Gara-gara tulisan priyadi tentang sudoku, aku jadi kepancing juga. Dan akhirnya beberapa game sudoku saya coba. Meski konsep dasar sudoku sama, tapi banyak juga varian game sudoku, berbayar maupun gratis.
Selain masalah Fee, yang membedakan antar game tersebut adalah faktor desain tampilan dan kemudahan pakai. Dari sekian game yang sudah saya coba, yang paling saya suka adalah GameHouse Sudoku.
Masalahnya, game ini hanya Free selama 120 menit dan setelah itu kita harus “membeli”nya. Nah… akhirnya muncul keisengan untuk mengakali bagaimana caranya agar game ini bisa jadi Free terus.

Saya sendiri tidak punya skill cracking. Jadi, saya gunakan logika-logika sederhana. Aturannya: “Ada variabel untuk menyimpan nilai 120 menit tersebut”. Pertanyaannya; dimanakah variabel tersebut disimpan?
baca selengkapnya…
Manusia adalah makhluk pembelajar. Setiap manusia memiliki metode belajarnya sendiri-sendiri. Tidak harus mengikuti “kurikulum”. Berbeda dengan Artificial Intelligence yang terpola dengan jelas (meskipun rumit), manusia mempunyai pola yang unik dan tak terhingga.

Berawal dari tidak tahu sama sekali tentang permainan Mahjong Tiles, saya harus mencoba sampai ratusan kali sampai benar-benar mempunyai strategi untuk memenangkan permainan ini (sampai 15 kali berturut-turut).
Saya menggunakan metode belajar “Trial and Error”. Tanpa mempelajari how-to maupun membaca petunjuk permainan, serta tanpa melakukan analisa mendalam diawal-awal permainan.
Dan setelah ratusan kali mencoba, dengan sendirinya saya menemukan trik untuk memenangkan permainan ini. Perlu percobaan sampai ratusan kali.
Seandainya saya mau membaca petunjuk permainan ini, serta mau sedikit berpikir keras (analisa) diawal permainan, mungkin saya tidak perlu mencoba-coba sampai ratusan kali.
Kembali kepada manusianya masing-masing. Mau coba-coba, atau menggunakan pikirannya.
baca selengkapnya…
http://twiki.org/, masih belum dicoba, tapi kelihatannya lumayan support banyak hal. Ntar diexplore…
Kamis Pon, 6 April 2006 @ 4:56 pm
Semalam rencananya mau finishing materi (slide dan kode-program) tentang JDeveloper. Tapi, karena dah capek banget, jadi ketiduran dan belum sempat belajar lagi serta membuat contoh aplikasi untuk didemokan.
Masalah yang sebenarnya adalah: Tidak menguasai materi!!!. Seminar tentang JDeveloper ini seharusnya dibawakan oleh orang yang ‘berpengalaman’, tapi karena tidak ada pemateri yang bisa hadir, akhirnya, saya diminta untuk mengisi seminar ini.
Apapun masalah yang terjadi saat seminar tadi, apapun kekurangan pada diri saya, yang jelas saya suka dengan quote dibawah ini:
If we do not find anything pleasant, at least we shall find something new.
Voltaire (1694-1778)
Dan dari seminar kali ini saya telah mendapat banyak pelajaran (bukan hanya tentang Oracle dan Java ;)).
baca selengkapnya…
Selasa Legi, 4 April 2006 @ 9:37 pm
ngomong masalah Oracle, jadi teringat dengan “kasus-kasus” klasik yang kelihatannya gak akan pernah hilang!!! apaan sih? begini ceritanya…
Sebuah (sebut saja) perusahaan mengaku menggunakan database Oracle, bahkan, mempunyai kontrak kerjasama langsung dengan vendornya. Tapi, itu kan masalah non-teknis. Artinya, mampu untuk membeli dan mampu lobi-lobi. Sedangkan yang terjadi di back-office, tak sesederhana itu.
Mereka membeli Oracle, hanya untuk kepentingan politik bisnis! Agar perusahaan tersebut terlihat sebagai perusahaan besar, karena menggunakan teknologi besar dari vendor besar, yang padahal mereka hanya besar diomongan.
Memang sih Oracle adalah database untuk skala Enterprise. 100% benar. Tapi akan jadi tidak benar bila aplikasi semacam Oracle ini tidak dimanfaatkan sepenuhnya. Ternyata (enaknya ngomong) Oracle-nya hanya digunakan untuk INSERT UPDATE DELETE SELECT bintang, dan query sederhana lainnya. Dan biar kelihatan Oracle banget, ditambahi sedikit PL/SQL (yang bikin repot aja).
baca selengkapnya…