Format Buku

Sabtu Pon, 1 Januari 2005 @ 11:57 am Label:

Dengan memanfaatkan fasilitas yang sudah disedikan MS-Word 2003, kita dapat membuat ‘buku?’ untuk dicetak sendiri dengan mudah.
Buku yang dimaksud disini adalah yang berbentuk sebuah buku yang di ’staples’ tengahnya (nggak tahu istilahnya), dan dicetak bolak-balik dalam kertas A4. Biasanya untuk membuat buku model ini, akan muncul permasalahan dalam menentukan urutan halaman atau menentukan bagian depan atau belakang, dan seterusnya.

Dengan fasilitas MS-Word 2003, kita hanya perlu melakukan sedikit setting dengan mudah. Langkah-langkahnya adalah:

1. Buat dokumen baru, kemudian buka setting halaman. (File -> Page Setup)
2. Tentukan ukuran kertas yang akan digunakan. Pilih tab Paper dan isikan Paper Size dengan A4.
3. Pilih tab Margins, kemudian pada group Pages, pilih Multiple Pages dengan isian Book fold
4. Isikan Sheet per booklet dengan Auto
5. Klik tombol OK, dan Anda sudah siap menuliskan isi bukunya. Mengenai pengaturan header, footer, nomor halaman, style, dan sebagainya, sama seperti pembuatan dokumen biasa.

Saya sertakan juga contoh dokumen Word untuk pembuatan buku ini. Hasil cetakannya dapat dilihat pada dokumen pdf (Saya gunakan fasiltas print to Adobe PDF). Langkah terakhir proses pencetakan adalah, cetak halaman ganjil lebih dulu (Odd Pages) kemudian cetak bagian genap (Even Pages) dibelakang masing-masing cetakan halaman ganjil dengan berurutan.

Belajar

Sabtu Pon, 1 Januari 2005 @ 11:50 am Label:

nggak tahu lagi bagaimana menjelaskan tentang belajar.
Mungkin kalimat-kalimat ini bisa memberikan pemahaman tentang belajar.

* Jangan takut salah, nggak ada noda ya nggak belajar.

* Belajarlah sampai ke negeri China, India, Mesir, dan lainnya.

* Tidak ada kata terlambat untuk belajar, yang ada itu MALAS.

* Setiap langkah hidup kita adalah pelajaran, maka belajarlah.

* Banyak belajar banyak lupa, sedikit belajar sedikit lupa, nggak belajar nggak ada lupa.

* Belajar sampai akhir hayat. Long Life Learning.

* Belajar bukan hanya membaca, tetapi mencoba dan memahami.

* Mengajar? itu sebenarnya juga belajar.

* Belajar = tahu, tahu = know, knowledge = pengetahuan, pengetahuan = ilmu, ilmu = pengalaman.

* Belajar itu tidak hanya sekolah atau membaca buku, lainnya adalah pengalaman.

* Sekolah saja tidak pernah cukup.

* Belajar adalah berani memulai, berani mencoba, berani mengamalkan.

* Jangan belajar kalau takut pintar.

* Berani nanya nggak, kalau nggak ngerti?

* Belajar tanpa guru itu menyesatkan.

* Belajar yang baik adalah dengan menuliskan? apa yang telah sedang dipelajari.

* Kata-kata berbicara, berdiri, berjalan, membaca, dan menulis pantas disandangkan dengan kata belajar. Dan bukan hanya untuk balita.

* Baru disebut tua, bila sudah tidak mau belajar.

Sajak Kekaguman

Sabtu Pon, 1 Januari 2005 @ 11:50 am Label:

Secarik kertas berurai kata
Isi hatiku didalamnya
Tuk katakan padanya,
Inilah wujud kekagumanku

Satu sisi yang kukagumi
Hingga tak ingin kupandang lain sisi
Obsesi menguasai diri
Fantasi menyakitkan hati
Indah memang dipandang
Yang ada hanya kekaguman.
Aku tahu itu hanya mimpi, tapi
Harus, aku harus bangun dari mimpi

Akan kutunggu jalannya waktu
Lambat cepat pasti mendekat
Hingga suatu saat…
Aku datang padamu, dan
Maukah kau jadi milikku?

Waktu

Sabtu Pon, 1 Januari 2005 @ 11:48 am Label:

Jaman Dulu
Negara atau kerajaan dianggap paling hebat bila mempunyai kekuasaan (wilayah?) yang luas sehingga untuk berkuasa harus mampu menaklukkan kekuasaan lainnya.
Pemimpinnya adalah orang yang paling hebat diantara penduduknya. Kehebatannya dinilai dari segi fisik seperti kekuatan, kesaktikan, keturunan, dsb.
Hanya diperlukan satu skill agar bisa hidup makmur, yaitu, kemampuan untuk ‘menjilat’ orang yang berkuasa.
Olahraga merupakan kegiatan fisik untuk menunjukkan rasa kebersamaan dan tentu saja menjaga kesehatan.

Jaman Sekarang
Luas wilayah suatu negara atau kerajaan bukan lagi menjadi tolak ukur. Dan negara yang dianggap hebat adalah negara dengan perekonomian mapan.
Pemimpinnya adalah orang yang pandai berpolitik seperti, tukang mbual, tukang lobi, tukang tipu, dsb.
Orang dapat hidup makmur karena kemampuannya sendiri, dia bisa bekerja, dia bisa berkarya, menjadi karyawan, bussiness owner, dsb.
Olah raga sudah menjadi mainan bisnis. Pemain-pemainnya menjadi produk dan komoditas bisnis.

Jaman Edan (???)
Wilayah hanyalah pembagian daerah administratif saja (pasar global). Sudah tidak ada lagi negara yang paling hebat, tetapi lebih cenderung ke kelompok yang paling hebat, atau lebih spesifik ke orang yang paling hebat.
Sudah tidak ada lagi pemimpin, yang ada hanyalah pejabat administratif yang bertugas mengurus keperluan-keperluan bisnis dan standard atau kesepakatan teknologi (seperti RFC, JSR, IEEE, dsb).
Yang menjadi pemimpin (meski tidak terlihat secara legal formal) adalah orang yang pandai berbisnis atau penguasa pasar, tentu saja dengan memanfaatkan teknologi informasi. Semua komponen sistem pakar dan sistem pendukung keputusan ada diruang kerjanya yang terletak disebelah kamar tidurnya.
Mungkinkah tidak adalagi pertandingan olah raga? karena semua orang dimanja. Mereka dapat bermain sendiri menggunakan Playstation, virtual reality dan mainan-mainan lainnya.
mbro140202

Makan Sate

Sabtu Pon, 1 Januari 2005 @ 11:44 am Label:

Remaja, pelajar, atau mahasiswa boleh dibilang kebanyakan mereka sebenarnya masih anak-anak, dalam hal belajar dan atau mempelajari sesuatu.

Pernah ada seorang anak kecil (usia sekitar 2-3 tahun) yang merengek-rengek ketika saudara-saudaranya yang lebih besar lagi asyik makan sate. Si kakak sebenarnya merasa kasihan melihat adik yang paling kecil tidak kebagian. Sebenarnya bukan masalah pedas-nya tetapi si kakak menganggap adiknya masih belum kuat mengunyah sate kambing yang terlalu alot itu.

Akhirnya si Ibu datang untuk menghentikan tangisan si kecil. Tahu kalau si bungsu ingin ikutan makan sate, Ibu mengambil satu tusuk sate kambing madura, dikunyahnya sampai halus (biar tidak tersedak), kemudian disuapkan ke mulut adik kecil yang imut itu.

Sebenarnya, ketika makanan dikunyah oleh sang Ibu, aroma dan rasa sate tersebut tentunya sudah berbeda dengan aslinya, yang begitu nikmat. Tapi apa daya, demi hanya sekedar ikut-ikutan makan sate, atau memenuhi keinginan yang tidak tepat (ingin makan sate tapi bukan untuk mendapatkan kenikmatannya), si kecil mau saja makan sate itu.

Tapi ketika 5 tahun kemudian dia sudah bisa mengunyah sendiri, kecewa juga rasanya dulu hanya menerima makanan yang sudah terkunyah. Padahalkan asyiknya makan sate itu kan saat mengunyah dan menjilati bumbunya )

Tapi sayangnya kita tidak pernah tumbuh dewasa, selalu menjadi seorang balita yang selalu menunggu makanan yang empuk, tidak berani untuk memakan yang lebih keras.

Kita terbiasa untuk menikmati hasil, tidak mengutamakan proses. Buruknya lagi, bagaimana prosesnya kita tidak pernah tahu (atau tidak mau tahu?) (

Padahal sekolah atau kuliah itu, kalau dapat menikmati proses belajarnya akan sangat terasa nikmat, bukannya cuman berorientasi dapat nilai bagus atau yang penting lulus. Meskipun tidak bisa lulus (karena alasan tertentu) tetapi karena kita menikmati prosesnya, hasilnya tentu akan berbeda.

Orang yang suka menunggu hasil tanpa mau menjalani proses, akan merugi. Rugi sekarang dan lebih-lebih lagi akan menyesal dikemudian hari )

Beruntunglah mereka yang suka makan sate. Tidak mau menerima begitu saja hasilnya.
mbro080304

19 queries. 0,257 seconds. Didukung oleh WordPress