Dibodohi aturan

Kamis Pahing, 27 Oktober 2005 @ 10:09 am Label:

Barusan jalan ke bungurasih ngantar teman yang mau mudik. Ngelihat banyak kendaraan yang lalu lalang, terutama di sekitar bundaran waru yang terlihat cukup rumit, jadi kepikiran lagi masalah ‘kebodohan manusia’. Sambil nunggu buka puasa, ngabuburit di warnet ) , trus blogging dah…

Gimana tidak, ‘aturan-aturan’ atau mungkin lebih tepatnya standard alat ukur, yang semula ditujukan sebagai standard bagi orang-orang biar gak bingung dan agar sinkron antar orang satu dengan yang lain atau antar orang dari kebudayaan satu dengan yang lainnya.
Apa sih maksudnya? begini loh… jarak, waktu, berat, dan sebagainya kan mempunyai ukuran, seperti: meter, jam, kilo, dan kilometer per jam.
Yang memancing otak saya untuk berpikir adalah, ternyata kita dibatasi oleh standard. Gerak dan olah pikir manusia, yang sebenarnya jauh lebih hebat dari yang disadari, ternyata hanya berhenti karena adanya alat ukur-alat ukur seperti itu.

Misalnya, saya sedang berkendaraan dengan kecepatan laju, dari arah yang berlawanan ada kendaraan lain yang melaju lebih lambat. Sedangkan dibelakang kendaraan tersebut ada kendaraan lainnya yang hendak mendahului. Tiba-tiba kendaraan dibelakang mengambil jalan saya, saya gak mau terpengaruh… kendaraan tetap saya kendalikan dengan kecepatan dan arah yang stabil.
Kenapa? karena saya mampu mengukur kecepatan dan waktu kira-kira mobil yang menyalip tersebut tepat didepan kendaraan saya. Dan saya yakin, sopir penyalip tersebut juga mempunyai perhitungan ‘kira-kira’ yang sama.
Berapa kecepatannya? berapa jaraknya? kita berdua (saya dan lawan) tidak pernah tahu persis jaraknya. Hanya dengan feeling, tanpa perlu menghitung kecepatan = jarak dibagi waktu (v = h/s, tul gak ya rumusnya?) ternyata kita juga selamat.

Trus apa gunanya jarak?

dah gitu aja dulu… dah waktunya buka….

Post yang berhubungan:

5 Komentars »

  1. “buka..buka… yang aus.. yang aus..
    aqua-nya oom.. ” terdengar sayup-sayup dari balik jendela warnet…
    –budiw

    Komentar oleh budiw — Oktober 28, 2005 @ 12:34 pm

  2. woi, ini orang apa gak mudi ya???
    Nek mudik ojo dolan neng Sarangan, banyune sat =)

    Komentar oleh 8L4cK_1c3 — Oktober 29, 2005 @ 3:06 pm

  3. Wahaha… mong Magetan oey! omongane Sarangan… mudik ke Magetan gak? Aku mudik besok hari Selasa je.

    Komentar oleh MBro — Oktober 29, 2005 @ 6:36 pm

  4. lha ‘kira-kira’ kih lak yo ukuran to ru.
    btw, aturan mbek ukuran podho nggak ru ? :)

    Komentar oleh watonist — Nopember 9, 2005 @ 1:20 pm

  5. haha… itu tulisannya emang belum selesai. Sebuah ukuran (atau standard ukur) tanpa kita sadari, akan menjadi sebuah aturan. Yang artinya, kita akan mengikuti standard atau ukuran baku tersebut sebagai aturan MUTLAK. Padahal tidak demikian.
    Cerita diatas sebenarnya hanya sebagai pengantar, atau sebuah contoh, bagaimana pola pikir kita dibatasi oleh aturan. Sebenarnya, kalau kita mau keluar dari standar (ilmu duniawi yang kebanyakan diajarkan di sekolah) yang sudah ada, kita akan memperoleh hal yang luar biasa…!!! apa itu? coba cari dan rasakan sendiri ;) JANGAN MAU DIBATASI ATURAN!!!

    Komentar oleh MBro — Nopember 9, 2005 @ 11:45 pm

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URL Lacak Balik

Tinggalkan komentar

40 queries. 0,269 seconds. Didukung oleh WordPress