Cita-cita (serupa tapi tak sama)

Sabtu Legi, 10 Desember 2005 @ 6:22 pm Label:

Saat melakukan “perjalanan jauh”, saya melihat dua orang yang sedang berboncengan, mengenakan jaket yang sama. Dibelakang jaket itu ada tulisan nama persatuan sepak bola (kira-kira baru di divisi satu). Kelihatannya, mereka sedang melakukan perjalanan jauh juga. Dari satu kota ke kota lainnya. Usianya mungkin sudah tidak remaja lagi, perkiraan, diatas 25 tahun. Tapi, kenapa mereka masih bersemangat dengan “sepak bola”nya? Meski profesi sebagai pemain sepak bola di Indonesia bukan profesi yang menjanjikan, mungkin mereka mempunyai tujuan lain dan cita-cita yang tidak kita ketahui.
Sesemangat itukah mereka? ngoyo-ngoyo melakukan perjalanan jauh… atau sudah berputus asa dengan lowongan pekerjaan lain yang tak kunjung diperolehnya?

Saya tidak ingin ngrasani para pemain sepak bola, tapi ingin menulis tentang cita-cita, yang serupa tapi tak sama.

Ada tiga anak kecil, sama-sama penggemar sepak bola. Ketika ditanya “apa cita-citamu nak?”, anak yang pertama menjawab, “saya ingin jadi pemain sepak bola”. Dua anak lainnya hampir bersamaan menjawab, “Saya juga!!!”.

Lalu, ketika pertanyaan itu dilanjutkan, “mengapa kamu ingin jadi pemain sepak bola?”, jawab anak yang pertama, “saya ingin menjadi pemain sepak bola seperti David Beckham. Permainannya bagus, bisa mengatur irama permainan, dan mencetak gol yang banyak untuk timnya. Saya ingin menjadi pemain sepak bola profesional. Saya suka bola dan akan terus berlatih bola. Siapa tahu saya bisa masuk ke timnas, dan bisa-bisa, dikontrak untuk pemain sepak bola di luar negeri… saya bisa belajar banyak dari pemain-pemain hebat”.

Pertanyaan yang sama untuk anak yang kedua. Jawabnya, “Saya ingin menjadi pemain sepak bola seperti David Beckham. Jadi orang terkenal, punya banyak uang, dikerubuti banyak cewek. Wah… pokoknya enak kalau jadi Beckham”.

Pertanyaan yang sama juga untuk anak yang ketiga, “mengapa kamu ingin menjadi pemain sepak bola?”. Jawab anak yang ketiga, “karena teman-teman saya ingin menjadi pemain sepak bola”. D

Serupa tapi tak sama
Semua orang mempunyai cita-cita. Meskipun kelihatannya sama, tetapi bisa saja cita-cita sebenarnya berbeda. Dan masih mending orang yang mempunyai cita-cita, meskipun cita-citanya gak tepak, daripada orang yang mempunyai cita-cita tetapi tidak mengetahui apa sih sebenarnya yang dia cita-citakan itu… seperti anak yang ketiga (apa yang ingin diraih kalau menjadi pemain sepak bola).

Anak ketiga, adalah tipe orang latah, suka mengikuti trend, dan tidak punya tujuan. Apa yang ada disekitarnya dia ikuti saja. Dia suka permainan sepak bola, karena teman-temannya suka. Dia ingin menjadi pemain sepak bola, karena teman-temannya juga. Dia takut ditinggal temannya. Dia gak perlu berpikir pusing-pusing tentang cita-cita. Biar teman-temannya saja yang berpikir, dia tinggal ngikut saja.

Anak yang kedua mungkin hanya melihat hasil, tanpa melihat prosesnya. Yang dia lihat adalah Bechkam yang sekarang. Yang dia lihat adalah enaknya menjadi Beckham. Semoga saja dia tidak lupa bagaimana perjalanan seorang Beckham…

Anak yang pertama, bercita-cita tinggi (atau muluk-muluk?), jeli, suka mikir, dan tahu detilnya. Mengerti seperti apa tugas sebenarnya seorang pemain sepak bola. Untuk menjadi seorang Beckham yang bisa bermain sebagus itu, tentu diperlukan tahap-tahap yang tidak instan. Anak ini punya tujuan dan rencana (untuk mencapai tujuan) yang jelas.

Ah… itukan hanya dugaan… karena belum tahu siapa sebenarnya ketiga anak ini.
Bisa saja anak yang pertama ini hanya MBULET memikirkan cita-citanya saja, lupa dengan tugas dan tanggungjawab lainnya. Dan anak yang kedua sebenarnya adalah anak yang hebat, karena bisa mengembangkan ide, dari seorang pemain sepak bola yang hanya bertugas memenangkan pertandingan, menjadi seorang pemain sepak bola selebritis. Sedangkan anak yang ketiga, adalah orang yang sabar, syukur, tidak memikirkan diri sendiri, peduli dengan teman-temannya. Dia selalu mengikuti teman-temannya, karena khawatir teman-temannya tidak bisa mengendalikan diri, emosi, dan hawa nafsu, saat proses maupun setelah mencapai cita-citanya.

hehe… kita tidak bisa menilai seseorang dengan asumsi. Perlu data dan fakta.

Post yang berhubungan:

Tidak ada Komentar »

Belum ada komentar.

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URL Lacak Balik

Tinggalkan komentar

38 queries. 0,264 seconds. Didukung oleh WordPress