Masih hangat dalam pikiran kita peringatan HUT RI ke 60. Merayakan hari kemerdekaan dengan upacara dan berbagai macam lomba yang meriah dan berhadiah. Berapa banyak orang yang meramaikan? Berapa banyak uang yang telah dikeluarkan? Dan berapa banyak orang yang mencoba merenungi dan memikirkan hikmah perjuangan kakek buyut kita?
Berjuang bukan sekedar memperoleh kemerdekaan, tetapi “… untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa…”, seperti yang terdapat dalam pembukaan UUD 1945.
Salah satu kunci untuk mencerdaskan bangsa adalah PENDIDIKAN. Namun, sudah menjadi rahasia umum bahwa pendidikan di negara kita masih ‘bermasalah’. Dan parahnya, kita hanya bisa mengeluh dan menyalahkan sekolah (sebagai penyelenggara pendidikan) dan pemerintah (yang mengatur kurikulum).
Pejuang Teknologi
Apakah bisa kita berjuang dengan teknologi? kenapa tidak?! Anggap saja pemerintah tidak mempedulikan pendidikan di negeri kita tercinta ini, maka akhirnya, kitalah yang harus memperhatikan dan mengembangkan dunia pendidikan.
Tidak perlu hal yang wah dan mewah. Yang namanya pejuang jaman dulu, berjuang apa adanya. Artinya, semua kemampuan dan harta yang ada dikorbankan demi sebuah ‘perjuangan’.
Saya akan menuliskan pengalaman seorang teman (sebut saja Fulan) yang ‘berjuang’ untuk sekolahnya. Fulan dan kawan-kawan menyumbangkan sebuah komputer Pentium II seharga kurang dari satu juta rupiah untuk diberikan ke perpustakaan sekolah. Program perpustakaannya dibuat sendiri. Meski tidak banyak pengalaman dalam mendevelop sistem, bukan menjadi halangan untuk sekedar ‘berpartisipasi’. Program yang dibuat dalam waktu sekitar 2 minggu, diimplementasikan pada komputer yang berbasis Windows 98 (maaf, kalau yang ini masih bajakan;)). Pihak sekolah menerima dengan senang hati, karena sekolah SD yang kecil dan minim fasilitas itu, pada akhirnya dapat ikut merasakan kemajuan teknologi.
Hmmm… kalau kita mau coba merenungi, bayangkan betapa besar efeknya. Sebuah SD kecil, yang boleh dibilang berada di pelosok, telah menggunakan komputer. Biaya yang dikeluarkan juga tidak terlalu besar, apalagi terdapat aplikasi yang didevelop sendiri dan berikan secara percuma.
Secara ‘tidak sengaja’ juga terjadi proses ‘pendidikan’ atau pengenalan teknologi. Anak-anak SD, langsung maupun tidak langsung, dikenalkan dengan komputer dan manfaatnya. Bisa juga, karena sekedar ketertarikan akan adanya komputer di perpustakaan, dapat meningkatkan jumlah kunjungan ke perpustakaan, dan manfaatnya, minat baca (diharapkan) semakin meningkat.
Bila sebuah SD kecil saja telah memikirkan dan menerapkan teknologi seperti ini, bagaimana dengan SD-SD yang lain, yang lebih ‘maju’ atau yang favorit.
seandainya, Fulan ada disetiap sekolah…
Fulan yang satu menyumbangkan skillnya untuk membangun aplikasi perpustakaan, aplikasi untuk manajemen sekolah, dan aplikasi sederhana lainnya. Fulan yang lainnya, mengumpulkan dana untuk membantu pengadaan komputer ’seadanya’. Fulan yang lain lagi menyumbangkan buku-buku bekas yang menumpuk di rak bukunya. Fulan yang berikutnya, paling tidak, memberikan semangat dan support pada Fulan-Fulan sebelumnya
Jangan menjadi pejuang sesuap nasi, jadilah pejuang lintas generasi. Serbu…!!!