Ilmu Ikhlas

Jumat Legi, 21 Oktober 2005 @ 6:59 pm Label:

Ternyata belum habis juga ujian si Fandy dari pak haji Romli biar lulus sebagai bakal calon suaminya Sarah. Setelah diuji untuk belajar sholat dalam waktu swear (dua minggu ;) ) dan dilanjutkan dengan ujian baca Al-Qur’an, Haji Romli masih meragukan Fandy untuk menjadi menantunya.
Nah, kalau sudah gitu, Saprol sama mak-nya jadi ikut repot juga. Apalagi Kipli (my-favourite-character D ), tapi bisanya cuman bikin repot, hehe…. Dan yang paling ‘bertanggung-jawab’… dua pembantu Fandy.
Apa sih ujiannya? Fandy disuruh untuk belajar ilmu ikhlas.
Emak Saprol udah nanya ke guru agama yang sekarang jadi kepala sekolah, trus nanya ke bidan, dukun, dsb, tapi masih belum bisa menemukan jawaban tentang ilmu ikhlas. Saprol dan Kipli juga berusaha untuk membantu Fandy.

Hmmm… bagaimana kelanjutan cerita ini ya? jadi gak sabar nunggu tayangannya nanti malam. Salut buat pembuat sinetron Kiamat Sudah Dekat ini. Cerita sinetron yang realistis dan metode dakwahnya yang lebih merakyat, membuat saya lebih menghargai tayangan televisi, dibanding tayangan-tayangan yang sudah ada selama ini.
Keep Good Work, pak haji…

Nice Trip

Jumat Legi, 21 Oktober 2005 @ 5:01 pm Label:

Sebuah perjalanan tidak bisa hanya dinilai dari jarak dan waktu tempuh. Meskipun itu panjang dan lama, terkadang tidak artinya. Namun, perjalanan pendek dan singkat, terkadang penuh makna. Pulang kampung, menempuh jarak 190km dengan waktu kurang lebih 3,5 jam, siang hari dibulan puasa. Catatan perjalanan pulang kampung, 11/10/2005.


Siang hari sekitar pukul setengah dua, saya mulai tour de east java ;) malemnya udah di-prepare, jadi tinggal berangkat aja.
Baru saja mulai ’start’ untuk menempuh perjalanan panjang, eh… di daerah bungurasih dekat pintu tol, diuji dengan kemacetan dan bonus panas terik ( (. Jangankan mobil yang mau coba nerobos… sepeda motor-pun gak bisa bergerak. Wah… kalau begini caranya, sama aja dengan naik mobil. Malah lebih nyaman karena gak terkena sinar matahari langsung (
Tapi enaknya naik sepeda motor, masih bisa berjalan disela-sela mobil yang jaraknya kira-kira setengah meteran. Itupun harus nunggu kesempatan mobil didepannya bergerak dulu, baru kita potong mobil yang ada dibelakangnya (ih, nakal gak ya, pengendara sepeda motor seperti ini?).
Dengan sedikit kesabaran menunggu, dan tetap ikhtiar mencari jalan longgar, akhirnya bisa terbebas dari kemacetan yang mencapai 2 km tadi.

Setelah terbebas dari kemacetan, jalanan didepan cukup longgar. Bayanganku, bisa tancap gas dengan lancar. Ternyata, bukan karena kepadatan arus, tapi sekarang tantangannya, jalan-jalan yang tidak rapi dan sedikit berlubang. Sabar… masih belum bisa jalan cepat. Terlihat aspal dikeruk sebagian untuk diperbaiki. Jadinya, harus belak-belok untuk mencari jalan yang halus mulai keluar dari Bungurasih sampai mendekati Krian.

Berusaha untuk gas pol, tapi tetap mikirin keselamatan. Biar cepat asal selamat. Sampai akhirnya, aku menemukan kesenangan. Bagaimana tidak, perjalanan mulai dari Mojokerto, Mojoagung, sampai masuk kota Jombang, bisa jalan dengan kecepatan rata-rata 100km/jam. Jalanan gak begitu rame kalau untuk seukuran jalan propinsi. Sekaligus nguji top speed-nya sepeda motorku, 115km/jam, bo… sepanjang 5 km. Wuih… senangnya hatiku, bisa jalan cepat kaya gini. Mungkin bagi pemerhati otomotif, biasa-biasa aja. Tapi bagiku… wis pokok’e uueenakkk tenannnn.

Istirahat sejenak di mesjid pinggir jalan di Perak, Jombang. Sambil bikin sedikit catatan ;) Lalu perjalanan dilanjutkan. Ternyata, perjalanan siang hari, gak begitu panas-panas amat. Hanya di sekitar Surabaya aja yang memang terasa menyengat. Atau mungkin karena mendung, ya?
Kertosono sampai Nganjuk, bisa ngebut lagi. Tapi gak bisa top-speed karena kalah sama angin. Sepedaku agak terseok-seok tertiup angin. Tetep aja, biar cepat asal selamat. Oh, iya… ngisi bensin lagi di SPBU mendekati kota Nganjuk. Padahal tadi waktu berangkat udah diisi penuh, sekarang sudah habis lagi. Jadinya, ongkos untuk pulang habis 20ribu… lebih mahal dari ongkos bis (

Masuk wilayah Madiun, alas Wilangan, gak bisa jalan cepat. Biasalah… truk-truk bermuatan, jalannya melambat karena jalan sedikit menanjak. Sambil mencuri-curi kesempatan, berusaha melewati marka panjang, lolos juga dari jebakan kura-kura.
Menjelang masuk kota Madiun, cuaca cukup sejuk karena habis hujan. Alhamdulillah, untung hujannya dah selesai. Jalan yang basah, tapi gak licin, dan udara yang lembab… tancap-gas!

Nyampe rumah dah… dan ternyata belum waktunya buka!!!! Hmmm… setelah melepas semua asesori perjalanan, leyeh-leyeh sejenak melepaskan lelah karena menggendong tas ransel dengan beban sekitar 10kg. Puih…

Next: Pelajaran dari perjalanan

Tidur yang berkualitas

Jumat Wage, 14 Oktober 2005 @ 9:36 pm Label:

Setiap mengeluarkan pertanyaan “bagaimana tidur yang berkualitas itu?” kepada temans, pasti sebagian besar menjawab hal sama, yaitu: “tidur yang kuantitasnya banyak”. Hahaha… dasar tukang tidur!!!
Ada satu teman yang menjawab lain, “tidur yang berkualitas itu adalah tidur yang ikhlas”. Bagaimana maksudnya? sebelum membahas jawaban teman saya tadi, saya mempunyai ‘catatan’ tentang tidur, yang sebagian besar dari kita kemungkinan besar juga pernah mengalami hal yang serupa.
Pada suatu waktu, kita dituntut untuk bangun pagi, atau bangun tidur diluar kebiasaan. Misalnya, harus berangkat lebih pagi dari jadwal rutin karena upacara, atau harus bangun lebih pagi karena ada tugas ke luar kota. Atau, contoh lain, harus bangun jam 3 pagi untuk makan sahur.
Bila kita niat dengan benar, maka pada jam yang kita inginkan tadi, pasti akan terbangun. Meski terkadang dibantu dengan jam weker atau alarm, kalau mau kita pikir-pikir lagi, sebelum weker berbunyi, sebenarnya kita sudah terbangun. Saya pribadi sering mengalami hal seperti ini. Dan menurut saya, hal itu juga berlaku pada sebagaian besar manusia yang mempunyai pola tidur normal (maap, ini tidak dibuktikan dengan riset formal, hanya berasal dari obrolan-obrolan ringan).

Yang jadi pertanyaan adalah: kenapa kok bisa seperti ini?. Kenapa kok waktu bangun tidur bisa diprogram? Bisakah waktu mulai tidur itu juga diprogram? Antara tidur dan sadar pasti ada ‘batas’nya. Dimana batas tidur ini? dimana letak saklar untuk membangunkan dan menidurkan? Saya yakin pasti ada ’saklar’nya, hanya kita saja yang belum tahu.

Kembali ke jawaban tentang ‘tidur yang ikhlas’, katanya…

Tidur yang berkualitas bukan berarti harus tidur di kasur empuk dan ruangan ber-AC. Tapi saat menjelang tidur, hilangkan semua beban pikiran dan mulai berniat untuk tidur dan berdoa dan berserah diri akan hidup dan mati… ikhlas.

Nah, disini susahnya, programmer seperti saya, biasanya tidurnya karena terpaksa… kalau sudah benar-benar capek. Bahkan, saking ’suka mikir’, program-pun diselesaikan dalam mimpi… hehehe… keterlaluan. Tapi kok bisa, ya… pikiran kita bisa dilanjutkan di alam mimpi. Apa sih mimpi itu? ;)

Ada juga jawaban lain, tidur adalah proses meregangkan semua kegiatan fisik. Namun demikian, tetap saja terjadi beberapa ‘proses’, seperti tetap mengalirnya aliran darah. Dan bukan berarti dengan tidur kita pasti akan merasa segar setelah bangun tidur. Lihat saja kalau kita sedang mengalami mimpi buruk, dikejar-kejar anjing, misalnya. Bisa saja saat bangun tidur, peluh keringat membasahi tubuh kita seperti habis berolahraga, walaupun di ruang dingin sejuk dan ber-AC.
Saat kita tidur, normalnya, nafas kita berjalan teratur dengan irama yang stabil. Jadi, kalau mau ‘tidur’ dalam keadaan sadar, silahkan atur nafas seperti nafasnya orang yang sedang tidur. Dengan demikian, bila tujuan tidur untuk mengistirahatkan fisik, bisa diganti pengaturan nafas yang baik.
Lho… bukannya tidur juga mengistirahatkan mata? haha… sambil mengatur nafas, mata terpejam, konsentrasi ke satu titik, hilangkan pikiran tentang program yang harus segera diselesaikan, tanggungan hutang, atau beban mengerjakan Tugas Akhir… lalu berdzikir.


Ah… ada-ada saja… yang penting cari kasur empuk, pejamkan mata, mikirin apa yang terjadi hari ini… dan tak terasa kita tertidur… sampai kita terbangun 12 jam kemudian karena dering handphone sialan, atau mendengar suara gaduh televisi dari kamar sebelah, hehe…

Siapa yang membangunkan aku?

Jumat Wage, 14 Oktober 2005 @ 9:35 pm

Jum’at dini hari pukul dua belas setengah malam, tiba-tiba aku terbangun dengan kondisi seratus persen sadar tanpa proses akselerasi. Hmmm… siapa yang mbangunkan aku?

Memang diluar kebiasaan, aku tidur malam.Bukan karena bulan Ramadhan, pada bulan-bulan lainnya pun, gak biasa tidur malam. Tapi karena besok (Jum’at) pagi ada tanggungan silaturrahmi, aku coba untuk istirahat malam, menggantikan jatah tidur pagi hari. Kalau gak salah sekitar jam 11 malam aku mulai tidur, dengan niat bangun jam dua setengah untuk makan sahur.
Aku tidur ditempat tidur favoritku, sofa di ruang tamu. Suasana desa yang sepi mencekam dikala malam dan tak terdengar suara-suara buatan manusia (televisi, mobil, telepon, dsb), ternyata gak bisa menemani tidurku. Aku dibangunkan oleh ’sesuatu’, entah itu apa… aku sempat bingung sejenak, dan berkata lirih… amin.

Mau tidur lagi sudah gak bisa, gak berani nonton TV takut ganggu yang lainnya, internet gak ada, mau coding males, ngapain lagi hayo…
Jadinya… Jum’at pagi tetep tidur ( dan acara silaturrahmi diundur abis Jum’atan ( (

AKU

Senin Kliwon, 10 Oktober 2005 @ 7:40 am

yo aku...
Aku dengan segala keangkuhanku
memandang keatas, lupa yang bawah
tak peduli kiri dan kanan
seperti itukah aku?

Aku… begitulah aku
inginnya begini, tapi dianggap begitu
Aku… belum tentu aku
tak seorangpun yang benar-benar tahu

Aku dengan segala rahasiaku
hanya Tuhan Yang Maha Tahu
wallahu’alam

21 queries. 0,709 seconds. Didukung oleh WordPress