Sebagai mahasiswa jurusan Sistem Informasi, saya cukup banyak dijejali dengan pelajaran tentang teknologi dan sistem-sistem yang ideal. Saking terlalu enjoy dengan matakuliahnya, setiap pelajaran yang saya terima, sering saya makan mentah-mentah, dan menjadikan diri saya sebagai seorang yang idealis dalam bidang IT.
Sampai suatu saat, idealisme dan fanatisme saya digoyahkan dengan opini sederhana dari seorang teman.
“Mas… jangan ngomong paperless dah… kertas itu kagak bisa digantikan fungsinya.
Jangan bilang karena kemajuan teknologi sejauh ini, membuat kertas tidak lagi berfungsi. Kalau mau tahu, kebutuhan kertas saat ini malah semakin melonjak. Banyak perusahaan percetakan yang sering kekurangan stok!!!”.
Lho.. kok bisa???
“Bagaimana tidak, yang pertama, masih banyak yang lebih suka mencetak dulu tulisan PDF baru dibaca, daripada di baca pake Acrobat, hehe…”, trus…
“Adanya teknologi komputer dan printer, dan harga yang semakin murah, membuat orang semakin perfeksionis. Sering mengulang-ulang hasil cetakan ketika dianggap hasilnya kurang memuaskan. Kertaskan murah…!!!!”
Hehe… iya, ya… bahkan teman saya yang sedang mengerjakan Tugas Akhir, harus mencetak berapa kali tuh, sampai habis ribuan lembar. Bagaimana tidak, mulai dari proposal TA yang sering di revisi, sampai buku TA yang segitu tebalnya, harus dicetak lagi hanya karena kesalahan nomor halaman atau format penulisan.
Belum lagi, sekarang ini, yang namanya penerbit (dan penulis) semakin bejibun. Berbagai macam jenis buku dan gaya tulisan, koran, majalah, tabloid (yang sebenarnya banyak kemiripan) hampir setiap bulan ada yang baru.
“Begini mas… kertas baru bisa digantikan fungsinya, bila ada ‘alat’ baru yang sefleksibel kertas/buku.”
Lalu, bagaimana dengan paperless untuk kegiatan kerja perusahaan? “wah… kalau itu mah, lain lagi ceritanya… tapi bagaimanapun juga, perusahaan masih perlu KERTAS!!!”.
au ah… gelap… 