Profesional = be your self?

Sabtu Wage, 29 Oktober 2005 @ 11:58 am Label:

Tengah malam setelah menyelesaikan kewajibans, pengen istirahat sebentar. Tapi bingung, mau ngapain. Mau tidur, bukannya takut kebablasan gak bisa makan sahur, tapi memang gak bisa tidur. Sedangkan temans sudah tidur semua. Nonton TV, banyak yang gambarnya semut tawuran. Yang ada hanya tayangan bola di dua stasiun TV. Terpaksa deh, ditonton meski gak begitu interest.

Gak tahu pertandingan tim mana lawan mana, yang penting mata gak nganggur. Nah pas ngeliat tuh tayangan, ada kejadian menarik. Salah satu pemain dikenakan kartu kuning karena dianggap melakukan pelanggaran. Kemudian ditampilkan tayangan ulangnya (reply in slow-motion). Lalu wajah pemain yang dikenakan kartu kuning tersebut di zoom cukup lama.

Hmmm… Terlepas dari permasalahan apakah pemain tersebut benar-benar melakukan pelanggaran atau tidak sehingga mendapat kartu kuning, setiap pemain bola yang sedang bertanding mendapat peluang besar untuk di shoot-on-camera. Wajah (dan perilakunya) di tayangkan secara jelas melalui kamera/tv sehingga dapat disaksikan oleh banyak orang. Terimakasih terhadap kemajuan teknologi yang sudah bisa memonitor secara detil setiap gerak pemain dari berbagai macam angle kamera.

Apakah pemain tersebut harus berpura-pura lugu untuk menunjukkan kesan bahwa dia tidak melakukan kesalahan? Apakah dia harus selalu berakting seandainya memang dia melakukan kesalahan, tetapi ingin menyembunyikannya? Kalau demikian, apakah dia harus selalu berakting setiap kali bermain? Mungkin hanya perlu akting dalam waktu 90 menit. 90 menit minimal seminggu sekali selama satu musim pertandingan… apakah dia harus terus berakting untuk berpura-pura sebagai orang yang baik untuk menyembunyikan kesalahan?

Tidak hanya masalah melakukan pelanggaran. Ada juga pemain yang suka mengumpat, dan yang lebih buruk lagi, berkelahi atau tawuran. Hal itu disaksikan oleh banyak orang. Memang, mungkin tidak banyak orang-orang seperti ini. Karena setahu saya, banyak pemain bola luar negeri yang memegang prinsip fair play.

Para pemain adalah orang-orang profesional yang memang prinsip fair play. Bermain sesuai aturan dan gak mau main curang (bener gak ya?). Jadi, bagi orang yang fair play, setiap gerak, langkah, dan ekspresi wajahnya adalah bentuk nilai profesional, bukan karena takut keburukannya dilihat oleh banyak orang.

be your self
Jadi teringat, dulu waktu saya masih kecil, sempat berpikir bahwa, kita ini berada dalam sebuah filem layar lebar yang bertema ‘live-reality-show’ dan ditonton ‘makhluk lain’ disebuah tempat seperti bioskop. Bayangan saya, saya adalah peran utamanya. Waktu itu saya berpikir, saya harus ber’pose’ menarik, biar tidak memalukan, hehe…

Apakah kita harus berpura-pura lugu atau berpura-pura baik di hadapan orang, demi mendapatkan sanjungan dan kesan orang baik? Karena ada pernyataan “saya tidak mau menunjukkan keburukan saya di hadapan orang lain”.
Gimana ya? ya be-your-self ajah… trus kalau our-selfnya gak baik, gimana? ya maka dari itu, selfnya dibaikin, memperbaiki diri sendiri, jadi biar semakin tenang untuk be-your-self.

Apakah kalau mau jadi be-your-self harus menunggu diri kita benar-benar menjadi orang yang baik? hahaha… apa sih takaran orang baik itu?

Lalu apa hubungannya profesional dan be your self?
au ah… gitu aja kok repot =))

Post yang berhubungan:

Tidak ada Komentar »

Belum ada komentar.

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URL Lacak Balik

Tinggalkan komentar

37 queries. 0,276 seconds. Didukung oleh WordPress