Kesalahan bukan pada layar TV Anda
Barusan jalan-jalan di perpus, baca-baca buku tentang elementary education. Ternyata, buku-buku tulisan orang Indonesia jaman doeloe (tahun 80-90an), sudah memaparkan konsep pendidikan yang luman bagus dan ideal (lupa judul-judulnya, tapi kalau mau dicari lagi diperpus ada, kok).
Tidak jauh dari konsep KBK (kurikulum ‘04) yang katanya sebagai perubahan (bukan perbaikan, loh…
) kurikulum, ternyata orang-orang jaman dulu sudah memikirkan hal yang tidak jauh berbeda.
Berulang-ulang kita melakukan perubahan kurikulum (saja), saya yakin, tidak akan pernah bisa memperoleh hasil pembelajaran yang baik, tanpa diimbangi peran serta guru dan sekolah sebagai ujung tombak penyelenggara pendidikan.
Simalakama… sekolah gratis? pendidikan murah? kompensasi BBM? gaji guru?
Mau pintar kok mahal… Tanya Kenapa???
guru adalah PNS, banyak guru bantu yang ingin diangkat jadi PNS, tapi susah. Karena kalah sama calon guru PNS baru yang punya lebih banyak modal. Menjadi PNS adalah investasi yang menggiurkan… dengan modal puluhan juta, nilai investasi tersebut akan dikembalikan dalam bentuk gaji bulanan seumur hidup (pensiun). Tanpa perlu bekerja keras dan berpikir pusing, setiap bulan PNS pasti dapat ‘kucuran dana’. So, kenapa harus pusing-pusing mikirin pendidikan yang bagus, mengevaluasi hasil belajar siswa, menyusun tujuan instruksional, monitoring perkembangan siswa per individu, mencatat nilai kognitif, afektif, dan psikomotorik secara detil, jujur dan benar… KENAPA HARUS REPOT-REPOT MELAKUKAN ITU SEMUA???
maka… pendidikan di Indonesia tidak akan pernah menjadi lebih baik dari sekarang ini.



Jadi?
Ujung-ujungnya duit neh?
Komentar oleh woodlink — Oktober 4, 2005 @ 4:51 pm
UUD (Ujung-ujungnya Duit)??? hmmm… kenyataan yang tidak bisa dipungkiri…
kecuali buat orang-orang yang benar-benar peduli dengan pendidikan dan masa depan bangsa. Yang punya duit bantu dana, yang punya skill bantu kerja, yang punya otak bantu mikir… tapi, MIMPI KALI YEE…
Komentar oleh MBro — Oktober 4, 2005 @ 11:19 pm