Jangan suka mengikuti trend
Jangan suka mengikuti trend, meskipun itu trend yang baik. Jangan suka mengikuti trend, sampai kita memahami apa maksud dan tujuan trend tersebut.
Kebiasaan orang Indonesia, suka ikutan trend, suka latah. Saya tidak ingin menjadi ‘orang Indonesia’.
Namun terkadang juga, ada trend, yang ketika saya pahami, ketika saya pelajari, akhirnya saya juga kecantol dengan trend tersebut. Tetapi yang lebih sering; saya melihat, saya mempelajari, dan saya menyenangi ’sesuatu’, yang tanpa saya sadari bahwa itu adalah trend. It’s OK, karena tetap dalam prinsip, saya suka bukan karena trend, tetapi karena tahu.
Mungkin bisa dianalogikan dengan cerita seperti ini. Suatu saat, Fulan pernah berpikir, berhitung, bermain, atau apapun prosesnya, sampai akhirnya Fulan ‘MENEMUKAN’ suatu hal baru (seperti seorang penemu). Tetapi, beberapa saat setelah itu, Fulan baru menyadari bahwa ternyata penemuannya itu, telah ‘juga’ ditemukan orang lain, bahkan sampai di-paten-kan atau paling tidak, orang tersebut menjadi lebih terkenal.
Apakah dengan demikian Fulan bukan seorang penemu? Tentu tidak. Fulan tetap menjadi seorang penemu. Tidak perlu dia ceritakan, tidak perlu dia patenkan, tidak perlu dia sebar-sebarkan bahwa Fulan juga seorang penemu.
Fulan hanya kalau usia, kalah waktu, kalah tempat, kalah kepercayaan. Tapi tenang saja, Fulan telah memenangkan sebuah ilmu, yang harganya jauh lebih mahal dari sekedar ketenaran, maupun royalty. Sekarang, hidup Fulan tenang karena telah mempunyai ilmu dan bisa membagi-bagikan kepada kerabat, teman, dan lingkungannya (paling tidak).
Kembali ke masalah trend, sebaik apapun trend itu, kalau kita hanya sekedar mengikuti tanpa pernah berusaha memahami dan me’rasa’kan, kita hanyalah menjadi bebek, yang selalu menurut bila digiring ke kiri… digiring ke kanan… Kalau bisa, jadilah si gembala, yang bisa menggiring ke kiri dan ke kanan, TETAPI menuju sawah ladang yang penuh makanan, JANGAN dibawa ke comberan!!!
Jumlah kata ‘trend’ ada 12, dari 294 kata yang ada dalam tulisan ini.


~~
Kebiasaan orang Indonesia, suka ikutan trend, suka latah. Saya tidak ingin menjadi ‘orang Indonesia’.
~~
Wiii, satu orang dah mendeklarasikan diri. Yang lain mana?
Ngikut TREND ada baik ada nggak nya si, baik menurut pebisnis yg pinter nyari peluang, gak baik bagi yang terlalu maksa ngikut TREND padahal kyk tadi bebek, wek wek wek… he he he
Komentar oleh nike — Juli 1, 2005 @ 9:54 am
pebisnis ngikuti TREND??? sama aja bebek…
kalau menurutku, yang tepat, pebisnis membaca trend untuk membuat inovasi baru… itu baru namanya pebisnis tulen…
Komentar oleh MBro — Juli 1, 2005 @ 2:16 pm
nunut komen ru …
—
Kembali ke masalah trend, sebaik apapun trend itu, kalau kita hanya sekedar mengikuti tanpa pernah berusaha memahami dan me’rasa’kan, kita hanyalah menjadi bebek, yang selalu menurut bila digiring ke kiri… digiring ke kanan… Kalau bisa, jadilah si gembala, yang bisa menggiring ke kiri dan ke kanan, TETAPI menuju sawah ladang yang penuh makanan, JANGAN dibawa ke comberan!!!
—
pada saat semua komunitas di sekitar kita menjadi bebek-bebek, apa kita nggak jadi yang paling “beda” kalo maksa jadi si gembala, belum lagi dengan status bahwa gembala bebek harus ada di posisi paling belakang.
pertanyaannya jadi begini, apa kita siap ?
siap mental, siap berdiri di posisi paling belakang, siap untuk bakal nggak nge-trend, siap untuk nggak terkenal, siap untuk dibilang aneh …. dan siap.. siap… yang lain yang secara dominan (menurut ideologi materialis, kapitalis, dan ..is ..is yang lain yang lagi trend sekarang) dianggap suatu hal yang merugikan.
jadi kalo aku pikir mending sebelum milih mau jadi yang mana, kita harus pertimbangkan dulu menurut kemampuan dan kesiapan kita masing-masing.
atau… jangan-jangan… ente suka main dari belakang ya MBro …. ? ups…, bukan anal-logi loh maksudnya, hhmm.. mungkin jadi background process lah kalo secara komputernya…
sori MBro, yang itu tadi becanda kok hehehe …
Komentar oleh watonist — Juli 6, 2005 @ 2:25 am
#3:
emang dari dulu saya lebih suka bekerja dibelakang layar, seperti Sengkuni, tapi yang baik hati
Bukan berarti berdiri dibelakang, adalah orang yang ketinggalan. Tutwuri Handayani. Sedangkan yang saya maksud gembala, bukan berarti ‘dibelakang’, melainkan pengendali.
Arahkan, atur, dan ajak bebek-bebek itu ke arah yang benar. Jangan dibawa ke trend yang pada umumnya cenderung merusak.
piye?
Komentar oleh MBro — Juli 6, 2005 @ 2:32 pm
#4:
), lanjut ke topik lain aja ya MBro(tak tunggu loh).
–
emang dari dulu saya lebih suka bekerja dibelakang layar, seperti Sengkuni, tapi yang baik hati
–
kalo aku lebih suka jadi penyeimbang aja (setidaknya berusaha) :D, karena aku suka ungkapan bahwa sesuatu yang terlalu itu tidak baik (gitu lah kira-kira, nggak hapal sih), baik yang terlalu baik (kelihatannya) maupun terlalu buruk. contohnya seperti dalam ungkapan “sesuatu yang terlalu sempurna itu menjadi tidak sempurna”. mungkin kelihatannya jadi seperti menentang segala sesuatu yang sudah ada, tapi suer bukan gitu maksudnya, gw hanya mau nunjukin satu sisi pandang lain yang paling bertolak belakang dari hal tersebut, sehingga harapannya akan muncul sesuatu yang seimbang (dari hasil friksi-friksi, muncullah kompromi-kompromi dari dua hal tadi).
–
Bukan berarti berdiri dibelakang, adalah orang yang ketinggalan. Tutwuri Handayani.
–
memang bukan, bukan itu juga maksud gw.
maksud gw adalah jangan sampai karena elo kritik malah jadinya muncul trend untuk tidak ikut trend untuk tidak ikut trend untuk tidak ikut trend…. hahaha… lhaa… kok malah rekusif. :D, toh akhirnya jadi sama “ngikut”(baca : ikut-ikutan, red.) trend juga.
kalo aku lebih setuju tentang pendapat loe agar kita mengerti tentang apa yang kita kerjakan, tentang apa yang kita ikuti, tentang apa yang kita pilih, terlepas bahwa itu sedang trend atau nggak.
seperti kata einstein : belajar dengan contoh bukan salah satu cara belajar, melainkan satu-satunya cara belajar (sialan, gw jadi ngikut trend deh, hihihihi…..:)) ).
so, kita bisa aja mengambil trend sebagai salah satu proses pembelajaran (baca : mempelajari dan mengerti, red.), maksudnya “belum tentu” (parameterize, can be yes or no) mengikuti loh.
penekanannya adalah jangan sampai kita menyesali keputusan kita sendiri kelak, trus bagaimana agar nggak menyesal ? jawabannya adalah “siap”, trus bagaimana agar siap ? jawabannya balik lagi “mengerti”, dengan mengerti kita siap dengan resiko pilihan yang kita ambil.
kembali ke bahasan posisi(belakang or depan or else), mungkin ada benarnya idiom “posisi menentukan prestasi”, tapi … “yaa.. gitu deh” (jane rodo’ gilo aku ukoro ngene iki, tapi gaul ik heheheh…
ngomong-ngomong masalah “Tut Wuri Handayani”, jadi inget sambungannya, ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.
posisi -> aksi/fungsi
ing ngarso(di depan) -> sung tulodho(memberi contoh, mengarahkan)
ing madyo(di tengah) -> mangun karso(membangun semangat, kemauan)
tut wuri(di belakang) -> handayani(memberi tenaga, i mean “dukungan”)
ini rumus yang udah fix atau masih bisa “di othak-athik” nggak yah ? (tak tunggu nang next topic ae MBro, dah terlalu nyimpang kayaknya)
FTT (for this topic ;D ) : udah hampir balance nih, terusin MBro.
OOT : iki wis balik nang suroboyo tah MBro ?
Komentar oleh watonist — Juli 6, 2005 @ 6:52 pm
#5:
, toh akhirnya jadi sama “ngikut”(baca : ikut-ikutan, red.) trend juga.

—-
maksud gw adalah jangan sampai karena elo kritik malah jadinya muncul trend untuk tidak ikut trend untuk tidak ikut trend untuk tidak ikut trend…. hahaha… lhaa… kok malah rekusif.
—-
nah itu… kita harus punya PRINSIP!!!!
—-
belajar dengan contoh bukan salah satu cara belajar, melainkan satu-satunya cara belajar
—-
koyo’e yo tau moco iki aku
—-
ini rumus yang udah fix atau masih bisa “di othak-athik” nggak yah ? (tak tunggu nang next topic ae MBro, dah terlalu nyimpang kayaknya)
—-
gak ada yang ngelarang kalau mau ngotak-atik. Aku lebih suka, seandainya ada yang mau otak-atik, berarti orang itu tidak pasrah, dan nerimo begitu saja.
—-
OOT : iki wis balik nang suroboyo tah MBro ?
—-
sik disini. Pulangnya ditunda minggu depan
Komentar oleh MBro — Juli 7, 2005 @ 7:11 pm
[…] ualangan Wana dan Kotak Ajaibnya Berakhir di Bui adalah salah satu contoh akibat mengikuti trend. Tanpa mau banyak berpikir, selama kita bisa mendapatkan sesuatu de […]
Ping balik oleh belajar tanpa batas » Blog Archive » Mengikuti Trend: Gejala Orang Sakit? — Agustus 15, 2005 @ 12:55 pm