Nge-Rock kok…

Senin Legi, 31 Oktober 2005 @ 10:56 pm Label:

rokokku...
Pagi hari, abis sahur, sholat subuh, ngelanjutin koding… pas lagi enak-enaknya ‘n lagi pusing-pusingnya ngoding, disebelah ada rokok… Dilihat, dipegang, trus dinyalain… UPS!!! ini-kan bulan puasa!!!!!
Hmmm… tahan nafas dan tahan nafsu. Bisakah saya bekerja tanpa asap?

Malam Lailatul Qodar

Senin Legi, 31 Oktober 2005 @ 10:26 pm

Lucu juga judulnya, udah malam… kok ditambahi lail… Emang gue sengaja nulis seperti itu, karena pas ngliat sinetron Keluarga Senyum, di episode seorang anak bule yang bertanya-tanya tentang lailatul qodar, dia mengeluarkan pertanyaan yang ‘bagus’, “Kalau ada malam lailatul qodar, kenapa gak ada siang lailatul qodar?”

"Sesungguhnya Kami telah menurunkan (Al-Qur’an) saat Lailatul Qadar (malam kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu? Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar."

(Al-Qadr: 1-5)

Profesional = be your self?

Sabtu Wage, 29 Oktober 2005 @ 11:58 am Label:

Tengah malam setelah menyelesaikan kewajibans, pengen istirahat sebentar. Tapi bingung, mau ngapain. Mau tidur, bukannya takut kebablasan gak bisa makan sahur, tapi memang gak bisa tidur. Sedangkan temans sudah tidur semua. Nonton TV, banyak yang gambarnya semut tawuran. Yang ada hanya tayangan bola di dua stasiun TV. Terpaksa deh, ditonton meski gak begitu interest.

Gak tahu pertandingan tim mana lawan mana, yang penting mata gak nganggur. Nah pas ngeliat tuh tayangan, ada kejadian menarik. Salah satu pemain dikenakan kartu kuning karena dianggap melakukan pelanggaran. Kemudian ditampilkan tayangan ulangnya (reply in slow-motion). Lalu wajah pemain yang dikenakan kartu kuning tersebut di zoom cukup lama.

Hmmm… Terlepas dari permasalahan apakah pemain tersebut benar-benar melakukan pelanggaran atau tidak sehingga mendapat kartu kuning, setiap pemain bola yang sedang bertanding mendapat peluang besar untuk di shoot-on-camera. Wajah (dan perilakunya) di tayangkan secara jelas melalui kamera/tv sehingga dapat disaksikan oleh banyak orang. Terimakasih terhadap kemajuan teknologi yang sudah bisa memonitor secara detil setiap gerak pemain dari berbagai macam angle kamera.

Apakah pemain tersebut harus berpura-pura lugu untuk menunjukkan kesan bahwa dia tidak melakukan kesalahan? Apakah dia harus selalu berakting seandainya memang dia melakukan kesalahan, tetapi ingin menyembunyikannya? Kalau demikian, apakah dia harus selalu berakting setiap kali bermain? Mungkin hanya perlu akting dalam waktu 90 menit. 90 menit minimal seminggu sekali selama satu musim pertandingan… apakah dia harus terus berakting untuk berpura-pura sebagai orang yang baik untuk menyembunyikan kesalahan?

Tidak hanya masalah melakukan pelanggaran. Ada juga pemain yang suka mengumpat, dan yang lebih buruk lagi, berkelahi atau tawuran. Hal itu disaksikan oleh banyak orang. Memang, mungkin tidak banyak orang-orang seperti ini. Karena setahu saya, banyak pemain bola luar negeri yang memegang prinsip fair play.

Para pemain adalah orang-orang profesional yang memang prinsip fair play. Bermain sesuai aturan dan gak mau main curang (bener gak ya?). Jadi, bagi orang yang fair play, setiap gerak, langkah, dan ekspresi wajahnya adalah bentuk nilai profesional, bukan karena takut keburukannya dilihat oleh banyak orang.

be your self
Jadi teringat, dulu waktu saya masih kecil, sempat berpikir bahwa, kita ini berada dalam sebuah filem layar lebar yang bertema ‘live-reality-show’ dan ditonton ‘makhluk lain’ disebuah tempat seperti bioskop. Bayangan saya, saya adalah peran utamanya. Waktu itu saya berpikir, saya harus ber’pose’ menarik, biar tidak memalukan, hehe…

Apakah kita harus berpura-pura lugu atau berpura-pura baik di hadapan orang, demi mendapatkan sanjungan dan kesan orang baik? Karena ada pernyataan “saya tidak mau menunjukkan keburukan saya di hadapan orang lain”.
Gimana ya? ya be-your-self ajah… trus kalau our-selfnya gak baik, gimana? ya maka dari itu, selfnya dibaikin, memperbaiki diri sendiri, jadi biar semakin tenang untuk be-your-self.

Apakah kalau mau jadi be-your-self harus menunggu diri kita benar-benar menjadi orang yang baik? hahaha… apa sih takaran orang baik itu?

Lalu apa hubungannya profesional dan be your self?
au ah… gitu aja kok repot =))

Dibodohi aturan

Kamis Pahing, 27 Oktober 2005 @ 10:09 am Label:

Barusan jalan ke bungurasih ngantar teman yang mau mudik. Ngelihat banyak kendaraan yang lalu lalang, terutama di sekitar bundaran waru yang terlihat cukup rumit, jadi kepikiran lagi masalah ‘kebodohan manusia’. Sambil nunggu buka puasa, ngabuburit di warnet ) , trus blogging dah…

Gimana tidak, ‘aturan-aturan’ atau mungkin lebih tepatnya standard alat ukur, yang semula ditujukan sebagai standard bagi orang-orang biar gak bingung dan agar sinkron antar orang satu dengan yang lain atau antar orang dari kebudayaan satu dengan yang lainnya.
Apa sih maksudnya? begini loh… jarak, waktu, berat, dan sebagainya kan mempunyai ukuran, seperti: meter, jam, kilo, dan kilometer per jam.
Yang memancing otak saya untuk berpikir adalah, ternyata kita dibatasi oleh standard. Gerak dan olah pikir manusia, yang sebenarnya jauh lebih hebat dari yang disadari, ternyata hanya berhenti karena adanya alat ukur-alat ukur seperti itu.

Misalnya, saya sedang berkendaraan dengan kecepatan laju, dari arah yang berlawanan ada kendaraan lain yang melaju lebih lambat. Sedangkan dibelakang kendaraan tersebut ada kendaraan lainnya yang hendak mendahului. Tiba-tiba kendaraan dibelakang mengambil jalan saya, saya gak mau terpengaruh… kendaraan tetap saya kendalikan dengan kecepatan dan arah yang stabil.
Kenapa? karena saya mampu mengukur kecepatan dan waktu kira-kira mobil yang menyalip tersebut tepat didepan kendaraan saya. Dan saya yakin, sopir penyalip tersebut juga mempunyai perhitungan ‘kira-kira’ yang sama.
Berapa kecepatannya? berapa jaraknya? kita berdua (saya dan lawan) tidak pernah tahu persis jaraknya. Hanya dengan feeling, tanpa perlu menghitung kecepatan = jarak dibagi waktu (v = h/s, tul gak ya rumusnya?) ternyata kita juga selamat.

Trus apa gunanya jarak?

dah gitu aja dulu… dah waktunya buka….

Merah dan Biru

Kamis Pahing, 27 Oktober 2005 @ 9:43 am Label:

Merah dan Biru Merah dan Biru, warna favoritku. Terserah mau mengartikan apa warna-warna tersebut, saya menyukai warna ini dari visualnya saja. Gak sok pundit dulu D

Sayang kameranya gak bagus, gambar ini diambil malam hari dikamar remang-remang. Ada helm kesukaanku yang berwarna biru di dekat kasur. Trus, persis disebelahnya ada sebungkus rokok (warna hijau) dan korek yang warnanya merah. Wuih, menarik nih klo di capture.

19 queries. 0,247 seconds. Didukung oleh WordPress