Jadi Sopir Angkot
Hidup di Jakarta, gak punya motor, apalagi mobil, kemana-mana harus naik angkot. Gerah yang terasa dalam angkot, tak bisa mengalahkan rasa kantuk. Aku duduk di kursi paling belakang, sambil bersandar, tanpa terasa aku tertidur… dan bermimpi…
Angkot aku kemudikan perlahan sambil menunggu berkumpulnya penumpang di halte berikutnya. Hidup ini aku jalani begitu saja. Ternyata nyaman juga menjadi sopir angkot. Cuaca yang panas akibat asap kendaraan tidak begitu terasa bila aku kemudikan angkot ini sambil selalu mengingat-Nya.
Penumpang satu persatu masuk ke angkotku, dan sebagian memilih angkot yang lain, meski trayeknya sama. Aku yakin Tuhan telah memberikan rizqinya secara adil kepada makhlukNya. Angkot terus aku kemudikan, sesekali berhenti menurunkan penumpang, dan tak jauh dari situ, penumpang yang lainnya naik.
Aku mendengar “seruan” yang diteriakkan dari sebuah speaker, terdengar cukup keras ditelingaku karena baru saja aku melewatinya. Sekilas kulihat orang yang sedang berjalan ditengah terik matahari, hampir tidak mempunyai bayang-bayang. Ya… ini memang sudah waktunya.
Sebentar lagi aku sampai di terminal tujuan. Aku tetap tenang, dan ingin mengantarkan penumpang-penumpangku dengan selamat. Setelah sampai di terminal, angkot aku parkir di posisi yang aman, dan semoga tidak mengganggu orang maupun kendaraan lainnya. Akupun segera menunaikan kewajiban.
Membasuh muka membuat diriku menjadi segar kembali. Menggerakkan badan, menghilangkan rasa capek. Aku duduk sejenak untuk bersyukur dan (terus) kembali mengingatNya.
Lalu kubawa angkot berjalan ke terminal satunya. Penumpang adalah rizqi, aku hanya perlu menjalankan angkot, dari satu terminal, ke terminal lainnya.
Menjadi sopir angkot hanyalah sarana untuk beribadah. Di dalam angkot aku tetap harus beribadah. Mengemudikan angkot dengan baik dan tidak ugal-ugalan, melayani penumpang dengan nyaman, memberikan tarif dan uang kembali yang sesuai, mengikuti aturan rambu-rambu lalulintas, tidak saling berebut penumpang, dan yang tak kalah penting, selalu mengingatNya.
Oh… hidup ini terasa indah…
“Dhuar… brak… bruk…”, tiba-tiba aku terbangun dari mimpi sejenak. Seorang pengendara sepeda motor yang kelihatannya tergesa-gesa, jatuh dari trotoar dan menabrak bagian belakang angkot, persis didekatku.
“Sialan lo… kurang kerjaan, ye… liat nih, angkot gue jadi berantakan gini. Tau nggak, berapa ongkos buat betulin ini? Udah di rumah istri lagi sakit, bingung bayar uang masuk sekolah anak, tagihan listrik belum dibayar, utang udah segunung.. darimana gue dapat uang sebanyak itu ?!@#$%^&*”, maki sopir angkot setelah turun dan mendekati pengendara sepeda motor tadi.
Lalu… drama kemacetanpun dimulai… action!!!



wahh.. seneng nduwe konco iso sing sumeleh ngene iki. keep being muchlisin Mbro
Komentar oleh watonist — September 3, 2005 @ 4:10 am
hehehe… thx for the comments
Komentar oleh MBro — September 5, 2005 @ 8:01 pm