Semuanya Tidak Ada yang Benar

Selasa Kliwon, 20 September 2005 @ 2:14 am Label:

Beberapa waktu yang lalu saya sempat memberikan komentar di blognya imponk, yang di tanggapi dengan: benar + benar = salah.

Apakah statemen diatas valid (benar)? menurut saya bisa benar, bisa juga salah, tergantung dari sudut pandang kita. Akan menjadi salah bila kita baca sebagai operasi aritmatika, benar ditambah benar seharusnya menjadi dua benar.
benar + benar = 2benar
kalau benar dan salah diartikan sebagai nilai logika, kita bisa melakukan pembenaran (statemen tersebut menjadi valid, atau bisa dibenarkan) dengan ‘membaca’ tanda plus sebagai operator XOR, yang mempunyai tabel kebenaran logika sebagai berikut:

A B A xor B
salah salah salah
salah benar benar
benar salah benar
benar benar salah

saya tidak ingin memaksa pembenaran terhadap statemen diatas (benar+benar=salah), hanya ingin mengingatkan bahwa BENAR/kebenaran itu ternyata relatif! D

Benar itu relatif
Dalam sebuah persidangan, acara debat, atau hanya ’sekedar’ adu argumen, ilmu logika/mantiq (dan filsafat pada umumnya) dijadikan alat untuk memenangkannya. Minimal ada dua pihak yang berseberangan, untuk mencari siapa yang benar (dan akhirnya ‘dianggap’ menang).

Saya pasti benar
saya yang paling benar
percayalah… ini yang benar

Dari proses adu argumen tersebut, dua pihak meyakini kebenaran masing-masing, atau terpaksa meyakininya demi ‘kemenangan’. Lalu berusaha untuk mempertahankan kebenarannya sendiri, meskipun dalam hatinya, terkadang, menerima kebenaran lawan.
Menurut saya, lebih banyak manusia yang ingin memenangkan argumennya masing-masing, daripada yang bisa ‘legawa’ menerima kebenaran dari pihak lawan.

Dalam kasus lain, mungkin cara berpikir seperti inilah yang membuat kita susah mencapai keputusan mufakat, dan lebih memilih voting.

Melakukan pembenaran: sebagai contoh, dari tiga prinsip dasar operasi logika (AND OR NOT) saja, bisa direkayasa ‘output’nya agar sesuai dengan keinginan. Sehingga muncullah bermacam-macam operasi, seperti NAND, NOR, XOR, XNOR, de el el. Kita bisa saja menyatakan diri kita yang paling benar, dengan membuat ‘rangkaian logika’ yang sedemikian rupa sehingga kita pasti benar.

Dalam menyampaikan ‘ajaran’ filsafatnya, Socrates terkenal dengan gaya ‘pasar’nya. Mengajak diskusi setiap orang yang ditemuinya di pasar, sampai akhirnya, lawan bicaranya tidak dapat membantah argumennya, dan harus mengakui kebenaran statemennya. Dalam hal ini terjadilah proses pembenaran.

Demikian juga ajaran-ajaran agama yang ada di muka bumi ini. Mereka semua melakukan pembenaran sedemikian rupa sehingga banyak orang yang mengikutinya. Saya yakin, tidak ada orang yang ingin mengikuti ajaran yang salah. At least, mereka akan mengikuti ajaran-ajaran, yang dianggap benar menurut pemikiran dan logikanya masing-masing.

Kebenaran dari setiap manusia bersifat relatif, yaitu benar menurut dia atau kelompoknya. Jadi, tidak ada benar yang paling benar ya? Lalu, dimana letak kebenaran yang sebenar-benarnya?

“Hanya Tuhan Yang Maha Benar, yang memiliki kebenaran Mutlak”

Post yang berhubungan:

Tidak ada Komentar »

  1. dan posting kali ini mempunyai peluang kesalahan. heheheh. nice posting!

    Komentar oleh Imponk — September 23, 2005 @ 5:31 am

  2. Kalau menurut saya, saya rasa sudah benar. Tapi gak tau kalau imponk melihat ada kesalahan… hehe… ;)

    Komentar oleh MBro — September 23, 2005 @ 10:13 am

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URL Lacak Balik

Tinggalkan komentar

41 queries. 0,283 seconds. Didukung oleh WordPress