angin atau pentilnya sobek.
mas Tukang kelihatan bingung dan pasrah. Tidak sanggup untuk menambal pada bagian pentil.
Menurut saya, kondisinya memang parah. Meskipun belum ada bekas tambalan, tapi sebaiknya ban dalam ini harus diganti. Sayangnya, Tukang tambal ban ini tidak menjual ban dalam yang baru. Ada ban dalam bekas, tapi kualitasnya tidak lebih bagus dari ban dalam sepeda motor saya. Waduh, bagaimana ini?!
Eit… datang Tukang tambal ban lainnya (Tukang2). Setelah melihat kebingungan temannya lalu melihat kondisi ban tadi, CLING!!!, “ah… bisa dibetulin kok!”
Hmmm… sedikit lega. Dengan tangkas, Tukang2 memperbaiki dan menambal ban sepeda motor saya yang bocor itu. Bahkan, sampai-sampai, mengorbankan ban dalam bekas yang tadi sempat ditawarkan, untuk diambil pentilnya dan dipasang pada ban sepeda motor saya.
Sudah ada solusi, dan saya tinggal menunggu hasil tambalan, sambil ngopi di warung sebelah.
Dedikasi pada pekerjaan
Saya cukup senang dengan kecerdikan Tukang2. Dia tidak hanya bekerja untuk menambal ban yang bocor, tapi juga memberikan solusi terbaik dari sebuah permasalahan. Kondisi ban yang parah yang seharusnya diganti, masih bisa “diakali” dan tidak perlu beli ban yang baru.
Idealnya seorang pekerja harus seperti Tukang2. Berusaha memberikan solusi (problem solving) dari setiap permasalahan yang ditemui. Menjadi tukang tambal ban juga sebuah profesi, dan sama dengan profesi lainnya, diperlukan dedikasi dan profesionalisme dalam pekerjaan yang ditekuni.
Jangan menjadi pekerja yang mudah pasrah bila menghadapi permasalahan yang tidak biasa ditemui, hanya bisa menjudge: “saya tidak biasa menemukan kasus seperti ini, kelihatannya sulit. Sebaiknya diganti saja, soalnya itu lebih mudah bagi saya, saya gak perlu mikir lagi. Agak sedikit mahal gpp kan?”.
Sebagai Customer, saya merasa puas dengan layanan Tukang2, dan harga/biaya menjadi pertimbangan kedua.
Solusi IT
Saya coba bandingkan dengan kasus yang mungkin terjadi dalam bidang pekerjaan saya.
Misalnya, Perusahaan A menggunakan sebuah aplikasi untuk mendukung proses bisnisnya. Aplikasi tersebut dibuat oleh seorang programmer lokal dan disertai source code. Aplikasi ini telah digunakan selama 9 bulan. Pada bulan-bulan terakhir, program dirasa berjalan lebih lambat (prosesnya lama), dan tiba-tiba pada awal bulan ke 10, program bermasalah. Selain program tidak dapat berjalan sama sekali (atau sesekali bisa tapi loadingnya lama), banyak report-report yang digenerate menampilkan data yang tidak sesuai.
Operator yang biasa menggunakan aplikasi ini pun tidak mengetahui pangkal permasalahan mengapa terjadi kekacauan data. Masa garansi yang diberikan oleh programmer hanya 6 bulan. Untuk menghemat biaya, perusahaan memanggil semua karyawan yang dirasa mengerti tentang sistem. Tapi tetap saja tidak ada yang tahu mengapa aplikasi tersebut kacau.
Akhirnya perusahaanpun mencoba menghubungi programmernya. Sayangnya programmer yang satu ini tidak profesional. Selain susah dihubungi, ternyata dia tidak mau tahu dengan kasus yang terjadi pada program yang telah dibuatnya. Dan berusaha menghindar setiap kali dihubungi.
Aplikasi ini sangat penting untuk menunjang proses bisnis perusahaan, nah loo… Akhirnya perusahaan meminta bantuan Anda, yang mengaku seorang pekerja IT, untuk “melihat” aplikasinya.
Bagaimana solusinya?
Setelah dilakukan “pengamatan” pada aplikasi dan source codenya, ditemukan fakta:
- tidak ada dokumentasi program, jadi harus metani source code
- gaya penulisan program tidak sama dengan style Anda
- terdapat 50 form lebih yang sebagian besar identik
- terdapat 20 tabel transaksional, yang rata-rata mempunyai lebih dari 30.000 rekod
- banyak duplikasi rekod. Informasi yang sama disimpan pada lebih dari satu tabel, biasanya digunakan untuk temporary atau mempercepat proses perhitungan
- laporan per bulan di filter hanya menggunakan parameter bulan saja (harusnya bulan dan tahun)
- menggunakan metode koneksi persisten
- saat inisialisasi program, semua tabel di buka tanpa ada filter/query sama sekali
- tidak ada fitur backup/restore maupun optimasi database
Kesimpulannya, program cukup parah! Solusi mudahnya, buat program baru! Tapi, bisakah Anda menjadi Tukang2?



waduh,
gimana sih mbro nih, katanya untuk IT, tapi kok disuruh jadi kayak Tukang2, ngakalin ban… ?
wah..wah.. gimana sih…
–budiw
Komentar oleh budiwijaya — Mei 26, 2006 @ 11:35 am
Kalau caranya ngikut tukang1 sih ganti aja programnya , mungkin tukang 1 melihat kerusakannya sudah terlalu parah. Tapi sebenarnya masih bisa diperbaki meskipun susah. Pilihanya kan cuma 3, diganti, diperbaiki, atau tetep dipake meskipun lambat. Kalo memang harus diperbaiki, ya terpaksa metani satu satu. Atau nggak di reverse aja( itu kalo desainnya bener, masak desain bener sampe ada 50 form yang identik).
Tapi kan juga diliat dulu kebutuhan, kalo memang diperbaiki, costnya jadi lebih mahal atau sifatnya hanya temporary saja kan gak efektif. Mending beli ban baru aja. Tapi kalo melihat kasus diatas kan ban barunya gak ada? ya udah tunggu besok atau diperbaiki untuk sementara ntar besoknya beli baru. Jadi intinya cari solusi terlebih dahulu, minimal solusi tersebut mengatasi masalah untuk saat ini sambil menunggu dicari solusi terbaiknya.
Komentar oleh Tape — Mei 26, 2006 @ 3:15 pm
klo aq mungkin rada condong ke pendapat Tape
klo masalah Ban, memang bisa di atasi, maksutnya jika tidak ada ban dalam baru, yah gmn caranya agar ban dalam sebelumnya bisa dipake lg (sesuai solusi tukang2), tp klo di IT? rasanya untuk masalah nambal menambal kita jg harus mikir efek kedepannya, jika memang program itu sangat penting dan kondisinya uda riskan bgt untuk di perbaiki, mending beli baru aja (mengingat masalah IT juga merupakan masalah Investasi) kan …
Komentar oleh Ririn — Mei 26, 2006 @ 9:13 pm
Um…. membangun aplikasi dari awal lagi kurasa bukan solusi ideal juga. Memang lebih mudah bagi si developer aplikasi, tapi bagi customer, pasti effortnya lebih besar. Memang kalo kondisinya “parah” akan memungkinkan munculnya “kutu-kutu” yang akan merepotkan di kemudian hari.
Tapi aku rasa hal itu bukan alasan untuk mulai dari awal. Kita bisa melakukan proses reengineering terhadap aplikasi yang sudah ada tersebut. Kalo bussiness logic-nya terlalu payah, ya diganti dengan yang lebih bagus, tapi untuk form interface-nya nggak harus ganti lagi kan. Nah itu berarti kita tidak membangun ulang, ya istilah kerennya make over
Komentar oleh dcky — Mei 29, 2006 @ 7:11 am
hehe… makasih komentarnya.
Memang, setiap orang berhak punya pendapat yang berbeda. Tidak ada pelajaran khusus untuk membuat SOLUSI. Based on experience.
Disitulah tantangan buat orang “IT”. Sekaligus pembeda kualitas…
Komentar oleh mbro — Mei 30, 2006 @ 10:17 pm