Saya Hadiiirrr!!!

Rabu Pon, 24 Agustus 2005 @ 4:36 pm

Hanya sekedar ngisi blog. Sudah seminggu pasif, soalnya lagi travelling. Ternyata, kalau dah travelling, dan karena alasan akses internet yang terbatas, nge-Blog jadi males juga.
Bukan karena gak ada bahan tulisan, tapi biasanya, kalau dah travelling, semua pemikiran cuman masuk ke otak, dan parahnya… males nulis ulang. D D
Rencananya mau re-design layout blog ini, tapi nunggu waktu luang dulu, karena sekarang ini lagi bertapa… benar-benar konsentrasi untuk masa depan ;)

SMS 160: Iseng

Rabu Pon, 24 Agustus 2005 @ 4:33 pm Label:

Selamat Pagi!! Just say Hello. Nggak usah dibaca tulisan berikutnya. Seperti biasa, aku suka nulis SMS tepat 160 karakter. Belajar istiqomah dan nggak mubadzir.

Diblokir

Kamis Pahing, 18 Agustus 2005 @ 7:43 am

“Masa berlaku kartu Anda telah habis. Anda tidak dapat melakukan dan menerima panggilan”, hahaha… baru saja aku nulis tentang Internet Gratis, eh… sekarang nomor IM3-ku mati.
Apa orang-orang IM3 suka baca blog-ku, ya? kok ampe ketahuan =)) ya udah… ntar beli perdana lagi D

Islam Liberal, kenapa tidak?

Kamis Pahing, 18 Agustus 2005 @ 6:09 am Label:

Pas lagi duduk nyantai-nyantai, ada koran Kompas bekas. Tertarik judulnya aku coba baca, dan… jadi pengen berkomentar soal ini dah. Tulisan ini juga ada di situsnya kompas.


Ahmadiyah, yang baru-baru ini lagi jadi sorotan publik, dan Muhammad Yusman Roy dengan sholat dwi-bahasanya, yang baru saja pudar dari media massa, adalah contoh kecil dari hasil pemikiran liberal.
Untuk menyampaikan ‘ajaran’nya, dibuatlah pembenaran yang sedemikian rupa, sehingga dapat menarik sejumlah massa.

Mungkin, dari kalangan ortodoks, fanatik, dan … yang kontra terhadap pemikiran liberal, sudah menghukum final bahwa ajaran-ajaran tersebut adalah sesat, seperti fatwa yang dikeluarkan MUI.
Tapi bagaimana dengan yang pro-Islam Liberal?

Ajaran yang dhoif
Sumber hukum Islam ada 3, yaitu: Al-Qur’an, Hadits, dan Ijtihad (ijma’ dan qiyash). Al-Qur’an sendiri telah terjaga dan dijamin kebenaran dan keasliannya sampai hari akhir. Sedangkan hadits, sejauh yang saya tahu, belum ada ‘jaminan’nya. Jaminan kebenaran hadits ditentukan melalui sebuah prosedur penilaian, sehingga muncul istilah mulai hadits shahih (sah/benar) sampai hadits dhoif (lemah).
Sedangkan Ijma’ dan qiyash ini yang lebih tidak jelas lagi jaminannya. Sehingga orang awampun berprinsip, “saya mengikuti saja hasil pemikiran para orang-orang yang berilmu (ulama). Toh mereka sebagai pemimpin kan, harus bertanggung jawab terhadap orang-orang yang dipimpinnya?”.

Lalu, bagaimana kita bisa menerima ‘pemikiran liberal?’
Menurut saya, kenapa tidak kita tiru saja sistem untuk menilai hadits (Mustholah hadits). Ajaran yang mungkin terlihat nyleneh bagi kita, bisa jadi ada benarnya. Kita lihat saja siapa perawinya (minjem istilah hadits).
Apakah orang yang menyampaikan ajaran tersebut baik akhlaknya, halus budi pekertinya, dilindungi/terjaga sejak masih kecil, wara’, tekun beribadah, istiqomah, de es te.

Seandainya saya menjadi penyampai ajaran, mungkin saya termasuk yang dhoif D D D

Jangan (hanya bisa) menyalahkan pemikiran liberal
Pemikiran liberal yang terlalu ekstrim, memang bisa menyesatkan. Tapi, kita tidak bisa menyalahkan begitu saja. Kita sendiri, sadar atau tidak, telah mengikuti arus/aliran/ajaran dari orang-orang yang berpikir (dan mungkin, bisa jadi liberal juga ;) )
Ormas Islam yang ada di Indonesia, yang katanya hanya sekedar organisasi masyarakat, juga mempunyai perbedaan (terutama dalam hal) syariat. Belum lagi adanya bermacam-macam ajaran Thoriqoh. Apa ‘ajaran-ajaran’ tersebut tidak liberal?
Apakah semua itu harus dilarang? apakah hanya ajaran saya saja yang paling ‘valid’? apakah saya benar-benar mengikuti ajaran dari satu golongan yang selamat diantara 71 golongan lainnya?
Orang kalau sudah merasa dirinya paling benar… wah…

Ajaran Syeh Siti Jenar
Setahu saya, ada banyak ajaran (yang pada dasarnya) mirip-mirip dengan apa yang (seharusnya) disampaikan oleh Syeh Siti Jenar. Lalu kenapa ajarans itu tidak di’eliminasi’? Kuncinya terletak pada cara penyampaian. Cara penyampaian yang kurang tepat, mengakibatkan ajarannya sesat. Dan orang yang sedang ‘mengaji’ ajaran tersebut pun, seharusnya benar-benar mempunyai landasan yang kuat. Jangan orang yang baru bisa mengucapkan syahadat, lalu menerima ajaran-ajaran tauhid yang aneh-aneh. Bisa sesat juga tuh orang… karena apa yang ingin disampaikan oleh penyampai ajaran (ada yang menyebut, Mursyid) diterima/dipahami dengan tidak benar.


Jangan terlalu fanatik, jangan mudah mengikuti trend, berpikir dengan akal sehat, berserah diri kepada-Nya. Audzubillahiminasy syaithoonirrajiem

Internetan Gratis dengan IM3

Kamis Pahing, 18 Agustus 2005 @ 5:53 am

Gak tau apa ini memang program dari IM3, atau karena kesalahan teknis. Soalnya, dengan modal kartu perdana dan pulsa 25rebu, aku bisa internetan cukup lama dan traffic-nya total sudah lebih dari 10Mega.
Tapi, gara-gara dapat akses gratis, yang semula aku sudah nyiapin beberapa tulisan, malah jadi bingung, gak jadi nulis. Tahu kalau dapat internet gratis, aku malah gak bisa ngapa-ngapain (cuman browsing-browsing yang tanpa tujuan)… wah mungkin memang gak cocok kalau pake internet gratis ;)

19 queries. 0,454 seconds. Didukung oleh WordPress

Loading