Kutipan

Senin Pon, 29 Agustus 2005 @ 2:49 am Label:

Hidup seperti sebuah cerita, bagaimana pun ending-nya tetap saja berakhir. Jadilah pemeran yang benar2 menjiwai dari cerita kehidupan ini.


kutipan diatas ditulis di footer email punya seorang teman yang sekarang sedang ‘naik gunung’. Kata-kata Jadilah pemeran, mengingatkan aku tentang ‘bayangkanku’ waktu masih kecil dulu. Aku membayangkan bahwa hidup kita ini ibarat sebuah filem reality show yang ditayangkan disebuah layar lebar (bioskop), ditonton oleh ‘orang-orang’ yang lain dari kita D Saya adalah peran utama, dan yang lain hanyalah peran pendukung. Hal itu relatif pada setiap manusia, dan mungkin saya juga peran pendukung bagi kehidupan Anda.

Protected: Foto Keluarga

Minggu Pahing, 28 Agustus 2005 @ 7:53 pm Label:

This post is password protected. To view it please enter your password below:

Colorful

Minggu Pahing, 28 Agustus 2005 @ 7:45 pm Label:

Pas lagi buka-buka arsip foto, nemu gambar yang cukup menarik, COLORFUL. Foto liburan di telaga sarangan waktu tahun baru kemaren.

Foto ini diambil pake kamera HP-607 dengan resolusi aslinya 3MP. Tapi demi menghemat benwit, dikecilin aja. Semoga masih bisa menikmati keindahan warna hasil jepretanku ;)

Colorful

Pejuang Angkatan 2005

Minggu Pahing, 28 Agustus 2005 @ 7:00 pm Label:

Masih hangat dalam pikiran kita peringatan HUT RI ke 60. Merayakan hari kemerdekaan dengan upacara dan berbagai macam lomba yang meriah dan berhadiah. Berapa banyak orang yang meramaikan? Berapa banyak uang yang telah dikeluarkan? Dan berapa banyak orang yang mencoba merenungi dan memikirkan hikmah perjuangan kakek buyut kita?

Berjuang bukan sekedar memperoleh kemerdekaan, tetapi “… untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa…”, seperti yang terdapat dalam pembukaan UUD 1945.

Salah satu kunci untuk mencerdaskan bangsa adalah PENDIDIKAN. Namun, sudah menjadi rahasia umum bahwa pendidikan di negara kita masih ‘bermasalah’. Dan parahnya, kita hanya bisa mengeluh dan menyalahkan sekolah (sebagai penyelenggara pendidikan) dan pemerintah (yang mengatur kurikulum).

Pejuang Teknologi
Apakah bisa kita berjuang dengan teknologi? kenapa tidak?! Anggap saja pemerintah tidak mempedulikan pendidikan di negeri kita tercinta ini, maka akhirnya, kitalah yang harus memperhatikan dan mengembangkan dunia pendidikan.
Tidak perlu hal yang wah dan mewah. Yang namanya pejuang jaman dulu, berjuang apa adanya. Artinya, semua kemampuan dan harta yang ada dikorbankan demi sebuah ‘perjuangan’.

Saya akan menuliskan pengalaman seorang teman (sebut saja Fulan) yang ‘berjuang’ untuk sekolahnya. Fulan dan kawan-kawan menyumbangkan sebuah komputer Pentium II seharga kurang dari satu juta rupiah untuk diberikan ke perpustakaan sekolah. Program perpustakaannya dibuat sendiri. Meski tidak banyak pengalaman dalam mendevelop sistem, bukan menjadi halangan untuk sekedar ‘berpartisipasi’. Program yang dibuat dalam waktu sekitar 2 minggu, diimplementasikan pada komputer yang berbasis Windows 98 (maaf, kalau yang ini masih bajakan;)). Pihak sekolah menerima dengan senang hati, karena sekolah SD yang kecil dan minim fasilitas itu, pada akhirnya dapat ikut merasakan kemajuan teknologi.

Hmmm… kalau kita mau coba merenungi, bayangkan betapa besar efeknya. Sebuah SD kecil, yang boleh dibilang berada di pelosok, telah menggunakan komputer. Biaya yang dikeluarkan juga tidak terlalu besar, apalagi terdapat aplikasi yang didevelop sendiri dan berikan secara percuma.
Secara ‘tidak sengaja’ juga terjadi proses ‘pendidikan’ atau pengenalan teknologi. Anak-anak SD, langsung maupun tidak langsung, dikenalkan dengan komputer dan manfaatnya. Bisa juga, karena sekedar ketertarikan akan adanya komputer di perpustakaan, dapat meningkatkan jumlah kunjungan ke perpustakaan, dan manfaatnya, minat baca (diharapkan) semakin meningkat.
Bila sebuah SD kecil saja telah memikirkan dan menerapkan teknologi seperti ini, bagaimana dengan SD-SD yang lain, yang lebih ‘maju’ atau yang favorit.

seandainya, Fulan ada disetiap sekolah…
Fulan yang satu menyumbangkan skillnya untuk membangun aplikasi perpustakaan, aplikasi untuk manajemen sekolah, dan aplikasi sederhana lainnya. Fulan yang lainnya, mengumpulkan dana untuk membantu pengadaan komputer ’seadanya’. Fulan yang lain lagi menyumbangkan buku-buku bekas yang menumpuk di rak bukunya. Fulan yang berikutnya, paling tidak, memberikan semangat dan support pada Fulan-Fulan sebelumnya ;)

Jangan menjadi pejuang sesuap nasi, jadilah pejuang lintas generasi. Serbu…!!!

padi

Minggu Pahing, 28 Agustus 2005 @ 3:19 pm

Menanti Sebuah Jawaban - Padi

C G Am
aku tak bisa luluhkan hatimu
F C G
Dan aku tak bisa menyentuh cintamu
C G Am
seiring jejak kakiku bergetar
F C G
Aku tak terpagut oleh cintamu
C G Am
Menelusup hariku dengan harapan
F C G
Namun kau masih terdiam membisu

reff:
C Am
Sepenuhnya aku ingin memelukmu
Em G
Mendekap penuh harapan tuk mencintaimu
C Am
Setulusnya aku akan terus menunggu
Em G
Menanti sebuah jawaban tuk memilikimu

C G Am
Betapa pilunya rindu menusuk jiwaku
F C G
Semoga kau tau isi hatiku
C G Am
Dan seiring waktu yg terus berputar
F C G
Aku masih terhanyut dalam mimpiku

repeat reff

aku tak bisa luluhkan hatimu
dan aku tak bisa menyentuh cintamu

Popularity: 64%

Freelance Jobs

17 queries. 0,290 seconds. Didukung oleh WordPress

Loading