Tidur yang berkualitas
Setiap mengeluarkan pertanyaan “bagaimana tidur yang berkualitas itu?” kepada temans, pasti sebagian besar menjawab hal sama, yaitu: “tidur yang kuantitasnya banyak”. Hahaha… dasar tukang tidur!!!
Ada satu teman yang menjawab lain, “tidur yang berkualitas itu adalah tidur yang ikhlas”. Bagaimana maksudnya? sebelum membahas jawaban teman saya tadi, saya mempunyai ‘catatan’ tentang tidur, yang sebagian besar dari kita kemungkinan besar juga pernah mengalami hal yang serupa.
Pada suatu waktu, kita dituntut untuk bangun pagi, atau bangun tidur diluar kebiasaan. Misalnya, harus berangkat lebih pagi dari jadwal rutin karena upacara, atau harus bangun lebih pagi karena ada tugas ke luar kota. Atau, contoh lain, harus bangun jam 3 pagi untuk makan sahur.
Bila kita niat dengan benar, maka pada jam yang kita inginkan tadi, pasti akan terbangun. Meski terkadang dibantu dengan jam weker atau alarm, kalau mau kita pikir-pikir lagi, sebelum weker berbunyi, sebenarnya kita sudah terbangun. Saya pribadi sering mengalami hal seperti ini. Dan menurut saya, hal itu juga berlaku pada sebagaian besar manusia yang mempunyai pola tidur normal (maap, ini tidak dibuktikan dengan riset formal, hanya berasal dari obrolan-obrolan ringan).
Yang jadi pertanyaan adalah: kenapa kok bisa seperti ini?. Kenapa kok waktu bangun tidur bisa diprogram? Bisakah waktu mulai tidur itu juga diprogram? Antara tidur dan sadar pasti ada ‘batas’nya. Dimana batas tidur ini? dimana letak saklar untuk membangunkan dan menidurkan? Saya yakin pasti ada ’saklar’nya, hanya kita saja yang belum tahu.
Kembali ke jawaban tentang ‘tidur yang ikhlas’, katanya…
Tidur yang berkualitas bukan berarti harus tidur di kasur empuk dan ruangan ber-AC. Tapi saat menjelang tidur, hilangkan semua beban pikiran dan mulai berniat untuk tidur dan berdoa dan berserah diri akan hidup dan mati… ikhlas.
Nah, disini susahnya, programmer seperti saya, biasanya tidurnya karena terpaksa… kalau sudah benar-benar capek. Bahkan, saking ’suka mikir’, program-pun diselesaikan dalam mimpi… hehehe… keterlaluan. Tapi kok bisa, ya… pikiran kita bisa dilanjutkan di alam mimpi. Apa sih mimpi itu?
Ada juga jawaban lain, tidur adalah proses meregangkan semua kegiatan fisik. Namun demikian, tetap saja terjadi beberapa ‘proses’, seperti tetap mengalirnya aliran darah. Dan bukan berarti dengan tidur kita pasti akan merasa segar setelah bangun tidur. Lihat saja kalau kita sedang mengalami mimpi buruk, dikejar-kejar anjing, misalnya. Bisa saja saat bangun tidur, peluh keringat membasahi tubuh kita seperti habis berolahraga, walaupun di ruang dingin sejuk dan ber-AC.
Saat kita tidur, normalnya, nafas kita berjalan teratur dengan irama yang stabil. Jadi, kalau mau ‘tidur’ dalam keadaan sadar, silahkan atur nafas seperti nafasnya orang yang sedang tidur. Dengan demikian, bila tujuan tidur untuk mengistirahatkan fisik, bisa diganti pengaturan nafas yang baik.
Lho… bukannya tidur juga mengistirahatkan mata? haha… sambil mengatur nafas, mata terpejam, konsentrasi ke satu titik, hilangkan pikiran tentang program yang harus segera diselesaikan, tanggungan hutang, atau beban mengerjakan Tugas Akhir… lalu berdzikir.
Ah… ada-ada saja… yang penting cari kasur empuk, pejamkan mata, mikirin apa yang terjadi hari ini… dan tak terasa kita tertidur… sampai kita terbangun 12 jam kemudian karena dering handphone sialan, atau mendengar suara gaduh televisi dari kamar sebelah, hehe…


*plak* *plak* *plak*
(menepuk bantal, sambil berharap bangun jam 3 pagi)
–budiw
Komentar oleh budiw — Oktober 19, 2005 @ 6:54 pm
klo mo bangun jam 12? *plak**plak**plak* … sampek 12 kali?
primitif ih.. :p
oh ya, klo tadi untuk menggantikan mengistirahatkan fisik dengan mengatur nafas yang baik. Ada salah satu rumus kecantikan, yaitu tidur yang cukup! nah lo, ada gantinya gak?
-me lagi konsultasi kecantikan-
Komentar oleh nike — Oktober 20, 2005 @ 9:40 am
#1: primitif? Tapi lebih hebat dari weker! Kan sama-sama bisa mensugesti untuk bangun tidur.
#2: lho konsultasi kecantikan? Kok nang kene =)) tidur yang cukup, kan tujuannya istirahat. Menurut “teori kecantikan umum”, kecantikan itu tampak dari wajah dan perilaku. Wajah akan tampak segar bila beristirahat yang ‘cukup’. Tapi ada resep lain yang dapat membuat wajah tampak lebih segar dan bercahaya… Apaan tuh? Ada deh… Mau tau aja (gaya ceriwis-yo wis)
Komentar oleh MBro — Oktober 21, 2005 @ 3:43 am