Jika Sholat seperti Bekerja
Saat jalan-jalan di toko buku, saya menemukan buku yang berjudul “Jika Bekerja Seperti Sholat”. Buku tersebut membahas bagaimana seseorang (idealnya) mengerjakan tugas/pekerjaannya seperti aturan-aturan yang terdapat dalam sholat.
Bahasan yang menarik, tapi menurut hemat saya, tulisan tersebut mungkin lebih ditujukan kepada orang-orang yang bekerja dengan tidak benar, tetapi mempunyai sholat (paling tidak ilmunya) yang bagus.
Bagaimana dengan seorang pekerja giat? Saya balik dengan “Jika Sholat seperti Bekerja”. Mungkin saya bukan termasuk “workaholic”, tetapi lebih bersemangat kerja daripada sholatnya. Hahaha… ketahuan…
Seorang pekerja keras itu selalu disiplin, tepat waktu, profesional, dan mempunyai rencana dan tujuan yang matang. Pekerja, terutama yang untuk mencari nafkah dan demi memenuhi kebutuhan perut, pasti mendahulukan pekerjaannya daripada hal yang lainnya. Karena kita akan berpikir, “kalau tidak bekerja, saya tidak bisa makan”. Bahkan, sampai lupa makan, lupa anak-istri, lupa kewajiban-kewajiban lainnya. Ah… apa iya sih, seorang pekerja bisa sampai seperti itu?! hehe… itu kemungkinan besar terjadi buat orang wiraswasta yang pendapatannya ditentukan berdasarkan keras tidaknya dia bekerja. Kalau pekerja kantoran sih, bekerja ato tidak, tetep aja dapet gaji ![]()
Tapi, ada juga seorang karyawan yang profesional. Bekerja sesuai dengan tugas dan tanggungjawabnya secara profesional. Mempunyai rencana kerja yang matang. Dedikasi dan loyalitas tinggi kepada perusahaan. Tidak pernah terlambat masuk kantor. Tidak menyalahgunakan jam kerja.
Ah, seandainya sholat saya seperti bekerja… mmm… atau bekerja saya yang harusnya seperti sholat (yang benar)?

