Kesibukannya apa mas?

Senin Wage, 28 Nopember 2005 @ 12:18 pm Label:

Besok sabtu, 3 Desember 2005, kampusku menyelenggarakan wisuda. Karena harus menyelesaikan urusan-urusan adminstratif menjelang wisuda, jadi lebih sering mendengar kabar teman-teman lama yang pada akhirnya bisa juga menyelesaikan kuliahnya (kecuali saya ( ).

Ada banyak cerita, terutama masalah pernikahan dan pekerjaan. Ada yang sudah bekerja, meski beberapa orang, pekerjaannya tidak sesuai dengan pendidikan yang telah ditempuhnya. Tapi ada juga yang sedikit menyentuh. Ketika ditanya “kesibukannya apa mas, sekarang?”, jawabnya “aku sekarang sibuk cari kerja!!!”.
Lucu, tapi juga mengharukan.

Sekolah itu bukan untuk mencari pekerjaan
Sekolah, atau mengenyam pendidikan, tujuan utamanya bukan untuk mencari pekerjaan, melainkan mencari ilmu. Akan rugi orang yang mencapai pendidikan tinggi, tetapi tidak mendapatkan ilmunya. Dan jangan salahkan orang yang sudah menyelesaikan sekolahnya, namun bekerja tidak sesuai dengan pendidikannya.

Kalau orang tua “model kuno”, selalu menyarankan “sekolah yang tinggi ya nak… biar dapat pekerjaan enak…”. Akhirnya si anak pun menuruti kemauan orang tua, sekolah sampai jenjang yang paling tinggi. Apapun caranya, yang penting aku mendapatkan gelar agar bisa diterima kerja di perusahaan besar dengan gaji yang tinggi.

Padahal, sebenarnya (atau seharusnya), bekerja itu tidak memerlukan gelar, tetapi ilmu. Ketika kita bekerja di bengkel motor, misalnya, meskipun tidak memiliki gelar Sarjana Perbengkelan, selama mengetahui seluk beluk mesin motor dan belajar untuk bongkar pasang dan perbaikan, tentu kita bisa bekerja. Disini, tanpa gelar pun ternyata bisa, yang penting punya ilmunya.

Mengkombinasikan ilmu
Bagaimana dengan orang yang bekerja tidak sesuai dengan pendidikannya? dalam pelajaran bahasa Indonesia di sekolah dulu, orang semacam ini disebut dengan pengangguran semu.
Tapi tidak ada salahnya kita menjadi pengangguran semu, kalau pendapatan kita bisa lebih gede dari yang bekerja sesuai bidangnya.
Bagusnya pengangguran semu, dan kalau orangnya mau belajar, yang terjadi adalah penggabungan ilmu. Ilmu tentang teknologi informasi, yang dia dapat dari pendidikan formal, misalnya, digabung dengan ilmu perdagangan yang menjadi pekerjaannya sekarang ini (warisan orang tua, misalnya), tentu akan lebih hebat jadinya. Daripada yang menjalankan bisnis perdagangan tapi kurang mengetahui teknologi.

Gelar sebagai titel
Namun, bagaimanapun juga, sedikit banyak gelar masih diperlukan. Demikian kata orang-orang yang pernah menasehati saya. Memang dalam bekerja, ilmu itu yang utama. Tapi, perusahaan atau rekan bisnis, karena tidak tahu banyak siapa kita, tentu cara paling mudahnya melihat diri kita adalah melalui gelar.

Ya… semoga aja mereka tidak melihat dari satu sisi saja. Artinya, ketika mereka cukup mempercayai orang yang bergelar, semoga jangan sampai tertipu dan dirugikan.
Di Jakarta, saya mendengar beberapa kasus dari teman-teman sekolah saya dulu, seseorang lulusan Perguruan Tinggi Negeri yang bonafit, ketika bekerja di perusahaan besar, ternyata kinerja sungguh amat tidak memuaskan. Entah, bagaimana orang seperti ini bisa masuk perusahaan besar. Apakah karena alasan gelar dan almamaternya, atau nepotisme yang tidak tepat.

Susahnya cari kerja
Sibuk cari kerja… ada beberapa alasan kita belum juga mendapatkan pekerjaan. 1; terlalu memilih gaji, 2; gak mau bekerja yang susah-susah, 3; tidak mau bekerja di luar kota, 4; gak ada jenis pekerjaan yang sesuai.

mencari gaji tinggi
Kebanyakan alasan susahnya cari kerja, sebenarnya karena idealisme kita sendiri. Bagaimana bisa mendapat gaji yang besar, kalau kita belum berpengalaman bekerja? Kalau memang benar-benar “fresh-graduate” (semahal apapun biaya kuliah kita), lulusan yang segar, masih murni, belum pernah berpengalaman kerja sama sekali, untuk sementara gaji kecil tidak masalah. Kalau memang Anda orang yang terampil, pasti karir akan cepat naik, bila perusahaan tidak memperhatikan jenjang karir Anda, maka tinggal meloncat sedikit lebih tinggi diperusahaan lain. Kuncinya, kemampuan Anda sendiri dalam bekerja, kemampuan untuk terus belajar dan terus mencari pengalaman (kerja).

ingin bekerja santai?
Mana ada sih pekerjaan yang santai? tukang parkirpun, kelihatannya cukup santai. Tapi kalau seorang tukang parkir yang professional (di vallet parking, misalnya), harus benar-benar terampil dan tangkas. Bekerja sebagai penombok togel pun, tidak bisa dibilang santai. Mereka pasti sering pusing memilih-milih nomor togel yang harus dipasang, dan lebih pusing lagi kalau nomornya gak tembus.
Seberat apapun pekerjaannya, kalau dilandasi dengan niat yang ikhlas dan untuk mencari ridho, pasti akan dijalani dengan tenang dan santai (dalam konteks pikiran).

takut bekerja jauh dari rumah?
alasan ini biasanya karena orang tua yang melarang kita jauh-jauh meninggalkan rumah. Wah… kalau sudah kaya’ gini, ya minta gaji aja sama orang tua.
Tapi kalau ternyata kita sendiri yang berpikiran seperti ini, ya tunggu aja dapat perkerjaan yang enak dengan gaji gede, entah berapa tahun lagi…

gak ada pekerjaan yang sesuai
Seandainya memang benar-benar susah cari lowongan pekerjaan yang sesuai dengan bidang pendidikan kita, bukan alasan untuk tidak bekerja. Kalau memang benar-benar niat mencari pekerjaan, pasti aja ada peluang kerja untuk kita (kalau cerdik mencermati). Paling tidak sebagai batu loncatan ke jenjang berikutnya.
Saya pernah melihat lowongan di koran, ternyata gaji seorang sopir taksi, bisa lebih tinggi dari gaji programmer pemula. Bayangkan!!! sopir taksi yang cuman perlu skill nyetir mobil (dan tentunya dengan etiket kerja yang bagus)… gak perlu susah-susah dan pusing-pusing… hayo…

Buat sendiri lowongan pekerjaan
Jangan pernah melamar, melamar itu cukup satu kali seumur hidup. Yaitu melamar anak orang, hehe… itulah kata salah seorang “guru” saya. Kalau kita bisa membaca peluang, mungkin di’luar sana’ banyak peluang-peluang bisnis yang bisa kita kerjakan dan ditangani sendiri. Syukur-syukur, kalau memang bisa membuat lapangan pekerjaan sendiri, tentunya akan bisa membantu teman-teman kita yang lagi susah cari kerjaan, seperti permasalahan-permasalahan diatas.

Post yang berhubungan:

3 Komentars »

  1. aduh…. aku nggak terlambatkan ngasih komentar??
    ehm.. gw paling suka bagian yang “jangan pernah melamar, melamar itu cukup 1 kali seumur hidup. Yaitu melamar anak orang,he he…”
    so jangan diam aja,ayo MULAI!!

    Komentar oleh eddie bronk — Maret 9, 2007 @ 9:35 pm

  2. Kita belajar dibangku sekolah agar kita dapat melihat alam realita kehidupan disekeliling kita dengan wawasan yang lebih luas dimana kita berada. Sebenarnya lowongan kerja banyak terganting dari orangnya, mau menangkap peluang itu atau tidak. Saran saya pertama pelajari keadaan lingkungan kita, apa kekurangan dan kelebihan daerah itu, lalu analisa tentang hal2 yang dibutuhkan, lalu tangkap peluang itu dan jangan banyak berandai-andai. Langsung kerjakan dgn penuh disiplin. Go head sobat.

    Komentar oleh Musa Dani — Agustus 7, 2007 @ 2:32 pm

  3. Memang benar apa yang dikatakan diatas tentang alasan banyaknya orang belum memiliki pekerjaan. Dalam mencari kerja sebaiknya kita tidak terlalu milih - milih. Namun dalam mencari kerja pun kita hendaknya mencari pekerjaan yang memang kita senangi. Kalau tidak, buat apa nantinya kita kerja keras - keras tapi kita tidak enjoy. Kerja itu memang tidak mudah, namun yang ditekankan adalah bagaimana kita bisa membuat pekerjaan tersebut enjoy.
    Cuma mau kasih informasi. Bagi yang mencari kerja, coba click di www.jobkita.com deh. Di ww.jobkita.com terdapat aneka ragam lowongan pekerjaan yang qualified. Udah gitu kita tidak usah repot - repot beli amplop, perangko dan bayar biaya kirimnya, karena Cvnya bisa langsung dikirim lewat internet. Mudah kan. Sukses untuk mereka yang masih mencari kerja. :)

    Komentar oleh arya — Nopember 30, 2007 @ 9:01 am

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URL Lacak Balik

Tinggalkan komentar

38 queries. 0,289 seconds. Didukung oleh WordPress