Buku itu tidak menambah ilmu

Kamis Legi, 23 Juni 2005 @ 1:15 pm Label:

“Kenapa kita sering gagal? karena kita jarang membaca”

Banyak buku yang kita baca, ternyata tidak banyak menambah ilmu. Tapi, buku-buku tersebut ‘hanya’ menguak potensi-potensi yang ada dalam diri kita, menyatukan dan mengolah ilmu-ilmu yang telah kita ketahui, membangkitkan semangat dan membuka kesadaran kita bahwa sebenarnya kita bisa.
Tidak jarang apa yang dituliskan dalam sebuah buku, pernah kita alami/lakukan, atau seolah-olah, buku itu menceritakan tentang pengalaman kita. Betul, nggak?

Buku membuka mata hati
Demikianlah buku, kalau kita merasa suntuk, kalau kita merasa tidak kreatif, kalau kita tidak bisa semangat dalam belajar, kalau kita tidak bisa bekerja atau berpikir dengan nyaman, banyak-banyaklah membaca buku.
Bukan untuk mempelajari ilmu-ilmu baru, tetapi, sekali lagi, menguak potensi dan kemampuan yang -sebenarnya- ada dalam diri kita.
Jangan terlalu banyak berharap Anda akan mendapat ilmu baru dari membaca buku. Tetapi berharaplah Anda menjadi diri Anda sendiri yang sejati, dengan potensi-potensi ‘baru’ yang bermunculan setelah membaca buku. Jadi, banyak-banyaklah membaca buku.

Membaca dengan bijak
Dari sebuah buku, terkadang kita akan memetik sebuah pelajaran, bahwa ternyata apa yang saya lakukan selama ini benar, atau malah, salah gak karu-karuan sehingga kita sering kacau.

Dan perlu diingat bahwa, tidak semua yang tertulis dalam sebuah buku pasti benar. Buku itu ditulis oleh manusia, dan idealnya, berasal dari pemikiran pribadi si penulis. Yang namanya manusia, pasti ada khilafnya. Jadi kita harus pandai-pandai memilah dan mencerna isi sebuah buku agar, sekali lagi, dapat menguak dan melejitkan potensi kita, tetapi tidak membuat kita tersesat.

Apakah sama sekali tidak ada ilmu baru?
Kalau istilah “ilmu baru”, menurut saya, tidak pernah ada ilmu baru. Semua ilmu telah diciptakan oleh Tuhan sejak dulu. Tinggal bagaimana umatnya dapat menguak dan menggali ilmu-ilmu tersebut.
Yang ada hanya pengetahuan kita tentang sebuah ilmu, yang baru saja kita pelajari di sekolah, baru saja kita diskusikan di warung kopi, atau baru saja kita baca di internet, dan lain sebagainya.

Sampai disini mungkin ada yang mempertanyakan: “bagaimana dengan buku pengetahuan tentang ilmu pasti?”, jawabannya tetap: “buku itu tidak menambah ilmu”.

Mari kita menggali dan melejitkan potensi diri melalui -salah satunya- buku.

Pepatah Arab

Kamis Legi, 23 Juni 2005 @ 1:14 pm

“utlubul ‘ilma walaubits tsin”

“Khoirul jaalisi fizzamanil kitab”

“al ‘ilmu bilaa ‘amalin kas sajarin bilaa tsamarin”

Yang paling aku ingat dari masa kecil dan tetep terbawa sampai sekarang adalah pepatah-petah arab diatas. Pepatah-pepatah itu diajarkan oleh orangtuaku, secara tidak langsung. Ceritanya, waktu kelas 3 SD, aku pindah sekolah dari kota ke desa, karena ayahku pindah tugas.
Akupun disekolahkan di madrasah (sekolah sore), langsung ke kelas 2. Beberapa bulan setelah ikut sekolah madrasah, aku didaftarkan lomba pidato (mukhadloroh) yang diselenggarakan sekolah itu sendiri. Nah lo… masih kecil, gak tau banyak ilmu agama, kok disuruh ‘nggacor’. Ibu, yang mendaftarkan aku ikut lomba, malah yang bersemangat. Semua konsep ‘pidato’ dibuat oleh ibu.
Akhirnya, demi menuruti keinginan ibunda tersayang yang suka mukul pakai sandal, sekaligus agak PD sebagai ‘mantan’ anak kota, aku maju sebagai peserta lomba. Konsep/naskah pidato sebanyak 3 halaman buku kecil yang aku hapalkan selama 3 hari aku bawa saat berdiri di depan. Dan alhamdulillah, meski sebagai peserta paling kecil (kebanyakan dari kelas 4 sampai 6), aku mendapat juara tiga dan mendapat hadiah buku dan pensil. Kalau mungkin naskahnya cuman satu lembar dan dihapal dalam satu hari, bisa jadi juara satu… hehehe…. ***membacapola***

Sekarang aku sudah tidak hapal naskah pidato itu secara lengkap, tetapi bunyi dan urut-urutan pepatah arab yang ada dalam naskah tersebut bener-bener aku ingat.

1. Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri China.
2. Sebaik teman duduk dalam setiap waktu adalah kitab (buku).
3. Ilmu yang tidak diamalkan ibarat pohon yang tidak berbuah.

Itulah tiga pepatah arab yang secara tidak langsung diajarkan dan dibekalkan oleh orangtuaku. Tidak ada lagi pelajaran semacam itu diberikan orang tuaku, karena tiga tahun kemudian aku harus menjalankan pepatah yang pertama.

Ketika aku masih kecil

Kamis Legi, 23 Juni 2005 @ 1:13 pm

Yang namanya anak kampung jaman dulu, gak ada kegiatan yang aneh-aneh selain sekolah, mengaji, dan bermain. Televisi? paling-paling cuman TVRI… dan itupun jarang sekali ada tayangan yang menarik, sehingga membuat kita alergi televisi D (Sekarang: kartun, sinetron, reality show, etc)

Trus waktunya dihabiskan untuk apa? pagi sampai siang jam 12-an sekolah, jam 2 siang sudah harus kembali lagi ke sekolah, Madrosatun ;) , sampe jam 4 sore.
(Sekarang: ekskul, atau televisi… pilih mana?!)

Menjelang maghrib, atau sesudah isya’, waktunya bermain. Petak umpet, gobak sodor, kelereng, lompat tali, dan permainan-permainan lainnya (aku lupa nama permainannya). Yang jelas, permainan jaman dulu melibatkan gerak tubuh dan kebersamaan dengan biaya murah meriah (kalau tidak boleh dibilang gratis).
(Sekarang: internet, PS2/XBox, Timezone, etc)

Belajar? ah… kadang-kadang aja, atau karena terpaksa, nunggu dicari-cari orang tua sambil bawa pentungan dari gagang sapu, atau alat pukul seadanya… sandal jepit!!!
(Sekarang: banyak orang tua yang sibuk cari duit, lupa anaknya)

Sekolah madrasah atau mengaji bukanlah hal yang istimewa, tapi -mungkin- sudah tradisi. Apalagi biayanya tidak mahal, dan lebih sering gratis, artinya, banyak yang tidak membayar.
(Sekarang: masih ada gak, ya?)

Kira-kira kalau aku nanti sudah punya anak atau cucu… seperti apa ya???

english

Kamis Legi, 23 Juni 2005 @ 4:16 am

i not can write language english. But i am sure, many people (Indonesian) can read this.

I can read, but i can’t write.

If you still continue read this… are you crazy???

SMS 160

Rabu Kliwon, 22 Juni 2005 @ 9:17 am Label:

Kenapa pesan SMS dibatasi sampai dengan 160 karakter? karena, memudahkan kita menulis pesan SMS secara lengkap dan jelas, seperti halnya Anda membaca pesan ini.

21 queries. 0,282 seconds. Didukung oleh WordPress