Blogging itu berbagi ilmu

Rabu Legi, 30 Nopember 2005 @ 1:23 pm Label:

Blog bukan buku, blog bukan karya ilmiah, blog bukan artikel koran, blog bukan majalah. Tulis aja apa yang kita ketahui dengan gaya bahasa kita sendiri. Alasan tata bahasa tidak perlu dimunculkan. Meski pada akhirnya, kalau kita sudah terbiasa menulis, harusnya mulai melirik ‘tata-bahasa’nya.

Sedikit informasi/ilmu yang kita miliki, bila di posting dalam sebuah blog, akan bermanfaat bagi orang lain, meskipun tidak dalam waktu singkat. Misalnya, catatan kita saat belajar PHP yang mengalami kesulitan saat membuat program RSS Reader. Setelah kita menyelesaikan koding dan permasalahannya, kemudian coba ditulis/dokumentasikan, bila suatu saat ada orang yang mempunyai permasalahan yang sama, mereka bisa merujuk ke tulisan kita. (Buat mbro; jangan omong tok!!! coba diterapkan D )

Dari mana mereka bisa mengetahui tulisan-tulisan kita, padahal kita tidak mempublikasikan alamat blog (URL)? Biasanya datang dari search engine, gak usah kawatir.

Tapi ingat, membuat blog bukan berarti membuat tulisan untuk orang lain. Seandainya bisa, silahkan membuat tulisan yang ‘mudah dibaca orang lain’. Kalau kesusahan, yang penting NULIS DULU. Karena membuat blog tidak hanya bermanfaat bagi orang lain, tetapi sebenarnya lebih besar manfaatnya bagi diri kita sendiri.

So… bagi yang ingin ngeblog, selamat ngeblog!!! bagi yang sudah punya blog, terus berjuang!!! bagi yang gak mau ngeblog, selamat membaca!!! bagi yang malas membaca, mau jadi apa elo???!!!

Blog itu catatan

Selasa Kliwon, 29 Nopember 2005 @ 1:21 pm Label:

A blog is a web page that contains brief, discrete hunks of information called posts. These posts are arranged in reverse-chronological order (the most recent posts come first). Each post is uniquely identified by an anchor tag, and it is marked with a permanent link that can be referred to by others who wish to link to it.

kutipan diatas adalah definisi tentang blog dari buku Essential Blogging (O’Reilly, 2002). Enaknya ngomong, blog berisi sekumpulan posting (di ineternet?) yang diurutkan secara kronologis (berdasarkan waktu).

Kalau saya mendefinisikan blog, blog adalah catatan-catatan seseorang atau sekelompok orang yang tersimpan di web (online diary). Ngeblog bukan berarti membuat tulisan-tulisan agar dibaca orang lain, melainkan sekedar membuat catatan pribadi atau kelompok.

Memang, sesekali kita bisa membuat artikel, tapi itu bukan keharusan. Jadi blog kita tidak harus berisi artikel-artikel dengan tulisan ‘indah’. Ketakutan tidak bisa membuat tulisan yang bagus, terkadang menjadi KENDALA UTAMA untuk tidak posting. Ini yang salah…

Saya melihat, beberapa blog teman yang terdaftar di blogroll saya jarang di update. Ada beberapa alasan; 1. karena terbatas akses internet, 2. Ingin posting tapi takut gak bisa bikin tulisan indah, 3. karena males posting.

Untuk alasan keterbatasan akses internet, saya gak bisa menyalahkan. Bukan suatu kewajiban kita mengupdate blog. Jadi jangan ada keterpaksaan untuk mengakses internet karena harus ngeblog.

Tapi ada juga, jarang posting karena gak bisa bikin tulisan ‘indah’. Inilah persepsi yang salah. Kita tidak bisa langsung membuat tulisan yang bagus kalau tidak pernah belajar menulis. Bagaimana caranya belajar menulis? salah satunya dengan blogging, atau membuat catatan harian. Adanya kebiasan menulis (dan membaca) adalah salah satu syarat untuk bisa membuat tulisan yang ‘cantik’. Hehe… inilah kenapa saya suka blogging, karena sedang belajar menulis!

Karena males posting? wah… kalau ada kata males, aku gak bisa ngomong apa-apa. Tapi bisa dicari kok, asal-usul kemalasannya. Dan kalau ingin menghilangkan sifat males, salah satunya, WAJIB dan HARUS RAJIN BLOGGING. (hehe, meyalahi alasan yang pertama ;) ).

Kesibukannya apa mas?

Senin Wage, 28 Nopember 2005 @ 12:18 pm Label:

Besok sabtu, 3 Desember 2005, kampusku menyelenggarakan wisuda. Karena harus menyelesaikan urusan-urusan adminstratif menjelang wisuda, jadi lebih sering mendengar kabar teman-teman lama yang pada akhirnya bisa juga menyelesaikan kuliahnya (kecuali saya ( ).

Ada banyak cerita, terutama masalah pernikahan dan pekerjaan. Ada yang sudah bekerja, meski beberapa orang, pekerjaannya tidak sesuai dengan pendidikan yang telah ditempuhnya. Tapi ada juga yang sedikit menyentuh. Ketika ditanya “kesibukannya apa mas, sekarang?”, jawabnya “aku sekarang sibuk cari kerja!!!”.
Lucu, tapi juga mengharukan.

Sekolah itu bukan untuk mencari pekerjaan
Sekolah, atau mengenyam pendidikan, tujuan utamanya bukan untuk mencari pekerjaan, melainkan mencari ilmu. Akan rugi orang yang mencapai pendidikan tinggi, tetapi tidak mendapatkan ilmunya. Dan jangan salahkan orang yang sudah menyelesaikan sekolahnya, namun bekerja tidak sesuai dengan pendidikannya.

Kalau orang tua “model kuno”, selalu menyarankan “sekolah yang tinggi ya nak… biar dapat pekerjaan enak…”. Akhirnya si anak pun menuruti kemauan orang tua, sekolah sampai jenjang yang paling tinggi. Apapun caranya, yang penting aku mendapatkan gelar agar bisa diterima kerja di perusahaan besar dengan gaji yang tinggi.

Padahal, sebenarnya (atau seharusnya), bekerja itu tidak memerlukan gelar, tetapi ilmu. Ketika kita bekerja di bengkel motor, misalnya, meskipun tidak memiliki gelar Sarjana Perbengkelan, selama mengetahui seluk beluk mesin motor dan belajar untuk bongkar pasang dan perbaikan, tentu kita bisa bekerja. Disini, tanpa gelar pun ternyata bisa, yang penting punya ilmunya.

Mengkombinasikan ilmu
Bagaimana dengan orang yang bekerja tidak sesuai dengan pendidikannya? dalam pelajaran bahasa Indonesia di sekolah dulu, orang semacam ini disebut dengan pengangguran semu.
Tapi tidak ada salahnya kita menjadi pengangguran semu, kalau pendapatan kita bisa lebih gede dari yang bekerja sesuai bidangnya.
Bagusnya pengangguran semu, dan kalau orangnya mau belajar, yang terjadi adalah penggabungan ilmu. Ilmu tentang teknologi informasi, yang dia dapat dari pendidikan formal, misalnya, digabung dengan ilmu perdagangan yang menjadi pekerjaannya sekarang ini (warisan orang tua, misalnya), tentu akan lebih hebat jadinya. Daripada yang menjalankan bisnis perdagangan tapi kurang mengetahui teknologi.

Gelar sebagai titel
Namun, bagaimanapun juga, sedikit banyak gelar masih diperlukan. Demikian kata orang-orang yang pernah menasehati saya. Memang dalam bekerja, ilmu itu yang utama. Tapi, perusahaan atau rekan bisnis, karena tidak tahu banyak siapa kita, tentu cara paling mudahnya melihat diri kita adalah melalui gelar.

Ya… semoga aja mereka tidak melihat dari satu sisi saja. Artinya, ketika mereka cukup mempercayai orang yang bergelar, semoga jangan sampai tertipu dan dirugikan.
Di Jakarta, saya mendengar beberapa kasus dari teman-teman sekolah saya dulu, seseorang lulusan Perguruan Tinggi Negeri yang bonafit, ketika bekerja di perusahaan besar, ternyata kinerja sungguh amat tidak memuaskan. Entah, bagaimana orang seperti ini bisa masuk perusahaan besar. Apakah karena alasan gelar dan almamaternya, atau nepotisme yang tidak tepat.

Susahnya cari kerja
Sibuk cari kerja… ada beberapa alasan kita belum juga mendapatkan pekerjaan. 1; terlalu memilih gaji, 2; gak mau bekerja yang susah-susah, 3; tidak mau bekerja di luar kota, 4; gak ada jenis pekerjaan yang sesuai.

mencari gaji tinggi
Kebanyakan alasan susahnya cari kerja, sebenarnya karena idealisme kita sendiri. Bagaimana bisa mendapat gaji yang besar, kalau kita belum berpengalaman bekerja? Kalau memang benar-benar “fresh-graduate” (semahal apapun biaya kuliah kita), lulusan yang segar, masih murni, belum pernah berpengalaman kerja sama sekali, untuk sementara gaji kecil tidak masalah. Kalau memang Anda orang yang terampil, pasti karir akan cepat naik, bila perusahaan tidak memperhatikan jenjang karir Anda, maka tinggal meloncat sedikit lebih tinggi diperusahaan lain. Kuncinya, kemampuan Anda sendiri dalam bekerja, kemampuan untuk terus belajar dan terus mencari pengalaman (kerja).

ingin bekerja santai?
Mana ada sih pekerjaan yang santai? tukang parkirpun, kelihatannya cukup santai. Tapi kalau seorang tukang parkir yang professional (di vallet parking, misalnya), harus benar-benar terampil dan tangkas. Bekerja sebagai penombok togel pun, tidak bisa dibilang santai. Mereka pasti sering pusing memilih-milih nomor togel yang harus dipasang, dan lebih pusing lagi kalau nomornya gak tembus.
Seberat apapun pekerjaannya, kalau dilandasi dengan niat yang ikhlas dan untuk mencari ridho, pasti akan dijalani dengan tenang dan santai (dalam konteks pikiran).

takut bekerja jauh dari rumah?
alasan ini biasanya karena orang tua yang melarang kita jauh-jauh meninggalkan rumah. Wah… kalau sudah kaya’ gini, ya minta gaji aja sama orang tua.
Tapi kalau ternyata kita sendiri yang berpikiran seperti ini, ya tunggu aja dapat perkerjaan yang enak dengan gaji gede, entah berapa tahun lagi…

gak ada pekerjaan yang sesuai
Seandainya memang benar-benar susah cari lowongan pekerjaan yang sesuai dengan bidang pendidikan kita, bukan alasan untuk tidak bekerja. Kalau memang benar-benar niat mencari pekerjaan, pasti aja ada peluang kerja untuk kita (kalau cerdik mencermati). Paling tidak sebagai batu loncatan ke jenjang berikutnya.
Saya pernah melihat lowongan di koran, ternyata gaji seorang sopir taksi, bisa lebih tinggi dari gaji programmer pemula. Bayangkan!!! sopir taksi yang cuman perlu skill nyetir mobil (dan tentunya dengan etiket kerja yang bagus)… gak perlu susah-susah dan pusing-pusing… hayo…

Buat sendiri lowongan pekerjaan
Jangan pernah melamar, melamar itu cukup satu kali seumur hidup. Yaitu melamar anak orang, hehe… itulah kata salah seorang “guru” saya. Kalau kita bisa membaca peluang, mungkin di’luar sana’ banyak peluang-peluang bisnis yang bisa kita kerjakan dan ditangani sendiri. Syukur-syukur, kalau memang bisa membuat lapangan pekerjaan sendiri, tentunya akan bisa membantu teman-teman kita yang lagi susah cari kerjaan, seperti permasalahan-permasalahan diatas.

Akhirnya

Jumat Legi, 25 Nopember 2005 @ 8:25 pm

akhirnya selesai juga pekerjaan hari ini. Bikin beberapa blog dari wordpress yang tak customize sendiri ;)
akhirnya nemu juga warnet yang bisa buat akses control-panel ku.
akhirnya, aplikasi di kontrol panel masih belum bisa juga buat auto extract atau compress.
akhirnya, aku harus buat program sendiri deh… biar teman-teman yang udah tak buatin blog, bisa manage dengan mudah. Sabar, ya kawan…
akhirnya, aku bisa ngantuk juga =)) !!! hahaha…

Kecewa

Jumat Legi, 25 Nopember 2005 @ 5:28 pm

Direwangi bengi-bengi lari ke warnet yang rencananya mau upload macem-macem data, eh… ternyata aku dikecewakan.
Hosting
Hosting di rakdata.com, control panelnya kaku banget. Masalah-masalah sebelumnya, susah buat maintenance file zip (extract and backup on server). Dari dulu sampe sekarang, gak bisa akses FTP. Uh… lha trus, aku pake apa’an dong biar bisa manage server??? !@#$%^&*

Warnet
Nih juga, warnetnya (atau ISP) ngeblokir port yang dipake buat akses CPanel. Emang sih, aksesnya cepet, tapi nek gak iso konek lak yo podo ae

huh… sabar… ikhlas… manfaatkan untuk belajar yang lain yah… ***menasehatidirisendiri***

Freelance Jobs

17 queries. 0,446 seconds. Didukung oleh WordPress

Loading