Rasan-rasan Oracle
ngomong masalah Oracle, jadi teringat dengan “kasus-kasus” klasik yang kelihatannya gak akan pernah hilang!!! apaan sih? begini ceritanya…
Sebuah (sebut saja) perusahaan mengaku menggunakan database Oracle, bahkan, mempunyai kontrak kerjasama langsung dengan vendornya. Tapi, itu kan masalah non-teknis. Artinya, mampu untuk membeli dan mampu lobi-lobi. Sedangkan yang terjadi di back-office, tak sesederhana itu.
Mereka membeli Oracle, hanya untuk kepentingan politik bisnis! Agar perusahaan tersebut terlihat sebagai perusahaan besar, karena menggunakan teknologi besar dari vendor besar, yang padahal mereka hanya besar diomongan.
Memang sih Oracle adalah database untuk skala Enterprise. 100% benar. Tapi akan jadi tidak benar bila aplikasi semacam Oracle ini tidak dimanfaatkan sepenuhnya. Ternyata (enaknya ngomong) Oracle-nya hanya digunakan untuk INSERT UPDATE DELETE SELECT bintang, dan query sederhana lainnya. Dan biar kelihatan Oracle banget, ditambahi sedikit PL/SQL (yang bikin repot aja).
Satu contoh kasus dari ketidakmampuan memanfaatkan fitur-fitur yang ada di Oracle (seperti halnya membeli komputer pentium 4, hanya untuk nge-game: SOLITAIRE): masalah user-login/hak akses.
Dalam dunia programmer, secara garis besar dikenal dua metode untuk mengatur hak akses user, yaitu: (1) membuat table user sendiri, atau (2) mengintegrasikan dengan database.
Kemungkinan besar, setiap aplikasi mempunyai entity (tabel) user, tapi tidak semuanya memerlukan tabel user untuk proses autentifikasi (login). Bila tidak digunakan untuk login, lalu buat apa? ya banyak… untuk mencatat identitas user tersebut, history-login, dan banyak berrelasi dengan tabel lainnya.
Akan masuk akal bila tidak mengintegrasikan proses autentifikasi dengan database yang ada karena alasan: programmer tidak mempunyai hak akses untuk create atau manajemen user. Dan boleh saja mereka tidak mendapat hak akses itu ditempat yang tepat, misalnya: web-hosting. Tidak semua orang yang mendaftar boleh create database/user/tabel se-enaknya. Tapi bagaimanapun, web hosting tersebut tetap menerapkan metode “privilleges”. Seketat-ketat-nya batasan yang ada, kita masih mendapat account untuk akses ke databasenya (meskipun mungkin hanya sekedar VIEW).
Masalahnya disini… semua tulisan diatas hanyalah pengantar, hehe…
Sebuah kelucuan yang mengalahkan srimulat ataupun extravaganza, muncul disini. Seorang programmer yang diminta membangun aplikasi untuk perusahaan tersebut, tidak pernah menyelesaikan aplikasinya, ‘hanya’ karena tidak mempunyai hak akses ke database.
Bagaimana bisa?! programmer yang notabene suka nulis SELECT COUNT(bintang) FROM langit WHERE hari = ‘malam’ AND cuaca = ‘cerah’ sambil merem, gak bisa ngakses databases…
Alasan perusahaan tersebut adalah kerahasiaan data perusahaan (policy yang gak bijak juga). Selain karyawan dilarang masuk! Awas ada anjing galak!! kalau tetep ngotot tak setrum!!! Akhirnya, programmer coba meloby: “bagaimana kalau saya diberikan tiliknya aja?”



Hahahahahahahaha,
Good story for my breakfast :D.
Komentar oleh silent — April 5, 2006 @ 7:18 am
ini rasan-rasan oracle apa curhat?? hayoo… :p
Komentar oleh nikenike — April 5, 2006 @ 9:43 am
[…] Mbro said, Seorang programmer yang diminta membangun aplikasi untuk perusahaan tersebut, tidak pernah menyelesaikan aplikasinya, ‘hanya’ karena tidak mempunyai hak akses ke database. […]
Ping balik oleh Warung Sinau » Blog Archive » Akses Terbatas — April 5, 2006 @ 9:29 pm